Tantangan Memakmurkan Masjid di Masa Pandemi

Tantangan Memakmurkan Masjid di Masa Pandemi

219
0
SHARE
Bergegas Datangi Masjid Ponpes/Kuttab Yadul 'Ulya Garut.

Sabtu 25 Dec 2021 02:24 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Muhammad Hafil

Kembangkan Peradaban Berkemajuan di Masjid Yadul ‘Ulya Garut.

Kegiatan masjid terdampak selama pandemi”

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA — Hampir dua tahun pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak. Begitu pun dengan kegiatan-kegiatan di lingkungan masjid yang sangat terdampak selama pandemi.

Pembatasan jumlah jamaah yang melakukan ibadah hingga penutupan masjid sempat dilakukan saat terjadinya lonjakan kasus Covid-19. Saat ini, kasus Covid-19 sudah landai dan kegiatan di masjid pun mulai berangsur kembali seperti sebelum pandemi, meskipun masih ada pembatasan-pembatasan yang diiringi dengan protokol kesehatan (prokes) ketat.

Melihat kondisi ini, Republika pun menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertemakan ‘Memakmurkan Masjid di Era Pandemi’. FGD ini digelar bekerja sama dengan Satgas Penanganan Covid-19 BNPB secara daring, Jumat (24/12).

Kampus Peradaban Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut.

“Aturan-aturan yang diberlakukan pemerintah menjadi bagian dari hal yang sebetulnya tidak pernah kita bayangkan. Karena selama ini kita berupaya bagaimana masjid itu makmur,” kata Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Muhammad, Jumat (24/12).

Muhammad mengatakan, masjid dalam hal ini takmir memiliki tantangan besar untuk membangkitkan kembali jamaah untuk memakmurkan masjid.

Pasalnya, adanya penutupan dan pembatasan membuat jamaah sudah merasa nyaman beribadah di rumah. Hal ini menyebabkan berkurangnya jamaah yang melakukan ibadah di masjid.

“Tantangan takmir kedepan membangkitkan kembali jamaah untuk memakmurkan masjid. Karena kemarin sudah merasa nyaman shalat di rumah, ini tantangan berat. Meskipun begitu, ada kerinduan juga jamaah kita untuk shalat berjamaah,” ujarnya.

Dalam upaya memakmurkan masjid di masa pandemi ini, ada tiga hal yang menurutnya harus dilakukan oleh takmir masjid. Muhammad menyebutnya 3M yakni membuat masjid sebagai tempat yang menyenangkan, menyegarkan dan mengenyangkan.

“Masjid design-nya menyenangkan, bagaimana masjid ini serasa hotel, termasuk dijaga kebersihannya, sound sistem dan lingkungannya enak. Menyegarkan, ya para penceramah bisa memberikan inspirasi dan bagaimana orang pulang dari masjid itu segar. Mengenyangkan, bagaimana orang pulang dari masjid itu diberikan makanan,” jelasnya.

Ketua Asosiasi Takmir Masjid DIY, Jumarodin mengatakan, berbagai upaya dilakukan dalam memakmurkan masjid. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi informasi sebagai media dakwah.

Untuk menghindari kerumunan di masa pandemi saat ini, penggunaan teknologi menjadi penting, terutama dalam menggelar kegiatan ceramah. Saat ini, banyak kegiatan ceramah yang sudah dilakukan secara daring.

Jumarodin menyebut, takmir-takmir masjid berinovasi dengan menggandeng jamaah dan komunitas-komunitas yang melek dengan teknologi.

“Yang senang mendokumentasikan event-event kita ajak dan dampingi bagaimana jamaah dan takmir itu bisa mendokumentasikan (ceramah), tidak hanya untuk kepentingan pribadi. Kita punya misi, sehingga dakwah masjid saat ini dan kedepan lebih ke ranah digital,” katanya.

Dengan memanfaatkan teknologi, sasaran jamaah pun lebih besar. Sebab, ceramah tidak hanya dapat diakses oleh jamaah di sekitar lingkungan masjid, namun juga jamaah di luar lingkungan masjid.

******

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY