Sakit

0
8 views
Berkondisi Sehat, Proses Penerimaan Santri/Santriwati Baru pada Pesantren Tahfidz Yadul 'Ulya Garut.

Hikmah

15 Mar 2022, 03:30 WIB

Berkondisi Sehat, Proses Penerimaan Santri/Santriwati Baru pada Pesantren Tahfidz Yadul ‘Ulya Garut.

“Derita sakit juga akan mengguncang ranah kepalsuan dan ketenangan hidup”

OLEH PROF FAUZUL IMAN

Sakit merupakan peristiwa yang tak dapat dihindari di balik peristiwa sehatnya manusia. Sesuper apa pun manusia, ia tak akan pernah lolos dari derita sakit.

Sakit dan sehat tampaknya pasangan entitas yang sengaja dirancang Tuhan sebagaimana pasangan yang terjadi di alam entitas lain. Oleh karena itu, tak mungkin saat manusia berada di sisi paling sehat lalu menolak mutlak-mutlak saat nestapa sakit menghampirinya.

Sudah pasti setiap manusia lebih memilih jalan hidup sehat karena sehat merupakan kekayaan yang paling mahal di dunia. Dengan kesehatan, manusia bisa leluasa menjalankan seluruh harapan hidupnya.

Wisata Keluarga dan Edukasi Pesantren Tahfidz Yadul ‘Ulya Garut.

Bahkan bagi yang benar-benar memandang kesehatan sebagai anugerah Tuhan, ia akan selalu menyiapkan setiap detik kehidupannya hanya untuk menjunjung tinggi amal kebaikan.

Akan tetapi, dengan kesehatan yang selalu menjulang, manusia kerap terjebak oleh peusedo kekuatan yang dibayanginya sendiri.

Ia seakan manusia yang tak pernah limbung sehingga di sela masa-masa sehatnya hanya ada waktu untuk mendirikan hidup glamor, bergelimang kemewahan yang membuatnya lengah dari seluruh sendi kebaikan hidup.

Wisata Keluarga dan Edukasi Pesantren Tahfidz Yadul ‘Ulya Garut.

Dalam kondisi ini, menurut sufi Said Nursi dalam bukunya Kulliyatu Rasail An-Nur, kenestapaan atau derita sakit butuh hadir dalam diri seseorang guna mendidik dirinya agar selalu menggali sumber kearifan dari mata batinnya yang paling dalam.

Dalam pada itu, kata Nursi, kenestapaan mampu memancarkan kontemplasi persepktif baru. Bagi sang sakit tumbuh kesadaran teranyar bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa. Melainkan manusia siklus antara jatuh dan bangun; antara sengsara dan bahagia.

Oleh karena itu, Nursi melanjutkan, manusia sehat bisa saja berlalu dengan waktu cepat, tapi tak akan selamanya mampu menggunakan besi kesombongan.

Wisata Keluarga dan Edukasi Pesantren Tahfidz Yadul ‘Ulya Garut.

Sementara waktu sakit yang beralu begitu lamban bagai kura-kura berjalan, kata Nursi, pastinya akan menemukan kesadaran kelemahannya guna memohon ampun pada Tuhannya agar dijauhkan dari dosa-dosanya selama sakit dan pahalanya menjadi kian bertambah.

Kepasrahan mentalitas iman dalam menerima kehadiran kenestapaan ini bukan saja menghapus dosa. Derita sakit juga akan mengguncang ranah kepalsuan dan ketenangan hidup.

Ketika itulah benih kearifan makin tumbuh mekar dan bersemi dalam taman jiwa yang baru yang makin terlihat luas dan tenang.

Inilah barangkali yang dimaksud oleh Martin Heidegger dalam bukunya Being and Time, sebagai manusia paripurna yang mampu berenang dalam seluruh kolam waktu, tidak sekadar berjalan di arus.

Inilah pula yang dimaksud dengan firman Tuhan, “Tidaklah orang yang mendapatkan Rahmat Tuhan akan berputus asa kecuali orang yang sesat” (QS 15 : 56).

*****

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here