Profil Inspiratif Wujudkan Agroekosistem Ujung Kampung Sindanggalih

0
171 views

“Berbasis Ekologi Mengedepankan Karya Nyata Mandiri”

Esay/ Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Rabu, 06/04 – 2016 ).

Ny. Nissa Wargadipura.
Ny. Nissa Wargadipura.

Inilah profil inspiratif, pasangan suami – istri Ir Ibang Lukman Nurdin, S.Ag(43) dengan Ny. Nissa Wargadipura(42) kini dikaruniai tiga anak.

Mereka, sejak delapan tahun terakhir  mewujudkan konsep agroekosistem pada kebun beserta pekarangan di ujung Kampung Sindanggalih Kelurahan Sukagalih Kecamatan Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat.

Pola pertanian tradisional bebas unsur kimiawi atawa “zero emition” tersebut, berbasiskan ekologi dengan antara lain mengedepankan karya nyata mandiri.

Bahkan pengelolaannya pun dikemas apik 20 santri Pondok Pesantren Ath – Thaariq Garut, guna menepis dan mengalihkan sistem “revolusi hijau” 

Pondok Pesantren Ekologi Ath - Thaariq Garut, Tetap Tegar Meski Kian Dikepung Ragam Modernisasi Pertanian.
Pondok Pesantren Ekologi Ath – Thaariq Garut, Tetap Tegar Meski Kian Dikepung Ragam Modernisasi Pertanian.

“Lantaran sistem tersebut, di antaranya berdampak menyingkirkan ragam tanaman menjadi satu tanaman, sehingga dinilai sangat kanibal,” ungkap Pimpinan Sekolah Ekologi pada Pondok Pesantren Ath – Thaariq Ny. Nissa Wargadipura.

Sedangkan suaminya Ibang Lukman Nurdin, konsisten memimpin kajian teologi ekologi berperspektif keagamaan pada pondok pesantren itu.

Sehingga setiap seluruh masyarakat pondok pesantren ini, senantiasa bisa mengelola pertanian yang mengedepankan siklus alami, serta timbal-balik dengan makhluk lainnya, juga sekaligus dapat mengembalikan adat budaya pola pertanian masyarakat sunda dahulu.

Budidaya Pada Kebun Secara Alami "Zero Emition" Ragam Vegetasi.
Budidaya Pada Kebun Secara Alami “Zero Emition” Ragam Vegetasi Bernilai Kearifan Lokal Masyarakat Sunda, Bernilai “Adi Luhung”.

“Supaya setiap keluarga berpola makan sehat dengan mengonsumsi ragam produk tanaman pangan yang ditanam sendiri, atawa tak hanya banyak mengonsumsi ragam jenis makanan instan yang kerap sarat pewarna dan pengawet,” imbuh  Nissa kepada Garut News, Rabu (06/04-2016).

Selain membina 20 santri, pondok pesantren ekologi tersebut juga menyelenggarakan pendidikan “back to nature” pada alam terbuka selama tiga hari setiap pekan.

Dan kini memiliki sedikitnya 500 alumni tersebar di Yogyakarta, Salatiga, Cilacap, serta di wilayah Selatan Garut.

Ragam Produk Non Beras dari Pontren Ekologi Ath - Thaariq Garut.
Ragam Produk Non Beras dari Pontren Ekologi Ath – Thaariq Garut.

Sedangkan 20 santri menetapnya, pada pagi hingga siang mereka menempuh pendidikan formal mulai SMP, SMA, serta perguruan tinggi, dilanjutkan belajar dan berlatih juga bermalam di pondok pesantren.

Masing-masing berasal dari Bekasi, Jakarta, Bandung, serta Selatan Garut terdiri Kecamatan Pameungpeuk, Bungbulang, Cisompet, serta Kecamatan Cibalong.

Belajar dan bermalam di pondok pesantren ini gratis, tetapi jika pulang kampung bisa membawa bekal, tutur Nissa pula.

Ragam vegetasi termasuk sawah, seluruhnya seluas satu hektare pada lingkungan Pondok Pesantren Ath – Thaariq, dipasarkan berupa barang jadi secara online.

Produk bahan Baku yang Siap Diolah.
Produk bahan Baku yang Siap Diolah.

Di antaranya ramuan ragam jenis minuman berbahan baku herbal, antara lain diproses dari jenis tanaman koneng bodas, antanan, daun sirsak, daun salak, daun pandan, rosela, talang ungu, serai, vegetasi cakar ayam, juga kunyit.

Ragam bahan baku produk makanan dan minuman etnik kearifan lokal bernilai “adi luhung” masyarakat sunda ini, disiapkan pula bibit tanamannya, yang bisa dikembangkan dengan proses penyerbukan alami.

Dalam pada itu, pola tanam padi dilaksanakan selama ini secara berjenjang agar bisa dipanen berkelanjutan, atawa tak dipanen sekaligus. Melainkan secara bertahap supaya tak terjadi penumpukan produksi.

Kemasan Produk yang Dipasarkan Secara Online.
Kemasan Produk yang Dipasarkan Secara Online.

Pondok pesantren berkonsepkan pula mengaji, belajar dan bertani berkomoditi yang variasi tersebut, diwujudkan sejak tahun 2008. Sebagai jawaban maupun solusi atas kerusakan alam beserta lingkungannya selama ini, yang juga antara lain dipicu kian merebak-maraknya kegiatan “revolusi hijau”.

Maka seluas satu hektare areal pertanian pondok pesantren tersebut, terbagi menjadi beberapa zonasi.

Terdiri zonasi sawah, kebun, kolam, peternakan, serta zonasi pemukiman termasuk pondokan santri serta sarana belajar, dan mengaji.

Memanfaatkan Setiap Jengkal "Buruan" Atawa Halaman Dengan ragam Vegetasi.
Memanfaatkan Setiap Jengkal “Buruan” Atawa Halaman Dengan ragam Vegetasi.

Mengedepankan karya nyata mandiri, lantaran berjalan dengan berswadaya murni. Atawa bukan kegiatan dari proposal minta-minta sumbangan kepada Pemkab setempat.

Pola pemberantasan hama tanaman pun, memanfaatkan mekanisme alami berupa “musuh alami”.

Demikian diungkapkan Nissa pula, yang juga pendiri/pemimpin organizer Serikat Petani Pasundan (SPP) hingga 2008 lalu.

 

*********

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here