Produk Kampung Sirna Hurip Terbukti Bisa Mendunia

0
35 views
Jafar Geluti Piranti Produksi Sederhana.
Ilustrasi. Alat Tenun Bukan Mesin.

“Diapresiasi Helmi Budiman”

Garutnews ( Senin, 03/10 – 2022 ).

Kendati berpiranti relatif sangat sederhana berupa mesin rajutan manual tua, Namun ternyata produktivitas Jafar bersama keluarganya bisa mendunia. Sehingga diapresiasi positif oleh Wakil Bupati Garut, dr H. Helmi Budiman.

Bahkan selama ini pun produk komoditi ekspor dari Kampung Sirna Hurip Desa Cinta Rasa Kecamatan Samarang tersebut, bernilai ekonomi menjanjikan atau “prospektif”.

Berupa mata dagangan peci rajutan haji, juga diproduksi peci haji bersulaman tangan, serta kupluk, yang selama ini pula bisa menembus pangsa pasar Pakistan, serta sejumlah negara di Kawasan Timur Tengah.

Memproduk Peci Haji Rajutan.
Memproduk Peci Haji Rajutan.

“Sehingga dipastikan banyak jemaah haji maupun umroh saat kembali pulang ke tanah air termasuk ke Garut, mereka mengenakan peci haji produk rajutan asal Kampung Sirna Hurip,” ungkap Helmi Budiman, bangga.

Meski demikian, ironisnya Jafar selaku produsen tak langsung bisa melakukan kegiatan ekspornya.

Selain masih belum memiliki “LC”, juga kerap terbius penjualan produk pada pedagang pengumpul atau bandar, sehingga nilai jual “satu kodi” maupun 20 buah peci haji rajutan relatif murah.

Jafar pun menyadari kelemahannya, sehingga gencar berupaya merintis lintasan pemasaran sendiri membidik pangsa pasar Garut, Bandung, dan Jakarta. Selain tentunya masih tetap menerima order Bandar Jakarta, katanya.

“Memanfaatkan ATBM”

Ny. Iim Bersama Produk dan ATBM Tahun 1970-an.
Ny. Iim Bersama Produk, dan ATBM Tahun 1970-an.

Di desa yang sama, penduduk Kampung Cimuncang Ny. Iim(61) melanjutkan usaha ayahnya Suherli berusia 80 tahun lebih.

Antara lain ditunjang satu unit “Alat Tenun Bukan Mesin” (ATBM) yang dibeli dari Majalaya Bandung pada 1970.

Sedangkan produktivitasnya, berupa selimut serta seperangkat sprei berbahan baku benang selimut yang dipintal sendiri.

Ternyata Ny. Iim juga masih banyak tergantung pada pola pemasaran pesanan bandar maupun pedagang pengumpul.

Memintal Benang Sendiri, Proses Panjang Produksi yang Melelahkan.
Memintal Benang Sendiri, Proses Panjang Produksi yang Melelahkan.

Sehingga nilai jual setiap lembar selimat pada kisaran Rp50 ribu hingga Rp75 ribu, sedangkan setiap seperangkat sprey berenda manual pada kisaran harga Rp200 ribu hingga Rp250 ribu.

Helmi Budiman menyatakan prihatin atas beragam kendala pemasaran selama ini mengganjal pemasaran produktivitas industri rumah tangga tersebut.

“Beragam solusi tengah dipikirkannya,” katanya.

Menyusul jam terbang Suherli menggeluti industri tektil dinilai luar biasa, dia pernah menjadi mandor pada “Pabrik Tenun Garut” (PTG), juga Pabrik Tenun Tasikmalaya.

Kepiawannya diwariskan pada anaknya Ny. Iim yang ternyata hingga kini masih tertatih-tatih meski membidik pangsa pasar lokal sekalipun.

Menenun Kain Sutera dengan ATBM.

“Bangunan Bawah Tanah”

PTG tak dioperasionalkan lagi sejak 1995, malahan pabrik tenun peninggalan Belanda itu sempat diratakan dengan bumi kemudian pada 2005 berganti dengan pembangunan Mal Garut.

Pabrik pernah dikenal bernama ‘de stiching van de Pranger Bontweverij’ (PBW) dipimpin G Dalenord itu, menjadi milik RI sejak 1959. Pada 14 September 1964 diserahkan ke Pemda Provinsi Jawa Barat, dan menjadi ‘PTG Ampera I’.

Pabrik seluas belasan hektare berganti nama pula PD ‘Kerta Paditex’, dalam pusaran 1985 berada dalam masa suram. Namun dibalik kejayaan pernah digapainya bersemayam  lintasan jalan terowongan bawah tanah atau gua.

Gua ini berada di ruangan berukuran 7×15 meter pada bagian depan sebelah kiri. Pintu gua terletak di sudut ruangan bisa masuk ke bawah tanah, menuruni belasan anak tangga berbelok ke lorong utama, dan memanjang sekitar 40 meter.

Lebar antar dinding gua diperkirakan sekitar tiga meter itu, terus menyempit hingga 1,25 meter. Langit-langitnya setinggi 2,5 meter berbentuk kubah.

Lintasan lorong utamanya bercabang delapan ke arah kanan sepanjang tujuh meter, lebar 75 cm setinggi dua meter. Konon lima dari delapan lorong itu, tersambung ke beberapa lorong lainnya.

Pada lorong utama kedua, sepanjang 25 meter dengan tinggi dan lebar tak jauh beda dengan lorong utama pertama. Banyak ditemukan tumpukan plastik pembungkus kain tenun PTG, dan logo sarung Cap Padi merk dagang.

Pabrik yang pernah berjuluk raksasa Asia Tenggara 1962 tersebut, juga memiliki mess PTG bersebrangan dengan pabrik tenun itu, terdapat mulut gua lainnya di rumah mess PTG ada kamar berpintu ke bawah tanah menembus ke lokasi pabrik.

Terowongan menembus juga ke Pendopo Garut dan Hotel Villa Dolce di Jalan Melati yang bergengsi tinggi di antara Hotel Papandayan maupun Grand Hotel ‘Tjisoeroepan’ di Kecamatan Cisurupan.

Villa Dolce pun berganti menjadi Gedung Islamic Centre di Jalan Pramuka, Garut. Walahualam bi Sawab.

Jika keberadaan gua kuno itu benar adanya, Padahal, bisa dijadikan destinasi wisata sangat spektakuler. Maka apabila dinilai penting perlu diterjunkan para peneliti dari ragam disiplin ilmu guna membuktikannya.

**********

Pelbagai Sumber.

Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here