Renungan tentang Kunci Surga dan Neraka Saat Wukuf

Renungan tentang Kunci Surga dan Neraka Saat Wukuf

120
0
SHARE
Khusyu.

Kabar Tanah Suci

10 Jul 2023, 13:06 WIB

Makkah.

“Setiap tahun ada sekitar dua juta jamaah haji, maka setiap tahun ada dua juta Muslim yang senantiasa menjaga lisannya”

Oleh FUJI EKA PERMANA dari MAKKAH, ARAB SAUDI

Teringat saat mengenakan kain ihram ketika wukuf di padang Arafah pada 9 Dzulhijjah 1444 Hijriyah beberapa hari lalu. Saya selalu berusaha sadar dan mengingat apa saja larangan saat mengenakan ihram dan wukuf. 

Ada cukup banyak larangan saat berihram, di antaranya tidak boleh memakai wangi-wangian, tidak boleh memotong kuku dan mencabut rambut atau bulu di badan, dan tidak boleh membunuh binatang dengan cara apa pun termasuk tidak boleh membunuh semut, lalat, dan nyamuk jika ada. Tidak boleh juga mencabut rumput, memetik daun, dan memotong dahan pohon.

Saya pun selalu berusaha hati-hati, karena khawatir ada semut terinjak atau tertimpa saat duduk. Saat berjalan di atas tanah pun berhati-hati, khawatir ada rumput tercabut tanpa sengaja. Jika hal tersebut dilanggar, jamaah haji harus membayar dam.

Saat berihram juga tidak boleh mencaci, mengucapkan kata-kata kotor serta bertengkar, tidak boleh melakukan kejahatan dan maksiat. Larangan ihram yang satu ini mengingatkan saya terhadap sabda Nabi Muhammad SAW tentang kunci surga.

Abi Wail dari Mu’adz bin Jabal berkata, “Aku bersama Nabi Muhammad SAW dalam satu perjalanan, suatu hari aku dekat dengan beliau lalu aku bertanya: Wahai Rasulullah beritahukan padaku amalan yang dapat memasukanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sungguh kamu bertanya tentang sesuatu yang besar. Padahal sebenarnya ia mudah (dilakukan) bagi siapa saja yang dimudahkan oleh Allah. Yaitu, kamu beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan apapun, tunaikan shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.” 

“Maukah kamu aku kabarkan sesuatu yang menjadi kunci itu semua?” kata Nabi Muhammad SAW kepada Mu’adz bin Jabal. Kemudian, Mu’adz bin Jabal menjawab, “Ya, Nabiyallah.”

Lalu, Rasulullah SAW memegang lisannya dan bersabda, “Tahanlah (lidahmu) ini. Mu’adz bin Jabal bertanya lagi, “Wahai Nabiyallah, (apakah) kita akan disiksa sebab perkataan yang kita ucapkan?” 

Nabi Muhammad SAW menjawab, “(Celakalah kamu), ibumu kehilanganmu wahai Mu’adz. Tidaklah manusia itu disungkurkan ke dalam neraka di atas muka atau hidung mereka, melainkan karena hasil ucapan lisan mereka” (HR Ibnu Majah).

Hadis tersebut menjelaskan bahwa amalan yang dapat memasukkan ke surga adalah beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun, melaksanakan shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah. Kunci dari itu semua adalah menjaga lisan atau ucapan.

Ketika berihram dan wukuf di padang Arafah, jamaah haji harus benar-benar menjaga lisannya. Agar tidak mengeluarkan perkataan yang negatif dan tidak bermanfaat.

Pikir saya, seandainya setiap jamaah haji tetap menjaga lisannya setelah melaksanakan ibadah haji, akan menjadi seperti apa dunia ini? Setiap tahun ada sekitar dua juta jamaah haji, setiap tahun ada dua juta Muslim yang senantiasa menjaga lisannya.

Lisan atau perkataan bisa membuat orang lain yang mendengarnya merasa bahagia, bisa juga membuat orang lain terluka bahkan hingga merusak mentalnya. Sebab lisan atau perkataan dapat memengaruhi pikiran dan perasaan, bahkan memengaruhi mental seseorang.

Lisan atau perkataan juga dapat memengaruhi rasa sakit seseorang secara fisik. Maka lisan atau perkataan yang baik-baik bisa membahagiakan dan menyembuhkan. Sebaliknya, lisan atau perkataan juga bisa membuat sedih, terluka, merasa tertekan dan merusak mental, membuat stres dan depresi.

Betapa banyak orang terluka mentalnya karena lisan teman-temannya, sesama saudara bertengkar karena tidak bisa menjaga lisannya, anak durhaka kepada orang tua karena lisannya, dan tidak sedikit perceraian terjadi karena suami-istri tidak bisa saling menjaga lisannya.

Betapa banyak orang yang tertekan dan depresi karena lisan atasannya, anak-anak terluka mentalnya karena lisan orang tua dan teman-temannya yang suka merundung, dan banyak lagi kerusakan yang ditimbulkan, baik yang terlihat maupun tidak terlihat akibat lisan manusia.

Nabi Muhammad SAW seolah mengetahui betapa pentingnya menjaga lisan. Terlebih lisan seorang penguasa, pemimpin dan tokoh agama.  Jika dipikirkan, konflik dan peperangan juga bisa dipicu oleh lisan.

Mungkin semua sudah tahu kisah ini, suatu ketika Napoleon Bonaparte yang berkuasa pada masanya sedang flu berat, dia mengumpat ma sacre toux yang artinya “batuk sialan.” 

Gara-gara ucapan Napoleon Bonaparte diiringi suara batuk, sang perwira mengira mendengar perintah “massacrez tous yang artinya “bunuh semua.” Akibat kesalahpahaman sepele tersebut, ribuan tawanan dibantai oleh bawahan Napoleon Bonaparte.

Gara-gara ucapan Napoleon Bonaparte diiringi suara batuk, sang perwira mengira mendengar perintah “massacrez tous” yang artinya “bunuh semua

NAMA TOKOH

Dengan lisan atau perkataan juga, seseorang bisa memutar balikan fakta, membuat fitnah, membuat kebohongan, dan menyampaikan ayat-ayat serta sabda-sabda palsu.

Maha Benar Allah dan Rasul-Nya yang mulai. Saya pikir dan renungkan di padang Arafah, sangat benar jika Rasulullah SAW bersabda bahwa seseorang bisa masuk surga atau neraka karena lisannya.

Abu Hurairah menyampaikan, Rasulullah SAW bersabda, “Bisa jadi seseorang mengatakan satu kalimat yang dimurkai Allah, suatu kalimat yang menurutnya tidak apa-apa. Akan tetapi, dengan sebab kalimat itu dia jatuh ke neraka selama tujuh puluh tahun.” (HR Ahmad)

Isa bin Thalhah dari Abu Hurairah, ia mendengar sabda Rasulullah SAW, “Sungguh (jika) seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa dipikir terlebih dahulu, ia pun akan terlempar ke neraka (yang) jauhnya antara timur dan barat.” (HR Ibnu Hibban)

Abu Hurairah menyampaikan Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata-kata baik atau diam, dia tidak menyakiti tetangganya dan memuliakan tamunya.” (HR Al-Bukhari)

Alquran dalam Surah Al-Hujurat Ayat 12 menggambarkan orang yang suka membicarakan keburukan orang lain (menggunjing atau ghibah) seperti orang yang sedang memakan daging saudaranya yang sudah mati.

Pada ayat sebelumnya, Surah Al-Hujurat Ayat 11, Allah SWT melarang orang beriman merendahkan orang lain, melarang mencela dan mengolok-olok orang lain. Dua ayat tersebut menjelaskan pentingnya seseorang menjaga lisannya.

Renungan saya yang dangkal menyimpulkan, lisan atau perkataan bisa membuka pintu surga jika dijaga dengan baik. Sebaliknya lisan juga bisa membuka pintu neraka jika tidak dijaga dengan baik.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa ada padanya perbuatan zalim kepada saudaranya menyangkut kehormatan atau apa pun, hendaklah ia segera meminta kehalalan atas perbuatan zalim yang dia lakukan hari itu juga sebelum tidak ada dinar dan tidak ada dirham (yaitu pada hari kiamat dimana harta benda tidak ada gunanya). Jika ada baginya amal saleh maka diambil lah pahalanya sesuai dengan kadar kezalimannya. Jika sudah tidak ada amal-amal kebaikan, diambillah dari dosa-dosanya orang-orang yang dizalimi. Lalu dosa itu dibebankan kepadanya” (HR Bukhari dan Tirmidzi).

Saya pikir, kezaliman juga bisa berupa kezaliman verbal. Ketika seseorang memukul orang lain, mungkin dampaknya hanya memar di tubuh. Tapi, ketika seseorang berbuat zalim secara verbal, lewat perkataan yang kasar atau menyakitkan, dampaknya bisa melukai perasaan, pikiran dan mental seseorang. Mental yang terluka bisa jauh lebih parah daripada tubuh yang sekedar memar.

Berbuat salah kepada Allah SWT, manusia bisa segera bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT di manapun dan kapanpun. Jika berbuat salah kepada sesama manusia, belum tentu ada kesempatan untuk kita memohon maaf.

*******

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY