Lingkungan Sehat Membentuk Kualitas SDM Berperadaban Unggul

Lingkungan Sehat Membentuk Kualitas SDM Berperadaban Unggul

215
0
SHARE
“Lembok Leuweungna, Curcor Caina, Tinantu Hurip Rahayatna, Ngarumawat Leuweung Sarua Nyaah Ka Diri Urang Pribadi Yu Atuh Urang Wujudkeun Leuweung Tutupan, Titipan, Garapan, Larangan Sareung Leuweung Cadangan Pikeun Nyalametkeun Urang Balarea,” ungkap Mama Uluk pula (Pupuhu Masyarakat Adat Kampung Dukuh).

Oleh : Gun Gun Sukma Utama, ST 

Mama Uluk : Lembok Leuweungna, Curcor Caina, Tinantu Hurip Rahayatna, Ngarumawat Leuweung Sarua Nyaah Ka Diri Urang Pribadi Yu Atuh Urang Wujudkeun Leuweung Tutupan, Titipan, Garapan, Larangan Sareung Leuweung Cadangan Pikeun Nyalametkeun Urang Balarea. (Fotografer : Abah John).

‘Menyatu Dengan Lingkungan’

Garutnews ( Senin, 05/07 – 2022 ).

Kondisi lingkungan yang sehat bisa membentuk kualitas ‘Sumber Daya Manusia’ (SDM) yang berperadaban unggul.

Lantaran sehatnya lingkungan yang asri, bersih, hijau, sejuk, dan biru. Selain mewujudkan rasa nyaman juga memberikan energi ragam inspirasi positip sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.

Sehingga senantiasa diperlukan upaya maksimal memaknai sekaligus mengimplementasikan makna ‘manusia merupakan bagian integral dari alam semesta’.

Gun Gun Sukma Utama, ST (Foto : Abah John).

Menyusul setiap ‘mintakat’ (zona dengan beragam jenis iklimnya) sebagai satu-kesatuan. Mulai dari Mintakat Pegunungan (Alpen) hingga zona pesisir pantai pada ketinggian nol ‘meter diatas permukaan laut’ (mdpl).

Karena itu sejalan dengan momentum diperingatinya ke-55 HLH (Hari Lingkungan Hidup), yang mengusung tematik ‘Menyatu Dengan Lingkungan’ dalam artian kita selalu menjaga alam, maka alam pun menjaga kita.

Manusia bagian integral dari alam tersebut, bukan sebagai penguasa alam. Melainkan berkewajiban menciptakan keserasian antara habit, habitus, dan habitat.

Namun jika manusia sebagai habitus berperilaku eksploitasi bahkan konfrontasi terhadap habitat alamnya, dipastikan manusia pasti kalah.

Sebab sesungguhnya sangatlah rapuh posisi kita di hadapan alam semesta dengan keindahan dan keteraturan tingkat tingginya (kosmos), bukan chaos.

Sedangkan manusia, berpotensi merusak keteraturan alam ini, bukan makhluk lain. “Apa yang bisa diraih, dan ditaklukkan manusia terlalu kecil di hadapan semesta yang tak terbatas” (Komaruddin Hidayat, 2006).

Maka hanya akal budi manusia terpujilah, yang mampu membaca “kekuasaan” alam ini. Menuntun manusia menuju kesalehan berempati pada alam, tak hanya kesalahen individu melainkan pula kesalahen sosial.

Merujuk gagasan Aldo Leopold (1994) mengenai etika bumi pada segala sesuatu yang hidup pada seluruh obyek natural dan proses pembentuk ekosistem tertentu. Meliputi tanah, air, flora, dan fauna yang kolektifnya bumi.

Allah SWT menguji manusia yang populasinya banyak, namun sejauh mana amanat manusia menjaga yang satu yakni ‘bumi’. Apabila gagal, kita seharusnya malu.

وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ وَّكَانَ عَرْشُهٗ عَلَى الْمَاۤءِ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗوَلَىِٕنْ قُلْتَ اِنَّكُمْ مَّبْعُوْثُوْنَ مِنْۢ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُوْلَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ هٰذَٓا اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Jika engkau berkata (kepada penduduk Makah), “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan setelah mati,” niscaya orang kafir itu akan berkata, “Ini hanyalah sihir yang nyata.” (QS Hud: 7).

“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?” (QS Al-Anbiya’: 30)

Allah SWT menyediakan semua yang berada di bumi ini untuk dimanfaatkan manusia, sebagaimana firman-Nya: “Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu.” (QS Al-Baqarah: 29)

Allah SWT menciptakan langit dan bumi sebagai ujian bagi manusia siapakah di antara mereka yang paling kuat imannya dan paling baik amalannya, yang paling berjasa untuk kemanusiaan.

Siapa yang paling menonjol keterampilannya, siapa yang paling tinggi hasil produksinya, siapa yang paling jujur dan ikhlas dalam usahanya, dan sebagainya.

Penyelenggaraan HLH di Kabupataten Garut tahun ini, berkolaborasi dengan DLH Provinsi Jawa Barat (Jabar) berpartisipasi dalam pengelolaan sampah menjadi magot. Digelar pula pemberian penghargaan serta penyerahan bibit pohon.

*****

Pelbagai Sumber.

Penulis : Kepala Bidang Konservasi Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati pada ‘Dinas Lingkungan Hidup’ (DLH) Kabupaten Garut.

SHARE
Previous articleGenerasi Menulis
Next articleMenggapai Harapan

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY