Menggapai Takwa di Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut

0
17 views
Upaya Menggapai Takwa di Ponpes/Kuttab Yadul 'Ulya Garut.

Hikmah 05 May 2021, 03:30 WIB

Upaya Menggapai Takwa di Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut.

“Apa indikasi seseorang telah menggapai takwa, Alquran telah memberikan rincian indikasinya”

OLEH IMAM NAWAWI

Ramadhan 1442 H akan berakhir. Jika diibaratkan kompetisi, maka inilah saat-saat terbaik memacu diri dalam ragam kebaikan yang Allah perintahkan, mulai dari mengencangkan ikat pinggang, amal saleh dan beragam kebermanfaatan bagi kehidupan sesama. Dan, itulah manifestasi dari ketakwaan yang sudah semestinya digapai oleh setiap insan yang berpuasa di bulan Ramadhan.

Seperti jamak dipahami, tujuan atau target dari dijalankannya ibadah puasa adalah untuk menjadi pribadi bertakwa, yakni pribadi yang senantiasa berhati-hati di dalam kehidupannya, sehingga tidak lengah apalagi sampai terperosok dalam melangkah hingga hidup kian jauh dari Allah Ta’ala.

Seperti yang diterangkan dalam satu riwayat bahwa suatu waktu, Abu Hurairah RA ditanya oleh seseorang, “Wahai Abu Hurairah, apakah yang dimaksud dengan takwa itu?”

Abu Hurairah menjawab pertanyaan itu dengan memberikan ilustrasi. “Pernahkah engkau melewati suatu jalan dan engkau melihat jalan itu penuh dengan duri? Bagaimana tindakanmu untuk melewatinya?”

Orang itu menjawab, “Apabila aku melihat duri, maka aku menghindarinya dan berjalan di tempat yang tidak ada durinya, atau aku langkahi duri-duri itu, atau aku mundur.”

Abu Hurairah cepat berkata, “Itulah dia takwa!” (HR Ibnu Abi Dunya).

Oleh karena itu, takwa harus benar-benar dipahami untuk selanjutnya digapai sehingga kualitas diri semakin tinggi di sisi Allah Ta’ala. Lantas apa indikasi seseorang telah menggapai takwa, Alquran telah memberikan rincian indikasinya?

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) pada saat sarra’ (senang) dan pada saat dlarra’ (susah), dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran [3]: 134).

Jadi, hati kita harus semakin senang atau gemar dengan sedekah, baik dalam keadaan diri lapang maupun sempit. Kemudian tidak mudah melampiaskan amarah bahkan cenderung memilih untuk memberikan maaf atas kesalahan orang lain.

Pada saat yang sama senantiasa antusias dan gerak cepat dalam kebaikan-kebaikan dan kebermanfaatan bagi sesama.

Apabila hal di atas bisa menjadi bagian utama dari karakter diri insan yang berpuasa Ramadhan, maka jelas, takwa telah digapainya dengan baik. “Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS Taha [20]: 132).

Apabila mentalitas jiwa dermawan tumbuh di dalam diri orang yang berpuasa Ramadhan, hati dan pikirannya terfokus bagaimana menggapai derajat takwa, maka sungguh ia telah benar-benar beruntung. Beruntung yang tidak ada batasnya, baik di dunia maupun di akhirat. Itulah orang yang mendapatkan kemenangan.

******

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here