Menggapai Harapan

0
10 views
Santri Pesantren Tahfid, Yadul 'Ulya Garut Menggapai Asa Peroleh Ridha Allah SWT.

Hikmah

07 Jun 2022, 03:30 WIB

Masjid Pesantren Tahfidz, Yadul ‘Ulya Garut.

“Harapan selalu menjadikan seseorang hidup penuh etos kerja, bahkan etos perjuangan”

OLEH IMAM NAWAWI

Tidak satu pun manusia hidup tanpa harapan. Masing-masing jiwa, bahkan keluarga, bangsa, dan negara memiliki harapan-harapan besar penuh kebahagiaan dan kemuliaan.

Namun, yang banyak orang belum sadari adalah bahwa ada “hukum” yang harus ditempuh jika benar-benar ingin menggapai harapan. Hukum itu adalah menyertakan amal. Dalam ungkapan Ibn Athaillah, “Harapan adalah yang disertai amal.”

Jelas maksudnya adalah bahwa bukan harapan jika hanya diucapkan. Bukan harapan namanya jika tidak pernah diusahakan dan diperjuangkan. Harapan selalu menjadikan seseorang hidup penuh etos kerja, bahkan etos perjuangan.

Pesantren Tahfidz, Yadul ‘Ulya Panawuan Garut.

Harapan tanpa usaha, perjuangan, serta pengorbanan namanya adalah angan-angan atau khayalan. Sebagaimana Ma’ruf Al-Karkhi berkata, “Menghendaki surga tanpa amal adalah dosa. Mengharapkan pertolongan (syafaat) tanpa menetapi sebab adalah kebohongan. Dan, mengharapkan rahmat Allah seraya tetap mengerjakan maksiat adalah kebodohan dan ketololan.”

Orang yang seperti itu, kata Ibn Athaillah, adalah para pengkhayal, tukang berangan-angan. Mereka ingin kebaikan, tapi tidak ada usaha. Mereka merindu surga, tapi menekuni jalan ke neraka.

Mereka menghendaki pertolongan, tapi dengan cara menjauh dari sang pemberi pertolongan. Itu pula yang dahulu dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.

“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: ‘Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani’. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka.” Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar” (QS al-Baqarah [2]: 111).

Syekh Dr Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsir Al-Wajiz menerangkan bahwa itulah angan-angan dan syahwat yang mereka lakukan (Yahudi dan Nasrani) tanpa disertai kebenaran. Katakanlah kepada mereka wahai Nabi: “Tunjukkan bukti dan landasan kalian atas apa yang kalian katakan itu! Jika klaim dan pernyataan kalian yang sejatinya keliru itu kalian anggap benar.”

Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni menerangkan perihal mengapa ayat 111 surah al-Baqarah itu turun. Jadi, kala itu sebagaimana riwayat Ibn Abbas, ada orang-orang Nasrani Najran menghadap kepada Rasulullah SAW bersamaan dengan para pendeta Yahudi. Lalu mereka bertengkar di hadapan Rasulullah SAW perihal siapa yang benar dan akan masuk surga.

Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat ke-111 surah al-Baqarah itu sebagai jawaban bahwa baik Yahudi maupun Nasrani sedang berangan-angan. Allah SWT pun berfirman, jika hal itu bukan angan-angan, hendaknya ada bukti jelas dan nyata.

Namun, hal itu tidak akan pernah ada sebab Alquran telah Allah tetapkan sebagai pedoman hidup dan bukti tak terbantahkan perihal bagaimana manusia bisa mendapatkan nikmat masa depan (akhirat) berupa surga.

Allah Ta’ala kemudian menjelaskan bahwa orang yang masuk surga tidak terjebak oleh angan-angan, khayalan, atau mimpi kosong adalah yang mau berserah diri kepada Allah, patuh, dan tunduk, serta ikhlas beribadah kepada Allah Ta’ala semata.

Kemudian orang-orang itu sibuk dan semangat berbuat kebaikan dengan meneladan Rasulullah SAW.

*******

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here