Meraup Pahala di Hari Raya

0
9 views
Meraup Pahala di Akhir Ramadlan 1442 H.

Hikmah 12 May 2021, 03:30 WIB

Kampus Peradaban Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut.

“Idul Fitri juga adalah memomentum mewujudkan sejumlah ibadah sosial”

OLEH AHMAD RIFAI

Berakhirnya Ramadhan tak berarti ikhtiar menambah pahala ikut berhenti. Peluang meraup pahala tetap terbuka, termasuk di Hari Raya Idul Fitri.

Hari Raya Idul Fitri tidak sebatas shalat dua rakaaat. Banyak amalan lain yang telah diajarkan oleh Nabi SAW. Selain mudah diwujudkan juga menghasilkan pahala yang melimpah.

Kampus Peradaban Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut.

Sebagai contoh, memperindah diri di hari raya, baik secara fisik maupun pakaian. Sekilas unsur duniawinya lebih mencolok. Tapi karena Nabi SAW mencontohkannya, maka terbuka peluang untuk dikonversi menjadi amalan yang berpahala.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diceritakan, Umar pernah menawarkan jubah kepada Nabi agar dikenakan pada hari raya. Nabi juga memberikan jubah kepada Umar. Assindi berkata, “Dari kisah itu dapat diketahui bahwa memperindah diri di hari raya adalah tradisi yang menetap di kalangan para sahabat dan Nabi tidak mengingkarinya sehingga bisa diketahui kesunnahannya masih tetap berlaku.” (Hasyiah Assindi Alannasa’i, 3/181)

Saat berangkat ke tempat shalat juga terdapat peluang menambah pahala. Yaitu dengan memperbanyak mengumandangkan takbir. Lagi-lagi amalan ini sangat ringan. Tapi pahalanya sangat menggiurkan.

Allah berfirman yang artinya, “Hendaklah kamu mencukupkan bilangan bulan ramadan dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah: 185). Ibnu Jarir Atthobari berkata, “Dalam ayat ini terdapat perintah bertakbir setelah menyempurnakan puasa ramadan.” (Tafsir Atthobari, 3/479).

Jadi sunah bertakbir sudah bisa dimulai sejak terbitnya hilal Syawal hingga shalat Ied dilaksanakan. Adapun pelaksanaannya tidak terikat pada waktu atau tempat tertentu. Sehingga sunah bertakbir bisa dilakukan di rumah, jalan dan tempat-tempat lain.

Selain bertakbir, sunah lain yang diajarkan oleh Nabi SAW adalah makan beberapa biji kurma sebelum berangkat shalat Ied. Hikmahnya untuk memastikan bahwa pada hari itu kita telah berbuka. Anas Radhiallohu Anhu berkata, “Tidaklah Nabi shallallahu alaihi wasallam berangkat shalat Idul Fitri hingga makan kurma dan beliu mengkomsumsi dengan jumlah yang ganjil.” (Riwayat Bukhari).

Selain ibadah yang bernuansa ritual, Idul Fitri juga adalah memomentum mewujudkan sejumlah ibadah sosial. Misalnya, menyambung dan mengeratkan silaturahim dan ukhuwah. Meski ada pembatasan karena pandemi, ibadah sosial ini tetap bisa ditunaikan melalui fasilitas tehnologi yang semakin canggih.

Dengan menghadirkan amalan-amalan yang diajarkan oleh Nabi SAW, maka itu berarti kita telah mengagungkan syiar Allah. Dan itu adalah bagian dari ketakwaan hati. Allah berfirman yang artinya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 32).

*****

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here