Yadul ‘Ulya Maksimal Manfaatkan Setiap Jengkal Tanah

Yadul ‘Ulya Maksimal Manfaatkan Setiap Jengkal Tanah

238
0
SHARE
Kampus Peradaban Pesantren Tahfidz Yadul 'Ulya.
Maksimal Memanfaatkan Setiap Jengkal Tanah.

“Upaya Penguatan Ketahanan Pangan”

Garutnews ( Ahad, 26/02 – 2022 ).

Kampus Peradaban Tahfidz pada Pesantren Yadul ‘Ulya Garut memanfaatkan setiap jengkal tanah di kawasan lembaga pendidikan keagamaan tersebut.

Di antaranya dengan penanaman jenis sayuran labu bertumpangsari burcoli di atas tanah sekitar 2.800 m2 (200 tumbak), yang dipastikan bernilai ekonomi prospektif bahkan bisa menembus banyak pangsa pasar.

Ini sebagai upaya penunjang penguatan ketahanan pangan sekaligus tentunya guna menggeliatkan denyut nadi kemandirian pesantren itu.

Bergegas Gerakkan Denyut Perekonomian.

Kita Lemah Lindungi Sawah

Menyusul dalam peta LSD (Lahan Sawah yang Dilindungi) di delapan provinsi utama, wilayah yang tervalidasi kehilangan sawah terbesar pada 2019-2021 adalah Jawa Barat (50 ribu hektare).

Jawa Tengah (32 ribu hektare), Jawa Timur (21 ribu hektare), dan Banten (19 ribu hektare).

Jawa yang sejak awal adalah lumbung pangan nasional dengan intensitas tenaga kerja yang tinggi, semakin terdesak oleh industrialisasi dan urbanisasi.

Bahkan di Kab Garut, yang diklaim lahan sawahnya meningkat 2,02 persen per tahun dari LBS (Lahan Baku Sawah) 2019, dalam rentang 2012-2017 ternyata lahan sawahnya menyusut 0,85 persen per tahun.

Pendekatan liberal yang dominan dalam kebijakan pangan saat ini, yang menitikberatkan pada peningkatan produksi pangan dengan memberi prioritas pada food enterprises dan akses ke pasar pangan global melalui impor pangan, telah mendorong hilangnya sawah dan pertanian skala kecil di Jawa dan berganti dengan sawah dengan pertanian skala besar ala food estate di luar Jawa.

Kebijakan ini salah arah dan berisiko tinggi terhadap ketahanan pangan nasional, kemiskinan, dan kesenjangan ekonomi.

Arah kebijakan seharusnya adalah mempertahankan sawah dan pertanian skala kecil di Jawa, pengembangan usaha pertanian pangan berbasis keluarga (family farming), serta akses ke pangan segar dan terjangkau melalui lumbung pangan lokal, serta menjamin kelancaran arus distribusi pangan desa-kota

******

Republika/ Direktur IDEAS; MELI TRIANA DEVI, Peneliti IDEAS (Institute For Demographic and Poverty Studies).

/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY