Warga Miskin Mekarmukti Hanya Berpenghasilan Maksimal Rp36.000

0
18 views
Pengrajin Gula Aren Berpenghasilan 'Cekak' di Kecamatan Mekarmukti Garut.
Pengrajin Gula Aren Berpenghasilan ‘Cekak’ di Kecamatan Mekarmukti Garut.

“Kedalaman, dan Keparahan Kemiskinan”

Garutnews ( Ahad, 09/01 – 2022 ).

Amir (56) warga miskin di Kampung Pasir Enteung Desa/Kecamatan Mekarmukti, sekitar 83 kilometer arah selatan dari pusat Kota Garut. Selama ini hanya mampu  berpenghasilan maksimal Rp36.000 setiap hari.

Namun kerap tak bisa mencapai Rp36.000 lantaran acap kesulitan mendapatkan bahan baku pembuatan gula aren berupa nira, yang dihasilkan dari batang tandan buah pohon enau.

Sehingga pengrajin gula merah ini, terpaksa sering mengalami kekurangan produksi dari tiga kilogram gula aren saban harinya menjadi dua kilogram, bahkan hanya dapat memproduksi satu kilogram.

Pengrajin Gula Aren Berpenghasilan ‘Cekak’ di Kecamatan Mekarmukti Garut.

“Padahal nilai jual mata dagangannya itu Rp12.000 per kilogram, yang selama ini pula dimanfaatkan guna memenuhi kebutuhan pokok keluarga terdiri istri beserta tiga anak,” ungkap Amir kepada Garutnews di Mekarmukti, Ahad (09/01-2022).

Kondisi sosial ekonomi dialami Amir tersebut, merupakan salahsatu penduduk Kabupaten Garut berpengeluaran per kapita/bulan di bawah garis kemiskinan, yang meningkat sekitar 18,58 ribu orang dari 262,78 ribu pada 2020 menjadi 281,36 ribu (2021).

“Sehingga persentase penduduk miskinnya pun meningkat 0,67 persen dari 9,98 persen pada 2020 menjadi 10,65 persen pada 2021,” demikian menu Berita Resmi Statistik yang disajikan BPS kabupaten setempat.

Sedangkan ‘Garis Kemiskinan’ (GK) kabupaten ini juga mengalami peningkatan 3,10 persen dari Rp310.437 per kapita/bulan menjadi Rp320.050 per kapita/bulan.

Kemudian indeks ‘Kedalaman Kemiskinan’ (P1) naik dari 0,97 menjadi 1,40 atau naik mencapai 0,43 poin. Serta indeks ‘Keparahan Kemiskinan’ (P2) naik pula dari 0,15 menjadi 0,29 maupun naik mencapai 0,14 poin.

Peningkatan jumlah penduduk miskin yang terbesar terjadi pada 2020 mencapai 27,59 ribu orang dibandingkan 2019. Pada 2021 jumlah penduduk miskin meningkat 18,58 ribu dibandingkan 2020.

Lantaran masih dipicu oleh banyaknya pengangguran akibat PHK, dan berhentinya sebagian usaha serta susahnya mencari pekerjaan sebab adanya pandemi covid-19.

“Kedalaman, dan Keparahan Kemiskinan”

Persoalan kemiskinan tak hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Melainkan ada dimensi lain yang perlu diperhatikan, berupa tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.

Indeks kedalaman kemiskinan itu, ukuran rata-rata kesejangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Sedangkan indeks keparahan kemiskinan memberikan gambaran penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin.

Maka selain menurunkan jumlah penduduk miskin, juga diharapkan kebijakan kemiskinan mampu menurunkan kedalaman, dan keparahan kemiskinan.

Pada 2020 indeks (P1) dan indeks (P2) mengalami kenaikan. Perubahan nilai kedua indeks ini menunjukkan rata-rata pengeluaran penduduk miskin lebih rendah dibandingkan dengan peningkatan GK.

Dan kesenjangan pengeluaran antar penduduk miskin juga semakin lebar. Angka P1 naik dari 0,97 menjadi 1,40 serta angka P2 naik dari 0,15 menjadi 0,29.

*****

Esay/ Fotografer : JDH.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here