Yadul ‘Ulya Rangkul Uniga Tingkatkan LPE Pertanian

0
70 views
Universitas Garut.
Kampus Peradaban Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut.

“Dijajaki Kesepahaman Kajian Agroteknologi”

Garutnews ( Kamis, 01/04 – 2021 ).

Ponpes/Kuttab Modern Digital Yadul ‘Ulya di Kampung Panawuan Kelurahan Sukajaya Tarogong Kidul ‘merangkul’ Universitas Garut guna memberikan sumbangsih akselerasi kualitas peningkatan ‘Laju Pertumbuhan Ekonomi’ (LPE) sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Sehingga Ketua Yayasan Tahfidz Garut, Ust. M. Angga Tirta bersama delegasi Pengelola Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya menjalin silaturahim dengan Ketua Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian UNIGA, Siti Syarah Maesyaroh, SP., MP.

Siti Syarah Maesyaroh, SP., MP.

Helatan yang berlangsung di Aula Prodi Agroteknologi, Kamis (01/04-2021) tersebut, fokus membahas kemungkinan bisa terjalinnya nota kesepahaman maupun ‘Memorandum of Understanding’ (MoU) antar kedua lembaga pendidikan ini.

Di antaranya kerjasama mengenai terealisasinya ‘kajian’ mewujudkan ekspektasi dimilikinya pengetahuan dasar pertanian bagi setiap seluruh pengelola, juga para santri Ponpes Yadul ‘Ulya Garut.

Jajaki Kerjasama.

Terdiri pengetahuan mendasari dan dimanfaatkan dalam memelajari ilmu pertanahan khususnya keagroteknologian meliputi  biologi dasar, kimia dasar, fisika dasar, matematika, botani umum, pengantar ilmu pertanian, dan aplikasi komputer.

Serta kajian budidaya tanaman meliputi pengetahuan  budidaya dan proses produksi tanaman pertanian  (organisme penghasil pangan/non ternak), dan turunannya juga meliputi prinsip agriteknologi, teknologi benih, pembiakan vegetatif, produksi tanaman pangan sayuran, dan jamur konsumsi.

Penerimaan Santri Kuttab.

Termasuk kultur jaringan, mekanisasi pertanian, produksi tanaman hortikultur, dan perkebunan kopi,  produksi tanaman rempah serta obat.

Siti Syarah Maesyaroh mengapresiasi sangat positif terhadap gagasan orsinil lembaga pendidikan Tahfidz itu, dan antara lain katakan jajarannya pun segera meninjau langsung Agro Park Ponpes Yadul ‘Ulya.

Sedangkan mengenai detail rancangan nota kesepahaman tersebut, bisa diawali penyusunannya oleh pihak Ponpes, guna dibahas bersama oleh kedua pihak kemudian disepakati bersama melalui MoU, imbuh Syarah Maesyaroh .

Bisa Akiqah di Ponpes Yadul ‘Ulya Garut.

“Kami sangat mengapresiasi positif, lantaran fenomena ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat,” katanya.

Ust. M. Angga Tirta juga mengemukakan obsesinya mewujudkan harapan besar menjadi kenyataan kemandirian ketahanan pangan yang paripurna di lingkungan pesantren, sekaligus bisa memberikan sumbangsih bagi peningkatan PDRB sektor pertanian.

Dapur Umum Santri Ponpes Yadul ‘Ulya Garut.

“Melorot Minus 6,28 Persen

Sebab berdasar data dan informasi berhasil dihimpun Garutnews menunjukan, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Merupakan salahsatu dari 17 sektor maupun lapangan usaha yang sangat prosfektif di Kabupaten Garut.

Namun pada 2020 laju pertumbuhan PDB/LPE nya terjun bebas atau 0,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya (2019) masih bisa bertengger pada 1,41 persen.

Sedangkan pada 2018 (2,21 persen), 2017 (2,32 persen), dan pada 2016 (4,54 persen). Laju pertumbuhan berfluktuatif ini cenderung terus ‘melorot’. 

“Maka logis jika pihak pondok pesantren pun, memiliki keinginan memberikan sumbangsih peningkatan LPE sektor pertanian dengan merangkul sumber daya civitas akademika UNIGA,” imbuh Ust. M. Angga Tirta pula, menambahkan.

Apalagi juga berobsesi menerapkan pengendalian hama terpadu, maksimal memanfaatkan pupuk organik, serta penata laksanaan usaha pertanian yang tak hanya profit oriented, melainkan juga bernilai benefide yang ramah lingkungan.

Garutnews juga melaporkan selisih LPE kabupaten setempat 2020 berkondisi minus 6,28 persen. Lantaran pada 2019 silam 5,02 persen kemudian 2020 menjadi berminus 1,26 persen.

Laju pertumbuhan PDRB 5,02 persen pada 2019 tersebut bernilai riel Rp39.092.490.000.000,- Sedangkan minus 1,26 persen (2020) nilai rielnya Rp38.598.150.000.000,-

“Sehingga selisih nilai riel itu mencapai minus 6,28 persen bernilai Rp494.340.000.000,” ungkap sumber Garutnews belum lama ini.

Laju PDRB yang tidak melaju tersebut, atas dasar harga konstan 2010 menurut lapangan usaha di kabupaten ini (persen), 2016-2019.

Ada 17 sektor maupun lapangan usaha yang pada 2020 hanya informasi dan komunikasi menunjukan percepatan sangat positif atau ‘spektakuler’ dari 3,91 persen (Rp1.204.150.000.000) di 2019.

Menjadi 23,15 persen (Rp1.482.960.000.000) pada 2020. Sehingga selisih laju pertumbuhannya mencapai 19,24 persen bernilai riel Rp278.810.000.000,-

*****

Esay/Fotografer : Abah John.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here