Peningkatan Transmisi Seksual Paling Tinggi di Garut

Peningkatan Transmisi Seksual Paling Tinggi di Garut

162
0
SHARE
Mewujudkan Pola Asuh yang Baik, dan Sehat. Tak Semudah Menggiring Itik.
Program Manager Respond/Direktur Eksekutif PKBI Cabang Garut, Ir Denden Supresiana.

“Merambah Anak dan Remaja”

Garutnews ( Kamis, 05/01 – 2023 ).

Transmisi/penularan terinfeksi HIV/AIDS dari populasi kunci, pasangan ‘resiko tinggi’ (resti) perempuan, dan pasangan resti laki-laki di Kabupaten Garut hingga Desember 2022 mencapai 803 kasus atau paling tinggi peningkatannya setiap tahun. Dibandingkan faktor resiko lainnya.

Lantaran dari keseluruhan 1.015 penduduk kabupaten setempat yang terinfeksi jenis penyakit tersebut, masing-masing didominasi faktor resiko populasi kunci (569 kasus), pasangan resti perempuan (200 kasus), dan pasangan resti laki-laki (34 kasus).

“Sedangkan 212 kasus lainnya terdiri IDU’S (penasun) ada 188 kasus, perinatal/anak (19 kasus), serta terdapat lima kasus yang tak terindentifikasi,” ungkap Program Manager Respond/Direktur Eksekutif  PKBI Cabang Garut, Ir Denden Supresiana kepada Garutnews di ruang kerjanya, Kamis (05/01-2023).

Dikatakan, paling tingginya peningkatan faktor resiko transmisi seksual setiap tahun di kabupaten ini, terbukti sejak 2012 (101 kasus), 2013 menjadi 156 kasus kemudian kondisi Desember 2014 (202 kasus), Desember 2015 (233 kasus), Desember 2016 (275 kasus).

Disusul Desember 2017 (376 kasus), Desember 2018 (436 kasus), Desember 2019 (500 kasus), Desember 2000 (583 kasus), Desember 2021 (693 kasus), serta kondisi pada Desember 2022 menjadi 803 kasus terinfeksi HIV/AIDS.

“Merambah Anak dan Remaja”

Transmisi seksual tersebut juga peningkatannya merambah pada kalangan anak, dan remaja termasuk meningkatnya perkawinan usia dini akibat ‘kecelakaan’ (kehamilan di luar nikah), yang menjadi pula penyebab anak ‘stunting’.

Mereka berhubungan seksual selain akibat pola asuh keliru, juga dorongan gaya hidup yang hedonis. Kemudian populasi kunci meliputi PSK, Waria, LGBT/HRM, serta LSL (Laki Seks Laki).

Menyusul wanita pekerja seks itu, ada yang secara langsung yakni PSK. Juga tidak langsung yakni bertransaksi badani hanya lantaran desakan gaya hidup hedonis.

Selanjutnya pasangan resti perempuan terdiri kalangan ibu rumah tangga, serta pasangan resti laki-laki. Mereka mendesak memerlukan kemampuan mengendalikan syahwat seksual dengan perilaku berisiko.

Sedangkan anak-anak, dan remaja kini mendapatkan cakupan PKBI dengan merealisasikan mandat menjalankan Program ‘Respond’ (Responding with Essential SRHR Provision and New Deliver Mechanisms).

Berupa ‘Peningkatan Kapasitas Masyarakat Sipil, Pencegahan (Promotif dan Preventif), serta Pemberian Layanan Kesehatan kepada masyarakat rentan dan marjinal. 

Sehingga, PKBI bertanggungjawab atas semua kegiatan yang berkaitan dengan masyarakat sipil, baik dalam area pencegahan, akses layanan kesehatan, dukungan psikologis dan sosial serta penguatan system masyarakat.

*****

Abah John.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY