Si Pending Emas, Berjuang dengan Senjata Pena

Si Pending Emas, Berjuang dengan Senjata Pena

227
0
SHARE
Herlina, si “Pending Emas”, perempuan Srikandi Trikora. (Foto: Repro Buku Pending Emas).

“Setelah dikalungkan Pending Emas di lehernya, ia kembalikan ke Presiden RI sebagai lambang pejuang-pejuang Trikora untuk dikenang sepanjang masa”

SumatraLink.id – Soasiu masih tertidur pulas. Tak ada hiruk pikuk masyarakat layaknya ibukota provinsi di Indonesia. Daerah lain telah bergolak “Demam Irian Barat”, justru masyarakat Soasiu diam tak bergairah. Herlina, perempuan pertama terpanggil untuk membela bangsa dan negara rela bergrilya di rimba hutan belantara untuk membebaskan Irian Barat dari penjajah Belanda.

Mengenang Masyarakat Pegunungan Tengah Papua Barat (Suku Besar Arfak). Foto : d’Fretes.

“Soasiu, aku pikir ada aktivitas masyarakatnya sibuk, dan semangat daerahnya lebih panas dan bergelora dalam membela tanah Irian Barat, seperti daerah lain. Ternyata, tidak!” kata Herlina, yang menulis kisahnya dalam buku Pending Emas (Bergerilya di Belantara Irian) edisi tahun 1985.

Pada 17 Agustus 1956, Indonesia ingin merebut kembali Irian Barat dari cengkraman Belanda dengan membentuk Provinsi Irian Barat, yang ibukota provinsinya di Soasiu, sebuah daerah di Pulau Tidore di sebelah utara Kepulauan Maluku. Gubernur pertamanya Sultan Zainal Abidinsyah.

Dipilihnya Soasiu di Tidore, mengapa tidak di Ternate yang lebih besar dan luas daerahnya, juga tidak di Jailolo Kepulauan Halmahera atau di Ambon, karena alasan politis dari sejarah Irian Barat yang pernah menjadi daerah kekuasaan Kesultanan Tidore.

Grilyawan menuju Irian lewat Pulau Gebe. (Foto: Repro Buku Pending Emas).

Dalam sejarah, ketika Sultan Tidore berkunjung ke Irian Barat menggunakan kapal, saat turun kapal yang menjadi landasan kaki sultan justru punggung-punggung penduduk setempat yang membungkuk, saking berkuasanya sultan kala itu. Sedangkan Sultan Zainal Abidinsyah yang menjabat gubernur Provinsi Irian Barat sebagai ahli waris dari Sultan Tidore.

Pembentukan provinsi ini mendapat penolakan dari forum PBB tahun 1957. Terjadilah aksi-aksi di berbagai daerah Indonesia yang menuntut pembebasan Irian Barat. Pada awal tahun 1956, berbagai daerah bergolak dan memanas. Mereka menggelar aksi menolak putusan PBB dan ingin merebut kembali Irian Barat dari tangan sang penjajah Belanda.

Di Soasiu, pada Februasi 1961, Herlina, gadis asal Malang, Jawa Timur, memulai pengembaraan untuk turut andil merebut kembali Irian Barat. “Soasiu, tempat aku memulai keterlibatanku. Aku harus mencari celah di mana aku bisa ambil bagian,” tutur Herlina, yang memiliki nama asli J Harlina.

Presiden Sukarno bersama Herlina saat menerima penghargaan Pending Emas. (Foto: Repro Buku Pending Emas).

Perubahan nama ini, dikarenakan masa itu ejaan “A” dibaca “E”, akhirnya orang memanggilnya Her bukan Har. Bahkan, kala itu Presiden Sukarno menyapanya dengan sebutan Herlina.

Herlina bertekad harus berbuat besar bagi nusa dan bangsa, ini salah satu bentuk makna hidup yang ingin dia capai. Sejak SMP ada niat besar terkandung dalam dirinya. “Aku ingin berpetualang, berkeliling Indonesia, mengenal banyak tentang negeri ribuan pulau dan ratusan suku bangsa,” katanya.

Sejak usia 18 tahun, Herlina mulai berkeliling Indonesia. Berangkat dari Jakarta terus ke Merak (Banten), Panjang (Lampung), dan keliling Sumatra dan daerah kepulauannya, lalu berakhir di Pulau Belitung.

Presiden Soeharto bersama Helina. (Foto: Repro Buku Pending Emas).

Lalu menyeberang ke Pulau Kalimantan dan berakhir di Pulau Laut. Kemudian menyeberang ke Sulawesi sampai Sanghihe dan Talaud, dilanjutkan mengelilingi pulau-pulau di Maluku. Kemudian ke Nusa Tenggara Timur termasuk Timor Portugis (yang sekarang Timor Timur). Terus ke Nusa Tenggara Barat, Bali, Madura, dan terakhir keliling Pulau Jawa.

Rute ringkas perjalanannya itu telah berlangsung selama tiga tahun sejak tahun 1959. Apakah sudah puas atau belum dengan hasil keliling nusantara itu? Jawabannya, bisa ya bisa tidak. Herlina memandang ada rasa cinta dan ada rasa pedih melihat nasib negeriku.

Rasa cinta, karena ia melihat negerinya sangat luas dan permai, sebagai ladang luas baginya untuk hidup dan berbakti. Rasa pedih, ia melihat tanah airnya yang telah merdeka sejak 17 Agustus 1945, masih ada pemberontakan-pemberontakan seperti DI/TII, Permesta, PRRI.

Koran Mingguan Karya, pemimpinnya Herlina. (Foto: Repro Buku Pending Emas).

Selain itu, ia pedih hatinya melihat penjajah Belanda masih bercokol mengangkangi Irian Barat yang bagian Negara Kesaturan Republik Indonesia (NKRI). Disamping itu, masih sedih melihat berbagai penyelewengan politik, ekonomi dan sosial yang makin jauh dari cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia.

“Aku menyadari semakin banyak berkeliling tanah air, aku belum sepenuhnya mengelilingi tanah airku Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Bagaimana aku bisa bangga dengan perjalananku? Tidak! Inilah yang memicu dan memacu diriku dalam hidup ini untuk memperjuangkan dalam pengembalian Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi: Indonesia,” ujarnya.

Ia ingin menjadi gerilyawati yang ikut terjun dan bergrilya dalam rimba hutan belantara Irian Barat. Tekad ini menjadi benih dalam hatinya dan dibiarkan tumbuh dan berkembang dalam dirinya.

Radio Gerilja Kasuari. (Foto: Repro Buku Pending Emas).

Setelah Perang Dunia II berakhir, Irian Barat bergabung dengan Keresidenan Maluku. Ini masuk dalam Keresidenan Pemerintahan Hindia Belanda. Memang Belanda telah menyerahkan kedaulatannya atas wilayah Indonesia pada 27 Desember 1949, tapi tidak semuanya. Irian Barat masih dikuasai Belanda. Belanda mengajak perang untuk mempertahankannya. Belanda telah menyiapkan senjata, kapal perang, dan pesawat tempur pada tahun 1958.

RI menuntut pembebesan Irian Barat dari kolonialisme Belanda. Berbagai perundingan lokal dan internasional berakhir gagal dan sia-sia. Mulai dari perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) hingga Persatuan Bangsa Bangsa (PBB), tidak berarti. Belanda masih menguasai Irian Barat selama 3,5 abad.

Perjuangan rakyat untuk merebut Irian Barat dan genggaman Belanda kembali ke pangkuan NKRI. Terbentuklah Provinsi Irian Barat dengan ibukotanya Soasiu. Tapi sayang, rakyat Soasiu tidak responsif. Tak hanya itu, kerja dan kinerja aparatur negara dalam pemerintahan provinsi baru tersebut tidak maksimal dalam mencintai tanah airnya sendiri. Dari situ, Herlina bergeming dengan banyaknya keluhan aparatur pemerintahan provinsi tersebut. Banyak pegawai yang bekerja seenaknya, dan hanya menerima gaji buta.

Rakyat di Soasiu, tergugah berjuang membebaskan Irian Barat. (Foto: Repro Buku Pending Emas).

Ia tidak yakin provinsi ini bakal maju bila pegawainya bermental seperti itu. Herlina banyak termenung setelah mendengar keluh kesah pegawai pemerintah seperti itu. Menurut dia, sebagai aparatur negara, dan banyak dari kalangan muda, seharusnya terpanggil untuk membela tanah air. Ia yang seorang perempuan saja terpanggil untuk andil membebaskan Irian Barat.

“Seharusnya aparatur negara ini lebih dulu bersemangat bukan mengeluh dengan kondisi dan keadaan seperti ini. Dalam hatiku, semakin kuat tekad yang tersimpan dalam hatiku untuk menjadi gerilyawati yang terjun ke rimba hutan belantara Irian Barat. Tekad ini sudah lama, dan harus diwujudkan dengan perbuatan,” gumam Herlina.

Pada Agustus 1961, Herlina kembali ke Soasiu. Kunjungan ini untuk membuktikan dirinya ambil bagian dari tekad yang terpendam selama ini. Selama di Soasiu, ia mengadakan studi lapangan, mengenal masalah, dan membaca kondisi lapangan, untuk menyiapkan langkah-langkah ke depan.

Di saat penduduk Soasiu masih tidur pulas, tidak ada yang semangat untuk bersiap menggempur dan merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda. Dalam hati Herlina terbetik, untuk apa Bung Karno menggaungkan kampanye menggayang imprealisme-kolonialisme untuk membebaskan Irian Barat, tapi penduduk Soasiu sebagai ibukota Provinsi Perjuangan diam seribu kata dan tenang-tenang saja.

Dalam hatinya, marah dan geram, dengan kondisi rakyat yang miskin, marak pula kasus korupsi di provinsi tersebut. Padahal, dalam perjuangan merebut Irian Barat diperlukan dana yang besar dan tepat sasaran. Adanya kasus korupsi ini melemahkan semangat perjuangan.

Ia melihat pejabat yang berada di Provinsi Perjuangan Irian Barat di Soasiun adalah penjabat kiriman dari Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Ironisnya, mereka para pejabat itu banyaklah di Jakarta daripada di Soasiu. Banyaklah alasan mereka masih “bertahan” di Jakarta, transportasi susah, akses sulit dan kondisi alam lainnya.

Kalau pejabat inti saja tidak ada di kantor, apalagi pegawai bawahannya. Para pegawai banyak bekerja semaunya, masuk kantor atau tidak. Tapi menerima gaji buta. Proyek-proyek pembangunan tidak pernah tersentuh, jalan yang tadinya harus diaspal tidak pernah dijamah. Akhirnya, keterbelakangan rakyat semakin jadi, dan keterpencilan daerahnya semakin dalam.

Perjuangan membebaskan Irian Barat dari penjajah, Herlina memandang perlu media massa, surat kabar dan radio. Media massa ini memegang peranan penting keberhasilan perjuangan. Sebut saja Hitler dapat meng-Nazi-kan rakyatnya sampai ke pelosok di Jerman. Bung Tomo pada pertempuran 10 November 1945, dapat bersuara lantang di corong radio untuk membakar arek-arek Suroboyo turut berperang.

Di Suosiu sama sekali tidak ada media komunikasi massa. Herlina terpanggil untuk mengisi kekosongan media massa sebagai basis utama perjuangan. Ia tertantang untuk berbuat sesuatu. Selaku anak muda, turut andil dalam mengisi kemerdekaan dan perjuangan merebut Irian Barat. Ia memerintah dirinya sendiri untuk berjuang.

Ia optimistis bila rakyat meski dalam keadaan miskin dan terbelakang, bila mendapatkan penerangan (pencerahan), lama kelamaan akan tergugah kembali kesadaran dan rela mengorbankan jiwa dan raga untuk daerahnya. “Bagaimana kita memberikan pengertian dan mengetuk perasaan serta menggugah kesadaran rakyat! Ini tugasku,” ujar Herlina.

Salah satu upaya untuk menjembatani komunikasi pemerintah dan rakyat, ia berinisiati surat kabar jembatannya. “Akan kutulis berbagai bentuk tulisan yang baik dan menarik, yang menyentuh perasaan rakyat, hingga saudara-saudaraku ini bangkit dan berjuang,” ujarnya.

Ini jalan pertama yang dapat dilakukan Herlina untuk rakyatnya di Soasiu, yang masih tidur pulas, tidak bersemangat berjuang, dan terbelakang. “Berjuang dengan senjata pena yang diasah dengan akal sehat serta tekad yang bulat, walaupun aku belum tahu benar bagaimana wujud surat kabar yang kubayangkan itu,” katanya.

Sebenarnya, di Soasiu sudah ada radio pemancar siaran pemerintah daerah. Tapi, keterbatasan gelombang dan kekuatan watt kecil, dan jangkauan siaran terbatas membuat radio ini tidak diminati rakyat. Rakyat justru lebih tertarik dengan siara radio Biak, milik sang Belanda, karena jangkauanya luas dan suaranya jernih. Lagi pula pesawat radio mahal tidak dimiliki banyak orang.

Herlina terus bertekad menghadirkan surat kabar, bagaimana caranya harus terbit. Surat kabar nasional ada, namun tiba di Soasiu setelah terbit enam bulan kemudian, sangat jauh terlambat. Pada awalnya pernah terbit surat kabar Karya di Ternate. Tapi, usianya pendek karena berbagai hal. Diantaranya, transportasi, percetakan, distribusi, termasuk pengelolanya yang kembung kempis nasibnya.

Tak mungkin perjuangan tanpa media berhasil. Herlina mengupayakan menerbitkan kembali surat kabar Karya dengan keterbatasanya ilmu jurnalistiknya. Jelas, menerbitkan surat kabar di daerah terpenting, terbelakang, dan terpencil tidaklah mudah, seperti surat kabar nasional di Jakarta. Apalagi, ingin mengeruk keuntungan dari surat kabar.

Ia bertekad menerbitkan kembali “Mingguan Karya”. Ia temui pemilik koran itu, Hamid Kotombunan, dan mengajukan gagasannya. Tadinya, Hamid terperangah dengan idenya. Tapi, khawatir bangkrut lagi. Tapi, Herlina menegaskan, ini koran perjuangan penuh pengorbanan, dan nyawa taruhannya. Saat itu, Hamid terperangah dan mengakui kebodohannya mengelola surat kabar Karya bisa mati, karena semata-mata ingin berdagang mencari keuntungan.

Koran Mingguan Karya dipersiapkan untuk terbit lagi. Meski pernah ada, tapi persiapan sama seperti awal menerbitkan dari tidak ada menjadi ada. Herlina dan Hamid ke Jakarta, untuk mengurus surat izin, menyiapkan kertas koran, dan percetakan. Di Jakarta, pejabat setempat seperti di Departemen Penerangan tidak banyak yang menyokong perjuangannya menerbitkan koran di Soasiu, malah mempersulit dan merendahkan niatnya.

“Ah.. sudahlah, aku tak akan meyerah. Yang penting aku tahu apa yang kukerjakan. Aku harus mendapatkan kertas, bukan kertas subsidi pemerintah, tapi kertas yang akan kubeli,” ujarnya.

Ia mendatangi Front Nasional Pembebasan Irian Barat. Pimpinannya, Kolonel Djoehartono mendukung gagasannya tersebut. Ia membantu keuangan, akte notaris, dan kebutuhan surat kabar lainnya. Herlina sedikit lega dengan gagasanya yang mulai terealisasi.

Ia membentuk badan penerbit dengan nama Yayasan Kartika Lina. Kartika diambil dari lambang Angkatan Darat Kartika Eka Paksi, dan Lina nama akhirnya, digabung. Akte pendirian yayasan selesai, ia dan Hamid berangkat ke Surabaya menunggu kapal ke Ambon. Pada 28 Oktober 1961, mereka meninggalkan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya naik kapal Waicolo.

Akhirnya, Surat Kabar Karya terbit pada 1 Desember 1961. Butuh waktu lima hari persiapan terbit perdana koran Karya di Soasiu dengan empat halaman, dengan empat awak redaksi. Kantor koran di Ternate, percetakannya di Soasiu. Jarak keduanya tidak jauh hanya dua jam naik kapal motor. Tapi, kapal motor itu tidak setiap hariberoperasi, hanya dua kali sepekan. Ini yang menjadi masalah.

Ruang redaksi di kantor Mingguan Karya sangat terbatas. Berita dan artikel yang dikerjakan menggunakan hanya satu mesin ketik. Lagi pula, sebagai wartawan baru sekaligus pemimpin koran, menggunakan mesin ketik tidak lancar, membuat antrean panjang dan lama menunggu menjelang deadline.

Setelah deadline, mereka harus membawa naskah ke percetakan menggunakan kapal motor ke Soasiu. Akhirnya, pada 1 Desember 1961, pukul 18.00, Mingguan Karya terbit perdana sesuai rencana.

“Syukur ya Allah! Aku bangga. Inilah hari yang kutunggu, salah satu hari bersejarah dalam hidupku. Inilah hari lahir surat kabar perjuangan hasil karyaku, hasil karya Herlina!” ia membatin.

Herlina mendapat Bintang Dharma Bakti dari Presiden Sukarno yang Pending Emas dikalungkan di lehernya di Istana Negara, Jakarta, pada 19 Februari 1963. Dalam acara itu, ia teringat dengan kasih sayang ibunya. Ia teringat kembali dengan para sukarelawan dan para gerilyawan yang cacat berjuang. Ia teringat saat perjuangan bergrilya di hutan rimba belantaran Irian.

Air matanya menetes dan haru bercampur sedih. Hanya beberapa saat, tanda penghargaan Pending Emas yang dikalungkan di lehernya, seperti janjinya sebelumnya bahwa pengabdiannya bukan mencari tanda jasa, ia kembalikan dan menyerahkan kembali ke Presiden RI sebagai lambang pejuang-pejuang Trikora untuk dikenang sepanjang masa. Semoga arwah para pejuang diterima di hadirat Allah, Amin!

“Janganlah aku disebut pahlawan, sebutan itu belum waktunya diberikan kepadaku. Aku hanyalah Herlina biasa,” demikian pengakuan Si “Pending Emas”, Srikandi Trikora, satu-satunya pejuang perempuan pembebasan Irian Barat. (Mursalin Yasland).

**********

Republika.co.id

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY