
Ahad 13 Jan 2019 11:49 WIB
Red: Karta Raharja Ucu

“Perasaan cinta pada diri sendiri secara berlebihan akan memerosokan ke jurang”
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Mursalin Yasland, wartawan Republika
Dalam mitologi Yunani, terdapat seorang pemuda bernama Narcissus. Ia terlahir dengan postur tubuh atletis dan memiliki wajah tampan. Banyak gadis tergoda dan tidak sedikit pula yang jatuh cinta padanya. Tapi, sayang tak satu pun mampu memikat pemuda tersebut. Narcissus pun tak memedulikan sang gadis. Tak jelas mengapa begitu?
Narcissus memiliki hobi berkaca. Tiap kali ia menatap wajahnya. Untuk menatap wajahnya, air kolam atau danau menjadi medianya. Sampai ia mengagumi sendiri ketampanan wajah dan tubuhnya sendiri. Jatuh cintalah ia pada dirinya sendiri. Seringkalinya menatap wajah dan mengagungkan dirinya sendiri, ia tercebur di kolamnya sendiri, dan mati.
Kisah ini terakhir disebut narcissme. Narcissme atau diindonesiakan biasa disebut narsisme. Sebuah gejala berlebihan dalam mencintai diri sendiri. Tak salah memang mencintai diri sendiri lebih penting. Itu fitrah bagi manusia. Tapi yang salah kalau sudah berlebihan (ghuluw). Perasaan cinta, senang, atau bangga (ujub atau riya’) pada diri sendiri secara berlebihan maka akan memerosokan dirinya sendiri ke jurang.
Berkaca pada diri sendiri, penting. Sebagai solusi sebelum melihat, merasakan, dan menyintai orang lain. Artinya, kemampuan diri, tak bisa dipaksakan untuk menyaingi orang lain. Atau istilahnya, baju sendiri, tak akan sama bila dipakai orang lain, begitu sebaliknya. Dalam Agama Islam disebut qonaah: bersyukur apa yang sudah ditetapkan Allah subhana watala. Atau bersabar dengan ketentuan yang telah ditakdirkan.
Lebih tak relevan lagi bila gejala narsis tersebut menggelayuti diri sendiri dalam keadaan apapun. Rasa eksklusivitas diri sendiri merasa lebih menonjol, lebih hebat dibandingkan yang lain. Diri kita merasa lebih unggul, lebih tinggi, lebih berpendidikan, lebih tampan, lebih cantik, lebih derajatnya, dan lebih-lebih lainnnya.
Padahal, bila kita olah rasa cinta pada diri sendiri dalam bermuamalah (bersosial). Tidak menghiasinya dengan sifat egoisme tapi sebaliknya melonggarkan diri dengan sifat altruisme (menolong orang lain). Maka modal itu dapat menular pada kehidupan kita terhadap orang lain. Kita dapat pula mencintai (menghargai) orang lain, sebagaimana kita dapat mencintai diri kita sendiri. Itu namanya rendah hati, bukan rendah diri.
Tony Raharjo dalam bukunya Larger than Life (2007) mengatakan, ukuran termudah cinta diri berlebih dan cinta diri sewajarnya adalah berapa banyak orang yang mencintainya. Semakin sedikit orang yang mencintainya, bisa jadi semakin besar kadar narcissme dalam dirinya.
Menurut dia, sederhana saja untuk melihatnya. Ia memberikan resep, sekarang mungkin kita bisa memulai menghitung diri. Jangan-jangan kadar narcissme pada diri kita termasuk tinggi. Kita coba menghitung kata ganti yang sering kita gunakan. Berapa banyak orang menggunakan kata “aku”, “diriku”, “milikku”, atau juga “kalau bukan saya”, “kalau saya tidak melakukannya”, dan kata atau kalimat pararelnya.
Dalam bersosial, kata atau kalimat semacam itu bila diperdengarkan lebih sering, justru membosankan bagi pendengarnya (orang lain). Gejala narsis mulai merusak kehidupan bersosial. Terlebih dalam bermedia sosial (medsos). Gejala narsis terwujud di era media daring.
Aksi swafoto di mana-mana terjadi dan di-share di medsos. Bahkan, terakhir di daerah bencana pun seperti tsunami Selat Sunda ada dan banyak dijumpai. Mulai anak muda dan orang biasa-biasa saja, juga swafoto merasuki para politisi bahkan presiden pun terjangkiti, apalagi sekarang tahun politik. Pencitraan, kata orang.
Teknologi komunikasi dan informasi, sedikit banyak telah menjerumuskan diri kita dalam budaya narsisme. Kebiasaan narsis di depan kamera telepon seluler ber-android, menjadi barang laku nyaris setiap orang. Tak salah juga berswafoto di mana pun berada. Semua bergantung niat dan motivasinya. Soal niat hanya Allah subhana watala dan Dialah yang tahu jawabannya.
Tapi, kalau sudah berlebihan seperti yang dilakukan pemuda Narcissus tadi, akhirnya tak baik juga. Orang yang melihat atau mendengar akan menjadi bosan. Tatkala kita mendengar penceramah yang selalu menyelipkan kata ganti menjadi “aku”. Atau ada celetukan dalam hati seorang pemilik akun, “itu lagi… itu lagi. Bosan ah….”.
Dalam interaksinya bersama Mooryati Soedibyo, pengalaman Rhenal Kasali dalam sebuah tayangan di Youtube bercerita, pada awal pemilihan (seleksi) putri Indonesia itu jauh berbeda ketika sesi berwawancara dengan miss universe. Ia menuturkan calon putri Indonesia hampir mayoritas menonjolkan dirinya sendiri dengan kata-kata “aku”, “aku”, dan “aku”.
Berbeda dengan miss universe yang sudah jadi, Rhenal menuturkan, malah ia lebih banyak mengidolakan lawan bicaranya (orang lain) atas kelebihan potensi lawan bicaranya dibandingkan dirinya sendiri. Ia selalu bercermin dengan orang yang dihadapinya untuk menambah modal kekuatan dirinya. Kata-kata “aku”, “aku”, dan “aku” nyaris tak terdengar seorang miss universe. Tapi, ini dalam penuturan, sekali lagi bukan dalam hal lain.
Teringat dengan manusia mulia Nabi Muhammad shallahu’alaihi wassalam. Tatkala ada sahabat yang sudah beberapa hari lapar tidak ada yang dimakan, sahabat mengikat perutnya dengan satu bata.
Sahabat bertemu Nabi dan menanyakan perihal ia lapar dan telah mengganjal perutnya dengan satu buah batu bata. Tapi, apa kata Nabi. Beliau membuka bajunya, dan terlihat ada dua bata yang sudah terikat di perutnya. Artinya, penderitaan orang lain, belum seberapa yang dipikul dirinya sendiri.
Umar bin Khatab radhiyallahu anha juga punya kisah. Ia merasa tak bisa tidur nyenyak dan tak ikhlas dengan kepemimpinannya. Ketika ada rakyatnya yang masih kelaparan atau tertindas oleh kekuasaannya, ia langsung bertindak cepat dan tak ada istilah menunggu.
Dalam shirahnya, mengetahui ada seorang ibu merebus batu untuk anaknya yang kelaparan, sembari mencela kepemimpinan Umar yang tidak peduli dengan orang susah. Umar langsung menggotong sekarung gandum dipikul sendiri mengantarkannya di depan pintu rumah seorang ibu tersebut pada malam hari tanpa diketahui sang ibu tadi.
Kisah lain Abubakar Assidiq dan Umar bin Khatab radhiyallahu anhuma. Tatkala menjelang jihad (perang) di masa Nabi Muhammad Shallahu’alaihi wassalam. Masing-masing sahabat menginfakkan hartanya untuk modal berperang. Sahabat Umar menginfakkan sebagian (separuh) harta yang dimiliknya di jalan Allah untuk modal berperang. Jumlah tersebut, dalam batin Umar sudah banyak dan tidak ada yang melebihinya. Ya, separuh harta bukan sedikit.
Tapi apa dinyana, sebelum Umar, ternyata Abu Bakar Assidiq telah menginfakkan seluruh (semuanya) hartanya, tanpa ada yang tersisa. Hal tersebut diketahui, setelah Nabi menanyakan kepada Abu Bakar. “(Kalau semua harta diinfakkan) Apa yang engkau sisakan di rumah?” Abubakar menjawab, “Aku masih punya Allah dan Engkau Rasulullah.”
Kisah-kisah inspiratif secuil ini yang setidaknya menjadi modal kita untuk lebih mencintai orang lain dibandingkan mencintai diri kita sendiri secara berlebihan. Kepedulian kepada orang di sekitar kita, terkadang dapat mengalahkan pada kepedulian pada diri kita pribadi dan keluarga kita sendiri.
Budaya berlomba-lomba dalam kebaikan, memudahkan urusan orang lain (dalam perkara kebaikan), dan juga menghilangkan budaya menari di atas penderitaan orang lain (egosentris), justru ujungnya akan berbuah kebaikan pula. Semoga tidak berakhir seperti pemuda Narcissus tadi. Wallahu a’lam bishawab.
********
Republika.co.id