Mengenang Jasa dr Sidharta Wafat di Puntang

0
41 views
Tiga Keping Baling-Baling yang Tersisa.
Tiga Keping Baling-Baling yang Tersisa.

“Burung besi ini, tak kan pernah mendarat di Bandara Husein”

Oleh : Abah John

Garutnews ( Ahad, 06/06 – 2021 ).

Pada usiaku 63 tahun, mendadak sontak teringat jasa baik dr Sidharta yang sejak aku balita hingga kelas empat ‘Sekolah Dasar’ (SD) Garuda Bandung. Berlangganan berobat ke kliniknya di Jalan Elang Bandung.

Berobat ke Klinik dr Sidharta pada favaliun rumah dinas milik ‘Perusahaan Negara Kereta Api’ (PNKA) tersebut, dengan membawa beragam keluhan mulai sakit demam, batuk, hingga mencret.

Tugu Merpati.

Biasanya diantar ibu atau kakak perempuanku, yang setiap berobat dipastikan disuntik kemudian disuruh antri mengambil obat di mantri, yang sekaligus bertugas memberi nomor antrian serta memanggil setiap seluruh pasien hendak berobat.

Masih teringat jelas demikian telitinya dr Sidharta mendiagnosa pasien, meski berpenampilan dingin juga serius serta bertutur kata pelan, namun berkesan sangat berwibawa sekali.

Tugu Merpati.

Bahkan yang paling kuingat, suatu kali berobat sangat ketakutan menjelang disuntik. Bersamaan jarum suntik menembus pantat sebelah kiri akupun menangis sambil kentut, kakak perempuanku tersipu malu. Sedangkan dr Sidharta menyikapinya dengan dingin.

Terimakasih dokter, yang sejak 20 Februari 1993 namamu bersama istri tercinta dr Ani Sidharta tertulis pada Prasasti Tugu Merpati di Kampung Cigunung Desa Cipaganti Kecamatan Cisurupan, sekitar 19 kilometer arah selatan dari pusat Kota Garut.

Prasasti Tugu Merpati.

Prasasti Tugu Merpati itu, diletakan dibawah tiga keping baling-baling yang tersisa dari pesawat Merpati CN-235 bernomor penerbangan MZ-5601 (MERPATI five six zero one), dengan nama lambungnya “Trangadi”.

Semula menerbangkan dr Sidharta beserta istrinya yang dikenal sangat aktif pada kegiatan ‘Ikatan Dokter Indonesia’ (IDI) dari Semarang Jawa Tengah Tengah Tujuan Bandung.

“Namun burung besi yang diterbangkan Capt. Pilot Fierda Basaria Boru Panggabean, 29 tahun ini, tak kan pernah mendarat di Bandara Husein Sastranegara”

Lantaran, pada Ahad 18 Oktober 1992 di tengah cuaca hujan disertai kabut pekat, sekitar pukul 13:40 WIB terdapat ledakan keras. Hidung pesawat menancap tebing, menghadap ke selatan. Seluruh 27 penumpang beserta empat awak tewas pada ketinggian 6.800 kaki atau sekitar 2.040 mdpl

“We are from Semarang…“ sebelumnya pula sapaan menerabas gelombang radio dari cokpit CN 235 Mz 5601 ke menara Bandara Husein Sastranegara, pukul 13.35 WIB, Ahad.

Abah John. (Foto : S. Budiani).

Capt. Pilot Panggabean mengabarkan pesawatnya berada di atas Cirebon berketinggian 12.500 kaki (4.144 mdpl). Trangadi, siap mendarat di Bandung 21 menit kemudian.

Cuaca Bandung ketika itu kurang bersahabat. Sumardi, petugas APP (Aprroach Control Office) Husein Sastranegara mengabarkan, hujan turun disertai guntur.

Awan bergelantungan meski tak terlalu tebal, pandangan visual hanya mengjangkau 4-5 kilometer. “Maintain one two five,” Sumardi berpesan agar memertahankan ketinggian 12.500 kaki.

Bagi penerbang berpengalaman 6.000 jam terbang seperti Fierda, cuaca Bandung saat itu mungkin tak terlalu mencemaskan. Maka dengan sepengetahuan APP di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Fierda menurunkan Trangadi hingga 8.500 kaki (2.833 mdpl).

Dikabarkan manuver itu ke Bandung pukul 13.40 WIB dan memutuskan melakukan pendaratan visual approach, mengandalkan pandangan mata.

Sumardi memersilahkan membuka kontak kembali setelah Trangadi melihat ujung landasan Bandara Husein.

Namun kontak tersebut tak pernah ada. Trangadi tak kan pernah mencapai Bandung. CN 235 mengakhiri perjalanannya dengan tragis di tebing Gunung Puntang berketinggian 2.040 mdpl, pesawatpun berkeping, terbakar.

Maskapai Merpati mendirikan tugu peringatan jatuhnya CN-235. Tertulis 31 korban. Bahkan jalan menuju Desa Cipaganti juga diabadikan menjadi Jalan Merpati.

Tugu Merpati 

SEBAGAI UNGKAPAN RASA TERIMAKASIH ATAS PERAN SERTA MASYARAKAT SETEMPAT DALAM PENGEVAKUASIAN KORBAN MUSIBAH PESAWAT MERPATI CN-235 PK-MNN PADA TANGGAL 18 OKTOBER 1992 DI DESA CIPAGANTI KECAMATAN CISURUPAN KAB. GARUT JAWABARAT.

MAKA P.T MERPATI NUSANTARA BERSAMA KODAM III SILIWANGI DAN PEMDA GARUT MENYUMBANGKAN BANTUAN “PERBAIKAN JALAN DAN BALAI DESA”

CIPAGANTI, 20 FEBRUARI 1993

DAFTAR KORBAN

AWAK PESAWAT
1. CAPT. FIERDA PANGGABEAN, 2. F/0 ADNAN S.PAAGO, 3. C/ A RITA RUSLIATI, 4. C/ A KETTY.

PENUMPANG
1. MISS. YANA RUSWITA, 2. MR. RECKY TIRTO SUTOMO, 3. MRS. RECKY TIRTO SUTOMO, 4. MRS. ANNI, 5. MR. TRISNA HIDAYAT, 6. MR. VICTOR RATAK, 7. MR. KOSIM, 8. MRS. ETTY SURYATI, 9. DELLA (32 DL).

10. CHILD MEKA FITRIANI (9 TH), 11. CHILD FAUZAN (3,5 TH), 12. MR. EFFENDI,  13. MR. EDDY, 14. MR. GOUW LAM SWIE, 15. MR. USMAN, 16. MR. SIDHARTA, 17. MRS. SIDHARTA, 18. MISS. VIVI.

19. CHILD TIA (5 TH), 20. MRS. YATTY SUMARDI, 21. MR. ADJA WIKARJA, 22. MR. HARYOKO, 23. MR. TAN KIM CHING, 24. MR. BOY INDRA SUTOPO, 25. MR. ISDIANTO, 26. MR. PRABOWO, 27. MR. TIRTA HALIM.

******

Pelbagai Sumber, Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here