Seberapa Panjang Usiamu?

0
29 views
Penting menjaga umur biologis dengan pola hidup, dan makanan sehat.

Resonansi

11 Jun 2022, 03:45 WIB

Resto D’Leuwi di Kampung Panawuan Tarogong Kidul Garut.

“Pada akhirnya, umur ukhrawi seseorang jauh lebih penting”

OLEH ASMA NADIA

Di masa lalu kita hanya mengenal umur kronologis, yang dihitung sejak seseorang dilahirkan. Namun kemudian kita mengenal pula usia biologis. 

Pertama kali saya memahami istilah ini melalui talk show Oprah Winfrey di awal tahun 2000-an yang mengundang Dr Michael Roizen, seorang ahli anti-aging asal Amerika.

Menurut sang dokter, umur biologis didasarkan pada kondisi sel-sel tubuh, kromosom, kualitas organ, dan unsur biologis lainnya. Bisa saja seseorang berusia 25 tahun, tapi memiliki sel tubuh dan organ dengan kondisi 50 tahun.

Resto D’Leuwi di Kampung Panawuan Tarogong Kidul Garut.

Beliau menekankan bahwa usia biologislah sejatinya usia kita. Mereka yang secara kronologis berumur 50 tahun, jika memiliki tubuh berkualitas separuh usianya, maka dalam kondisi normal, kemungkinan akan hidup lebih panjang dari orang lain yang walau berusia lebih muda, tapi sel tubuhnya sudah rusak.

Karenanya penting menjaga umur biologis dengan pola hidup dan makanan sehat.

Jika ada usia kronologis dan biologis, barangkali boleh juga ada istilah usia psikologis untuk siapa saja yang usianya tak pernah melemahkan semangat. Terlepas bagaimana kualitas sel-sel, organ tubuh, dll, ia tetap energik, punya ambisi, dll.

Jika ada usia kronologis dan biologis, barangkali boleh juga ada istilah usia psikologis untuk siapa saja yang usianya tak pernah melemahkan semangat”

D’Leuwi Wahana Wisata Keluarga, dan Edukatif.

Ketika kebanyakan orang di usia itu hanya berpikir pensiun dan menikmati hari tua, mereka yang kondisi psikologisnya mengalahkan umur kronologis –justru berani bersaing dengan tokoh berusia lebih muda– bahkan untuk kursi presiden atau perdana menteri. Dan mereka berhasil.

Lalu apakah ungkapan usia historis mungkin diperlukan untuk sosok-sosok yang namanya melegenda, dan jasanya tetap dirasakan, sekalipun secara fisik sudah terkubur? 

Bruce Lee usia kronologisnya hanya 32 tahun, usia biologisnya saat itu mungkin 20 tahun karena tubuhnya penuh otot nyaris tanpa lemak, tapi bisa dikatakan usia historis lelaki kelahiran 1940 tersebut masih berlanjut, walau hampir setengah abad sejak kematiannya.

John Lennon, contoh lain –yang usia kronologisnya berhenti di angka 40– tetapi nama dan karyanya terus dinikmati dan diapresiasi hingga saat ini.

Plato, Aristoteles, dan para filsuf Yunani kuno usia historisnya mencapai ribuan tahun. Begitu juga dengan para Nabi dan Rasul serta sahabat. Sedikit dari nama-nama yang tak akan pernah dilupakan.

Plato, Aristoteles, dan para filsuf Yunani kuno, usia historisnya mencapai ribuan tahun. Begitu juga dengan para Nabi dan Rasul serta sahabat”

Akan tetapi, ungkapan Kang Ridwan Kamil baru-baru ini tentang putranya membuat saya berpikir, rasanya kita perlu satu istilah lagi? “Ananda Emmeril Khan Mumtadz, mungkin umur hanya 23 tahun, namun dengan luasnya amal kebaikan, insya Allah ia pergi dalam panjang umur.”

Kisah pemuda berusia 22 tahun itu teramat menyentak. Jutaan pasang mata tertuju padanya. Semesta doa mengantar kepergiannya. Membuat banyak orang bertanya-tanya, amalan apa saja yang dilakukan mahasiswa bernama lengkap Emmeril Khan Mumtadz ini hingga gema doa tak putus mewarnai episode akhir hidupnya, bahkan sampai saat ini. Uniknya, sebagian besar dari masyarakat yang tak pernah mengenal atau bertatap muka.

Ya, usia kebaikan almarhum Eril jauh lebih panjang dari usia kronologisnya. Dari ungkapan sang ayah, baru masyarakat mengetahui kiprah pemuda berpenampilan sederhana itu.

Mungkin karena kebaikan Eril membelikan baju Lebaran kepada anak-anak yatim atau pengorbanannya memimpin anak-anak muda membagikan sedekah kepada panti asuhan dan dhuafa meski harus menembus hujan? Mungkin kebaikannya memberi THR kepada satpam-satpam dari kocek pribadi?

Atau sebab kesabarannya memilih bekerja sambil kuliah sekalipun orang tua mampu membiayai? Mungkinkah ini balasan dari doa-doa dan ibadah malamnya, akhlaknya yang mulia, atau hidupnya yang selalu berusaha menebar keceriaan pada orang tua, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya?

Ya, usia kebaikan almarhum Eril jauh lebih panjang dari usia kronologisnya” 

Detail panjang kebaikan yang selama ini tidak pernah diumbar, baru terungkap setelah pemuda murah senyum itu pergi. Membuat saya mengkaji ulang semua istilah terkait usia yang sejauh ini hanya sebatas kelangsungan hidup dunia.

Entah apakah tepat menamainya dengan umur ukhrawi. Sebab umur biologis, umur kronologis, umur psikologis atau umur historis hanya sebatas kehidupan di dunia.

Sesuatu yang bagi seorang Muslim, bila tidak diiringi niat ikhlas maka akan sepenuhnya menguap dan tak memberi benefit di yaumil akhir. Padahal semua pun tahu, betapa fana dunia dan betapa kekalnya akhirat.

Pada akhirnya, umur ukhrawi seseorang jauh lebih penting. Seberapa jejak dan amal di dunia akan melindungi kita sampai hari kiamat dan sesudahnya.

Ketika saya mewawancarai Nadzira Shafa, seorang influencer dan penulis, dalam acara Belajar dari Bintang yang diselenggarakan KBM App –ia menyebutkan alasannya menulis novel 172 Days.

Rangkuman hari-hari berdasarkan kisah nyata kebersamaan singkat dengan Muhammad Ameer Azzikra, putra almarhum Arifin Ilham.

Termasuk memastikan deret keikhlasan, investasi akhirat yang semoga pahalanya terus mengalir bahkan setelah kehidupan di dunia berhenti bergulir”

Sebagai istri, ia ingin mengabadikan sosok suami di masa pernikahan yang hanya 172 hari. Lewat buku, ia berharap bisa menambah usia ukhrawi sang suami.

Sebab, seluruh amal dan prinsip almarhum selama hidup banyak sekali yang bisa menjadi pelajaran dan diteladani orang lain.

Masya Allah. 

Mereka yang pergi dan memahat nama abadi di hati dan ingatan banyak orang dengan karya dan amal kebaikannya, insya Allah sudah menemukan kebahagiaan. Kita yang masih hidup, semoga tak menyia-nyiakan waktu.

Pertanyaan akan seberapa panjang usia ukhrawi nanti, harusnya sejak sekarang digaungkan. Termasuk memastikan deret keikhlasan, investasi akhirat yang semoga pahalanya terus mengalir, bahkan setelah kehidupan di dunia berhenti bergulir.

“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS al-Baqarah: 154)

*****

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here