Yadul ‘Ulya Sediakan Penawar Dahaga Perjalanan Musafir

0
20 views
Sambil Rehat Sejenak.

“Tersedia Kopi Beserta Makanan Ringan Gratis”

Garutnews ( Selasa, 19/01 – 2021 ).

Masjid Ponpes Yadul ‘Ulya Garut.

Pengelola Masjid Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut di Kampung Panawuan Sukajaya Tarogong Kidul, menyediakan penawar dahaga bagi musafir maupun kalangan petani yang kehausan saat melintasi Kampus Peradaban Tahfidz Qur’an tersebut.

Bahkan setiap harinya secara terus-menerus selama 24 jam disediakan pula kopi beserta makanan ringan gratis, sekaligus sebagai wahana rehat sejenak melepas lelah maupun kepenatan.

Kampus Peradaban Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut.

Upaya ini sebagai salah-satu wujud kepedulian sosial juga empati bagi siapa pun yang memerlukannya, termasuk para jamaah seusai menunaikan shalat Jum’at serta peserta kajian Islami.

Lembaga pendidikan Islami tersebut, juga selama ini senantiasa berupaya maksimal dan menyelenggarakan ragam penguatan kemandirian pangan.

Perikanan Air Tawar.

Di antaranya senantiasa mengembangkan produktivitas magot untuk pakan ternak maupun penyubur ragam jenis tanaman sayur-mayur serta tanaman pangan lainnya, pakan ikan air tawar, peternakan ayam dan bebek.

Ragam upaya itu guna menunjang pula pemenuhan produk konsumsi pesantren, bahkan jika berlebih dipasarkan kepada konsumen umum.

Disediakan pula dapur umum, yang memenuhi persyaratan kebersihan serta kesehatan dengan sirkulasi udara yang memadai.

Menuai.

“Munajat Penyempurna Ikhtiar”

Munajat kepada Allah SWT menjadi penyempurna ikhtiar agar pandemi ini segera berakhir.

OLEH INAYATULLAH HASYIM

Bangsa Indonesia telah memulai vaksin nasional pada 13 Januari lalu. Inilah ikhtiar kita bersama untuk mengakhiri pandemi. Berdasarkan data WHO, sampai 16 Januari 2021, Covid-19 telah menyebabkan lebih dari 2 juta orang meninggal dunia.

Penguatan Ketahanan Pangan.

Selain vaksin dan menjaga 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menghindari kerumunan), kita seharusnya menambah satu M lagi. Yaitu “munajat” kepada Allah SWT agar pandemi ini segera berakhir.

Sebagai teladan, Rasulullah SAW telah mencontohkan bagaimana beliau SAW mengisi waktu malamnya dengan qiyamul-lail sebagai persiapan menerima tugas-tugas kenabian. Bukankah Allah SWT berfirman, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.” (QS al-Muzammil: 1-3).

Dapur Umum.

Karena itu, ulama mengatakan, shalat malam atau qiyamul lail hukumnya wajib bagi Rasulullah SAW, tapi tidak bagi umatnya. Maka, menjelang Perang Badar pun, Rasulullah SAW menghabiskan malam dengan bermunajat. Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Malam itu aku melihat Rasulullah terjaga, menangis dalam shalat doanya.”

Namun, Allah tidak memerintahkan kita terus terjaga sepanjang malam. Sebab, Islam adalah agama fitrah yang menjaga keseimbangan kesehatan. Bukankah dalam ayat lain, Allah SWT menegaskan bahwa Dia telah jadikan tidur sebagai istirahat, dan malam sebagai selimutnya.

Kesibukan di Dapur Umum.

Ketika ada tiga sahabat yang saling berjanji untuk tidak tidur, tidak berbuka puasa dan tidak menikah semata hanya untuk fokus beribadah, Rasulullah SAW berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling takwa kepada-Nya dibandingkan kalian semua. Akan tetapi, aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat malam dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita.”

Karena itu, saat asyik terlelap dalam tidurmu itu, berusahalah untuk bangun. Curilah pengujung waktu malammu untuk merengek dalam doa. Sebab, itulah waktu terindah untuk bermunajat. Demikianlah dijelaskan oleh Rasulullah SAW ketika ditanya seorang sahabat, doa di waktu apa yang paling didengar Allah? Beliau SAW menjawab, “Pada pengujung malam.”

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Hamba yang paling dicintai Allah adalah adalah dia yang paling banyak meminta kepada-Nya, merasa selalu membutuhkan-Nya. (Ketahuilah), sungguh Allah mencintai orang-orang yang merengek dalam doanya, dan semakin seorang hamba merengek dalam meminta pada-Nya, semakin dia dicintai-Nya, semakin didekati-Nya dan (pasti) dijawab (segala permintaannya itu) oleh Allah SWT.”

Mengapa demikian istimewa shalat pada waktu malam itu? Sebab, ia melatih kita untuk jauh dari sifat riya, pamer, dan sombong. Maka, seakan menyindir bagi yang riya, Imam Ibnul Qayyim mengingatkan lagi. Katanya, “Bahwa engkau tertidur di malam hari dan menyesal di pagi hari (karena tak terbangun shalat malam) adalah lebih baik daripada engkau shalat di malam hari dan menjadi sombong (karena shalat malammu itu) di pagi hari.”

Wallahu a’lam bissawab. (Republika.co.id).

*******

Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here