Pahala Menunggu Shalat

0
28 views
Masjid Kampus Peradaban Ponpes Yadul 'Ulya Garut.

Ahad 26 Jul 2020 10:24 WIB

Red: Irwan Kelana

Ilustrasi. Shalat Khusyu Dimanapun.

“Kehadiran shalat  ditunggu, lantaran shalat membawa nikmat”

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Dr KH Syamsul Yakin MA

Kecintaan seorang muslim dalam beribadah tergambar dari kesediaannya menunggu ibadah itu datang lagi. Baginya, ibadah terasa manis. Manisnya ibadah tak lain adalah buah dari iman. Misalnya shalat. Kehadirannya ditunggu, lantaran shalat membawa nikmat. Shalat memberikan kesegaran fisik, psikis, dan fisiologis.

Secara teoritis, pantas kalau shalat membawa nikmat. Pertama, karena shalat adalah ibadah yang diawali dengan pengakuan akan kebesaran Allah SWT dengan ucapan “Allahu Akbar”.

Tak ada yang berkuasa, digdaya, berpengaruh selain Allah SWT. Kesadaran ini, secara psikologis, membuat orang yang shalat me-nol-kan dirinya.

Artinya, di hadapan Allah SWT ia tidak menghargai dirinya satu, sepuluh, atau seribu. Padahal sikap mental inilah yang kerap membuat manusia tinggi hati. Setelah lafazh  “Allahu Akbar” terlontar, maka orang yang shalat merasakan  kebesaran Allah SWT yang tak terhingga. Ia pun merasa dirinya kecil dan kerdil.

Kedua, sepanjang shalat berlangsung sejatinya orang yang shalat sedang berdoa, memohon kepada Allah SWT. Persis seperti makna generik shalat yang berarti doa. Oleh karena itu, apabila dihayati kata demi kata dari bacaan shalat, maka itu ibarat rangkaian puisi paling indah. Maka tak heran kalau shalat membuat ketagihan dan selalu ditunggu.

Ketiga, ujung dari shalat adalah mengucapkan salam. Salam berarti kedamaian, ketenteraman, dan kesejahteraan. Artinya, bagi orang yang khusyu shalatnya, di ujung shalat ia merasakan itu semua. Di samping, ia merasakan kesegaran fisik ketika rukuk, merasakan kesyahduan eksistensial ketika sujud.

Selain semua itu, orang yang menuggu shalat juga akan didoakan oleh para malaikat. Nabi SAW memberi kabar, “Tidaklah seseorang di antara kalian duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, melainkan para malaikat mendoakannya, “Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, sayangilah dia.” (HR. Muslim).

Malaikat adalah makhluk Allah SWT yang senantiasa bertasbih siang dan malam. Mereka terbebas dari sifat-sifat manusia dan jin yang penuh nafsu angkara murka. Insya Allah doa para malaikat kepada Allah SWT untuk orang yang menunggu shalat direspons secara cepat. Orang yang menunggu shalat akan diampuni dan diberkahi.

Amaliah yang dapat dilakukan pada saat menunggu datang waktu shalat bisa berzikir, membaca Alquran, dan memperdalam ilmu agama (tafaqquh fiddin). Bisa juga membicarakan persoalan umat Islam seperti politik, ekonomi, sosial, budaya dalam sebuah kajian atau memusyawarahkan agenda aksi keumatan dan kemanusiaan.

Pada saat seseorang berada di dalam masjid untuk menunggu waktu shalat, maka orang itu akan  mendapatkan pahala iktikaf (berdiam diri di masjid). Sementara itu, Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang iktikaf dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Dailami).

Terakhir, orang yang menunggu salat pasti berada di antara adzan dan iqamat. Kesempatan ini dapat digunakan, lagi-lagi untuk berdoa, karena itu adalah momentum mustajabah. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya doa di antara adzan dan iqamat tidak akan pernah tertolak, karena itu berdoalah.” (HR. Ibnu Khuzaimah). Saatnya menunggu shalat!

*******

Republika.co.id/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here