Konflik Berkepanjangan Status Pemanfaatan Kawasan Gunungapi Guntur

0
63 views
Lekukan Lintasan Tapal Kuda Gunungapi Guntur Garut.
Kaldera Kawah Puncak Gunungapi Guntur.

“Pemkab Tunggu Jawaban Pemerintah Pusat”

Garutnews ( Ahad, 22/08 – 2021 ).

Pemkab Garut masih menunggu jawaban pemerintah pusat mengenai pengajuan percepatan perubahan fungsi kawasan Gunungapi Guntur dari cagar alam (CA) menjadi taman wisata alam (TWA).

Lantaran beragam persoalan berkaitan status dan pemanfaatan kawasan Gunungapi Guntur penyebab konflik berlarut-larut dengan masyarakat sekitarnya, mendesak adanya evaluasi menyeluruh pada fungsi kawasan tersebut dari semua pihak, terutama pemerintah dan pemangku kawasan.

Apalagi populasi penduduk berikut permukiman juga pelbagai pembangunan ekonomi berikut sarana prasarana penunjangnya kian berkembang dinamis setiap tahunnya.

Sejumlah persoalan monohok tak kunjung usai di kawasan CA berjarak sekitar 3,5 kilometer dari pusat kota Garut itu, di antaranya semakin masif aktivitas penambahan pasir ilegal di dalam kawasan CA Kawah Kamojang komplek Gunungapi Guntur mencapai sekitar 300 hektare.

Bahkan tak terkendalinya aktivitas wisata ilegal, juga tak terkendalinya pemanfaatan air oleh masyarakat serta pelaku kegiatan wisata sekitar kawasan.

Sehingga apabila kondisi ini dibiarkan maka tak mustahil bisa berdampak kerusakan berat malahan terjadi bencana alam yang justeru bakal merugikan masyarakat.

Kawasan tersebut berlokasi antara kawasan TWA Kawah Kamojang komplek Gunungapi Guntur sebelah utara atau dikenal Blok Citiis dengan daerah pendakiannya, serta dikelilingi kawasan wisata pemandian air panas dan wahana Paralayang Gunung Puteri sebelah selatan menarik banyak pengunjung wisatawan.

Sedangkan perubahan status fungsi kawasan dari CA menjadi TWA dinilai merupakan solusi paling tepat mengatasi ragam persoalan pada kawasan komplek Gunungapi tersebut.

Pemkab Garut pun mengusulkan percepatan perubahan fungsi kawasan ini kepada Menteri LHK pada 9 Maret 2021 melalui surat ditandatangani Bupati Rudy Gunawan bernomor 540/813/SDA, perihal Dukungan dan Permohonan Percepatan Perubahan Fungsi CA Kawah Kamojang Komplek Gunungapi Guntur di kabupatennya.

Dalam suratnya, Rudy menyebutkan, pihaknya mendukung usulan dan percepatan dilaksanakannya evaluasi kajian fungsi kawasan di CA Kawah Kamojang komplek Gunungapi Guntur dengan pertimbangan Gunungapi Guntur merupakan salah satu destinasi wisata dengan jumlah kunjungan wisatawan cukup tinggi dari dalam maupun luar Garut.

Gunungapi Guntur memiliki permasalahan cukup komplek, dari segi sosial maupun ekonomi yang secara tak langsung memengaruhi kondisi biofisik dan ekologisnya.

Juga, sebagian besar masyarakat sekitar kawasan berpencaharian sebagai petani, penyedia wisata, dan penggali pasir serta berketergantungan tinggi dalam pemanfaatan kawasan.

Diharapkan, menjadikan kawasan CA sebagai bagian dari TWA mampu mengatasi permasalahan selama ini, dalam hal pelaksanaan kegiatan wisata, pemanfaatan jasa lingkungan, dan penambangan pasir ilegal, serta memberi jalan peluang bagi masyarakat penggali pasir beralih profesi ke kegiatan wisata berbasis konservasi.

Karena itu, usulan perubahan status fungsi kawasan sebenarnya bukan hal baru. Sejak lama masyarakat termasuk kalangan pecinta lingkungan hidup menyuarakan persoalan tersebut.

Bahkan 2015, Deddy Mizwar ketika itu Wagub Jabar sempat menyatakan akan mengajukan mengajukan usulan kawasan CA menjadi TWA ke Kementerian LHK. Agar lokasi yang rusak bisa  diperbaiki atau direklamasi, dan ada pemanfaatan dari lahan bagi ekonomi masyarakat setempat.

Dia juga menyebutkan Gunungapi Guntur memiliki potensi cukup besar dijadikan objek wisata. Namun bisa dilakukan jika direklamasi, dan statusnya berubah menjadi TWA.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Garut BBKSDA Jawa Barat Dodi Arisandi didampingi Kepala Resort CA/TWA Kawah Kamojang Sepdi Hendayana mengakui adanya usulan percepatan perubahan status fungsi kawasan CA menjadi TWA diajukan Pemkab Garut.

“Kita menyambut baik ada usulan perubahan kawasan. Pemkab Garut juga memang sudah mengajukan, dan masih dalam proses. Komunikasi dengan masyarakat sekitar serta pemerintahan kecamatan dan desa setempat juga terus kita lakukan berkaitan usulan perubahan fungsi kawasan CA,” kata Sepdi, Ahad (22/08-2021).

Dia pun mensyukuri ada perubahan sikap masyarakat yang kini mulai menyadari pentingnya menjaga kelestarian lingkungan kawasan Gunungapi Guntur, dan tak hanya sekadar mengeruk kemanfaatannya.

Tak sedikit mantan penggali pasir beralih profesi ke kegiatan wisata. Baik membuka usaha warung, kios cenderamata, pemandu maupun ojek atau pengantar wisatawan.

“Di beberapa desa berbatasan sekitar kawasan bahkan terbentuk masyarakat mitra Polhutani,” katanya.

*****

Abisyamil/Ilustrasi Fotografer : John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here