Menjadi Tamu Allah dan Haji Mabrur

Menjadi Tamu Allah dan Haji Mabrur

491
0
SHARE
(Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah).

27 May 2023, 03:30 WIB

(Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah).

“Ada perubahan diri menuju yang lebih baik bagi mereka yang mendapat predikat haji mabrur”

Oleh SIGIT INDRIJONO

Allah SWT berfirman, “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS al-Hajj [22]: 27).

Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah agar menyeru kepada manusia untuk melaksanakan haji ke Baitullah yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim atas perintah Allah.

(Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah).

Seruan itu didengar dan dipenuhi oleh orang-orang sampai hari kiamat yang telah dicatat oleh Allah bahwa mereka akan melaksanakan ibadah haji. Jawaban mereka adalah, Labbaik Allahumma labbaik” (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah).

Seruan itu didengar dan dipenuhi oleh orang-orang sampai hari kiamat yang telah dicatat oleh Allah bahwa mereka akan melaksanakan ibadah haji”

Selengkapnya adalah,Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak

(Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu). (HR Muslim). Ini adalah kalimat talbiyah.

Jumhur atau mayoritas ulama menilai bahwa melafazkan talbiyah adalah sunah muakkad. Sebanyak mungkin dilafazkan sejak niat ihram haji hingga melempar jumrah aqabah pada hari Nahar, yaitu 10 Dzulhijjah.

“Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS Ali Imran [3]: 97).

Ayat di atas adalah peringatan bagi yang telah istitha’ah, yakni memiliki kemampuan secara syariat untuk berhaji, tetapi masih belum berniat dan berencana melaksanakannya.

Allah SWT berfirman, “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah SWT.” (QS al-Baqarah [2]: 196).

Ayat tersebut, selain berisi perintah kepada kita untuk berhaji secara ikhlas karena Allah SWT, juga perintah untuk menyempurnakannya. Untuk itu, diperlukan pemahaman manasik haji, yaitu tata cara ibadah haji sesuai syariat.

Selain harus memahami dengan baik dan benar tata cara pelaksanaan ibadah haji sesuai tuntunan syariat, tentu lebih baik lagi jika bisa memahami makna yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji”

Selain harus memahami dengan baik dan benar tata cara pelaksanaan ibadah haji sesuai tuntunan syariat, tentu lebih baik lagi jika bisa memahami makna yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji.

Berbagai macam makna simbolis seperti pakaian ihram, thawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara Bukit Safa dan Bukit Marwah, wukuf di Padang Arafah atau melempar jumrah, harus dipelajari dan dimengerti.

Dengan demikian, ibadah haji dapat dilakukan dengan penuh penghayatan secara mendalam, bukan sekadar ritual gerak fisik tanpa makna.

Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji, dan orang yang berumrah adalah tamu Allah. Allah memanggil mereka, maka mereka pun memenuhinya. Dan mereka meminta kepada-Nya, maka Dia berikan kepada mereka (Dia kabulkan).” (HR Ibnu Majah).

Hadis di atas menerangkan bahwa orang yang berhaji adalah tamu Allah. Mereka dimuliakan oleh Allah SWT sebagaimana layaknya tamu dimuliakan.

Jamaah haji sebagai tamu Allah, hendaklah ketika bertamu selalu menjaga adab bertamu dengan bertingkah baik, berkata baik, menjaga diri untuk tidak melakukan keburukan.

Jamaah haji sebagai tamu Allah, hendaklah ketika bertamu selalu menjaga adab bertamu dengan bertingkah baik, berkata baik, menjaga diri untuk tidak melakukan keburukan”

“Musim haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi.Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Bawalah bekal, kareana sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” (QS al-Baqarah [2]: 197).

Di samping perbekalan materi dan kesiapan secara fisik, bekal terbaik untuk berhaji adalah takwa, seperti yang diterangkan pada ayat di atas. Ayat di atas juga berisikan larangan selama berhaji, yaitu berkata jorok, berbuat maksiat, dan bertengkar.

Rasulullah SAW bersabda, “Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR Bukhari dan Muslim).

Imam Nawawi dalam Syahr Shahih Muslim menerangkan bahwa haji mabrur adalah ibadah haji seseorang yang diterima oleh Allah SWT, sehingga ada perubahan diri menuju yang lebih baik dan tidak melakukan berbagai maksiat setelah kembali dari ibadah haji.

Wallahu a’lam.

**********

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY