Memotret Geliat Perekonomian Riel Lembah Gunungapi Guntur

0
94 views
Pendakian Bersama “Uncle Bill Garut”.
Pendakian Bersama “Uncle Bill Garut”.

“Tersaji Sweet Mommy Cake”

Garutnews ( Ahad, 19/09 – 2021 ).

Denyut nadi perekonomian riel masyarakat di lembah kaki Gunungapi Guntur Garut, kini menuai asa bisa membuahkan terpenuhinya kerbutuhan pokok bahkan pengembangan investasi yang menjanjikan di tengah pandemi. 

Dengan maksimal memanfaatkan tofografi pesona panorama alami bersamaan masih terlelapnya tremor gunungapi tersebut.

Sehingga saban akhir pekan, seputar titik lokasi pos pendakian gunung ini banyak didatangi pengunjung termasuk warga setempat, yang menyempatkan berolahraga pagi.

Pendakian Bersama “Uncle Bill Garut”. (Foto: Ist).

Sekaligus menikmati hembusan angin gunung yang sarat pula menyelinap dari celah celah liukan tapal kuda bekas bentukan aliran lahar dingin pada ratusan tahun silam, ketika gunung itu beberapa kali mengalami beberapa erupsi.

Maka bagi para pendaki pemula juga komunitas penempuh rimba dan pendaki gunung serta pengunjung lainnya pada titik lokasi pos pendakian tersebut, khusus disediakan wahana rehat sejenak.

Dengan sajian ragam kuliner termasuk ‘Sweet Mommy Cake’ serta sajian kopi panas produk “Uncle Bill Garut”. Malahan setiap pengunjung pun dapat menelusuri sejarah letusan gunungapi ini.

Pendakian Bersama “Uncle Bill Garut”. (Foto: Ist).

“Raksasa 174 Tahun Masih Terlelap Tidur”

Gunungapi Guntur dengan nama lain Gunung Gede, kawahnya dikenal bernama Kawah Guntur.

Tipe gunungapi ini,  Strato di Kabupaten Garut, Jawa Barat, berketinggian 2.249 mdpl berjarak sekitar 1.600 meter dari pusat kota terdekat.

Berlokasi di Desa Sirnajaya, Tarogong, Garut. Guntur nama sebuah puncak dari suatu kelompok gunungapi disebut Komplek Gunungapi Guntur.

Sweet Mommy Cake’

Komplek Gunungapi ini terdiri beberapa kerucut, terdiri Gunung Masigit (2.249 mdpl) merupakan kerucut tertinggi.

Ke arah tenggara dari Masigit terdapat kerucut Gunung Parukuyan (2.135 mdpl), Gunung Kabuyutan (2.048 mdpl).

Pendakian ke puncak atawa kawahnya bisa dari Kampung Citiis sebelah selatan Gunungapi Guntur.

Denyut nadi perekonomian riel masyarakat di lembah kaki Gunungapi Guntur Garut.

Pemukiman penduduk sekitar Gunungapi Guntur umumnya berada pada ketinggian 600 – 1000 mdpl.

Pemukiman ini sebagian besar terkonsentrasi di kaki tenggara, dan selatan serta sebagian kecil di kaki timur dan utara.

Sedangkan sejarah letusannya, pada 1690 : Letusan besar, banyak penduduk menjadi korban, daerah rusak, disusul letusan pada 1770, 1777.

Panorama Alami.

Pada 1780 terjadi aliran lava, 1803 : Letusan pada 3-15 April,  1807 : terjadi letusan pada 9 Mei, serta letusan  1809.

Disusul letusan pada 1815 : 15 Agustus, letusan 1815/1816 : 21 September, letusan 1816 : 21-24 Oktober, letusan  1825 : 14 Juni, hutan di sekitar gunung terbakar, serta letusan  1827/1828.

Sedangkan letusan pada 1829 : beberapa kampung hancur, sejumlah penduduk menjadi korban, letusan 1832 : 16 Januari, 8-13 Agustus, letusan  1833 : 1 September, letusan 1834/1835/1836 : Desember, serta letusan 1840 : terjadi aliran lava ke Cipanas.

Rehat Sejenak.

Pada 1841 : 14 Nopember, letusan sangat besar sekitar 400.000 batang pohon kopi hancur, 1843 : 4 Januari dan 25 November tanah rusak, dan beberapa kampung terlanda,  serta letusan pada 1847.

Karakter Letusan Eksplosif, dengan periode letusan antara 1800 hingga 1847 tercatat tak kurang dari 21 kali letusan.

Letusan itu berulang-ulang dalam tempo pendek, berlangsung paling lama lima sampai 12 hari.

Periode letusan juga berselang-selang antara 1, 2 dan tiga tahun serta ada kalanya letusan terjadi setelah masa istirahat enam, dan tujuh tahun.

Gunungapi Guntur tak berdiri sendiri sebagai kerucut tunggal, sebab pada bagian puncaknya dicirikan adanya kerucut-kerucut tua bekas titik erupsi, merupakan satu kelompok besar Gunungapi Guntur.

Dari kelompok besar Gunung Guntur itu, nampak dua buah kaldera, masing-masing Kaldera Pangkalan di sebelah barat, dan Kaldera Gandapura di sebelah timur.

*******

Compiler : M. Hendrasto (totok@vsi.esdm.go.id)

Editor : Mas Atje Purbawinata, Asnawir Nasution.

Pada “Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi (PVMBG).

Fotografer  : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here