SAGa Camp 2022 Wujudkan Pelajar Mandiri, Aktif, Kreatif, Kolaboratif

0
171 views
Berlangsung di Camping Ground D'Leuwi pada Kampus Peradaban Pesantren Tahfidz, Yadul 'Ulya.
Kepala SDIT Alam Garut, Maharani Purnamasari, SE, S.Pd Membuka dan Menyematkan Tanda Peserta SAGa Camp 2022.

Dipresentasikan Mainan Bermanfaat ‘No Gadget’

Garutnews ( Kamis, 01/09 – 2022 ). 

Penyelenggaraan ragam agenda tahunan “SAGa Camp 2022” di Camping Ground D’Leuwi Panawuan Sukajaya Tarogong Kidul, upaya nyata mewujudkan pelajar SDIT Alam Garut yang mandiri, aktif, kreatif, dan kolaboratif.

Sehingga setiap rangkaian helatan berkemah berlangsung 1-2 September 2022 ini, antara lain sarat bermuatan edukatif, keterampilan, serta kedisiplinan yang dikemas apik juga menarik di alam terbuka dengan persuasif bernuansakan kegembiraan.

Sajian Pengetahuan Dasar Kepramukaan, dan Terampil Tali Temali.

Diikuti 35 peserta putera, dan 31 puteri kelas IV, V, dan VI. Mereka selain diikutsertakan pada keterampilan pemasangan tenda, juga mendapatkan sajian pembelajaran menjadi kreatif serta solutif.

Dibekali pula pengetahuan dasar kepramukaan, keterampilan tali temali termasuk mempraktekan membuat blangkar. Bahkan ditampilkan beragam mainan menarik dan bermanfaat yang ‘no gadget’.

Diawali Upacara Pembukaan.

Sedangkan kegiatan lainnya berupa senantiasa menunaikan shalat berjamaah, kultum siswa, dan shalat tahajud.

Berlangsung pula penjelajahan alam, menjalin kekompakan maupun soliditas sekaligus mengasah keterampilan sandi kotak, kepramukaan, electric tunel, spiderweb, sungai-rafelling, serta operasi semut kebersihan lingkungan.

Mendokumentasikan Ragam Agenda Kegiatan.

“Berbasiskan tematik yang diusungnya ‘Pelajar Mandiri, Aktif, Kreatif, Kolaboratif’,” demikian intisari informasi yang dihimpun garutnews bersumber Kepala SDIT Alam Garut, Maharani Purnamasari, SE, S.Pd juga Ketua Pelaksana Ade Alpian Priatna, S.Pd serta Dokumentator Resi Resdiani, S.Pi.

****** (Abah John).

Mengapa Islam Tekankan Pentingnya Mendidik Anak Sejak Kecil?

Selasa 30 Aug 2022 17:02 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ani Nursalikah

Camping Ground D’Leuwi Kampus Peradaban Pesantren Tahfidz, Yadul ‘Ulya.

Pendidikan kepada anak di masa kecilnya itu seperti mengukir di atas batu”

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sosok ayah memiliki peran yang signifikan dalam membesarkan anak. Sebab, ayah adalah orang yang mempengaruhi perilaku anak sehingga memiliki tanggung jawab yang besar dalam membesarkan anak sejak kecil.

Konsep pendidikan dalam Islam ditunjukkan dalam sebuah hadits. Rasulullah SAW bersabda, “Perintahkan anak-anakmu melaksanakan sholat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka karena meninggalkan sholat ketika mereka berusia 10 tahun…” (HR Abu Dawud)

Hadits tersebut menunjukkan, ketika anak telah menginjak usia 7 tahun, maka dia telah mampu menerima suatu didikan, sehingga seorang ayah bertanggung jawab untuk mengajarkan tentang Islam, yang dalam hal ini ialah sholat. Dengan demikian, anak akan tumbuh dalam ketaatannya kepada Allah SWT.

Kegembiraan Peserta.

Pada dasarnya, perbuatan baik tumbuh di atas kebiasaan, begitu juga perbuatan buruk. Orang tua, terutama bagi seorang ayah, sangat penting untuk menunjukkan perilaku yang baik. Sebab, seorang anak akan mengikuti apa yang biasa dilakukan ayahnya.

Karena itu, mendidik anak harus dimulai sejak dini. Penyair Arab berkata: Adab itu penting bagi anak-anak sejak dini | Dan menjadi tidak berguna ketika adab itu memutih | Ranting bila diluruskan maka lurus | Dan tidak akan bisa diluruskan bila telah menjadi kayu karena kekuatannya.

Dari syair itu, dapat diketahui bahwa ranting, sebagai awal tumbuhnya pohon, masih lunak dan bisa diluruskan. Setelah ranting tumbuh besar menjadi batang kayu yang besar, maka menjadi keras dan tidak ada gunanya lagi jika diluruskan karena justru akan patah.

Itulah sebabnya mengapa banyak yang menyampaikan, pendidikan kepada anak di masa kecilnya itu seperti mengukir di atas batu. Sedangkan orang tua yang tentunya lebih pintar punya tanggung jawab mendidik anak sejak kecil, tetapi kebanyakan orang tua terlalu sibuk. Padahal anak sejak kecil sudah bisa dididik.

Proses Pembelajaran di Alam Terbuka.

Dalam belajar maupun mengajar, tentu dibutuhkan kesabaran dan keuletan, termasuk bagi para orang tua. Mungkin perkataan Imam Syafi’i ini dapat direnungi oleh para orang tua.

Imam Syafi’i berkata, “Siapa yang tidak merasakan penatnya menuntut ilmu selama satu jam, maka dia akan merasakan kebodohan seumur hidupnya.”

Dari perkataan Imam Syafi’i, bisa dipetik suatu hikmah bahwa dalam proses menerima dan mengajari ilmu memang tidak mudah. Tetapi kesulitan yang dirasakan sebetulnya hanya sementara, sedangkan rentang waktu kemanfaatannya jauh lebih panjang.

*******

Republika.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here