Meraih Kebahagiaan

0
2 views
Raih Kebahagiaan.

Hikmah 09 Sep 2021, 03:30 WIB

Raih Kebahagiaan.

“Mari kita raih kebahagiaan dengan senantiasa mencintai Allah SWT, berbaik sangka, dan ridha terhadap setiap keputusan-Nya”

OLEH KH ATHIAN ALI M DA’I

Tidak seorang pun yang kuasa mengetahui sesuatu yang akan terjadi (QS Luqman: 34). Jangankan manusia biasa, Rasulullah SAW sekalipun tidak pernah bisa memastikan yang akan terjadi.

“… Jika sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku akan melakukan kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan pernah ditimpa oleh kemudharatan.” (QS al-A’raf: 188).

Oleh karena ketidakmampuan membaca hikmah dari rencana Allah SWT di balik suatu peristiwa, sangat mungkin seseorang mengira sesuatu itu tidak baik, padahal ia sangat baik untuknya. Sebaliknya, sangat mungkin seseorang mengira sesuatu itu baik, padahal ia sangat buruk baginya (QS al-Baqarah: 216, an-Nisaa: 19).

Ketidakmampuan mengetahui apa yang terbaik untuk kehidupan esok, lusa, dan pada masa mendatang bisa berakibat lebih fatal lagi.

Hal itu manakala seseorang di samping berusaha juga ngotot berdoa memohon kepada Allah sesuatu yang jika saja doanya dikabulkan, niscaya dia akan menyesal karena sesungguhnya yang diminta itu sebenarnya sesuatu yang tidak baik yang dapat mencelakakan dirinya (QS al-Israa: 11).

Karena itu, demi menggapai keselamatan dan kebahagiaan, setiap mukmin harus berhusnudzan (berbaik sangka)  kepada Allah SWT yang Mahatahu apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.

Namun, agar seseorang dapat meyakini bahwasanya yang ditetapkan Allah SWT pasti sesuatu yang terbaik baginya, yang bersangkutan harus yakin jika dirinya benar-benar dicintai Allah SWT.

Untuk dicintai Allah SWT, seseorang harus benar-benar mencintai Allah SWT dan rasul-Nya. Mengalahkan cintanya kepada dunia dan segala isinya dengan senantiasa mematuhi semua aturan Allah dan rasul-Nya (QS at-Taubah: 24).

Jika telah berupaya secara optimal untuk mematuhi syariat Allah, seseorang berhak untuk meyakini jika setiap keputusan Allah terhadap dirinya pasti yang terbaik.

Kendati, katakanlah, sejuta akal manusia mengatakan tidak baik. Terlebih, Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwasanya Allah SWT akan menetapkan untuk seseorang sesuai dengan apa yang dia sangkakan.

Diriwayatkan suatu ketika Rasulullah SAW menjenguk seseorang yang sedang sakit demam. Beliau pun berupaya menghibur dan membesarkan hati orang tersebut lewat sabdanya: “Semoga penyakitmu ini menjadi penghapus dosamu.”

Orang itu menjawab: “Namun, ini adalah demam yang mendidih, yang jika saja menimpa orang tua yang sudah renta, niscaya akan menyeretnya ke lubang kubur.” Mendengar keluhan yang bersangkutan, Rasulullah SAW bersabda: “Jika demikian anggapanmu, akan seperti itulah yang terjadi.” (HR Ibnu Majah).

Karena itu, bagi setiap mukmin yang telah mencintai Allah dan rasul-Nya, haram baginya suudzan (berburuk sangka) kepada Allah SWT. Sebaliknya, wajib baginya husnudzan (berbaik sangka) dan senantiasa ridha menerima segala keputusan Allah SWT (HR Ahmad).

Mari kita raih kebahagiaan dengan senantiasa mencintai Allah SWT, berbaik sangka, dan ridha terhadap setiap keputusan-Nya.

******

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here