Kisah Kekhusyukan Shalat Sang Ulama yang tak Terganggu Kehadiran Harimau

Kisah Kekhusyukan Shalat Sang Ulama yang tak Terganggu Kehadiran Harimau

179
0
SHARE
Shalat Berjamaah di Kampung Adat Dukuh Cikelet Garut.

Ahad 23 Oct 2022 12:10 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah

Karnivora, Pemakan Daging.

“Shalat khusyuk akan memberikan dampak bagi yang melaksanakannya”

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Kisah kekhusyukan shalat para ulama dan orang-orang saleh pada masa lalu, banyak diabadikan dalam sejarah. Bahkan serangan anak panah dan bahaya lainnya tak membuat mereka berpaling dari kekhusyukan shalat.

Shilah bin Asyam al-Adawi misalnya. Ia merupakan salah seorang fakih dari generasi tabiin. Ia dikenang sebagai seorang yang alim, tawaduk, serta ahli ibadah dan zuhud. Ada cerita tentangnya yang cukup menarik.

Seperti dinukil dari At-Tarikh al- Kabir, pada suatu ketika pertempuran terjadi di dekat area Sungai Induskini Afghanistan. Kaum Muslimin berhadapan dengan musuh.

Kekhusyukan Shalat.

Komandannya adalah Ja’far bin Zaid. Dari penuturan bawahannya, ia mengetahui bahwa Shilah bin Asyam ikut serta dalam jihad ini. Hatinya gembira begitu mendapatkan kabar tersebut.

Kemudian malam tiba. Para mujahid mendirikan tenda-tenda sebagai tempat beristirahat. Sebagian yang lain menyiapkan makanan di dapur darurat. Seusai makan malam, mereka mendirikan shalat Isya.

Di antara jamaah, terdapat Shilah bin Asyam. Seseorang kemudian menyampaikan kepada Ja’far tentang tabiin itu. Memang, selama ini sang fakih dikenal akan ibadahnya yang kuat.

Hanya Kepada Allah SWT Meminta Pertolongan juga RidhaNya.

Ja’far pun pergi untuk mengamati langsung bagaimana Shilah bin Asyam beribadah pada malam di tengah suasana perang.

Setibanya di tujuan, ia diam-diam menyaksikan seluruh jamaah telah menyelesaikan shalat. Mereka kembali ke tenda masing-ma sing.

Ternyata Shilah juga masuk ke dalam tendanya. Seperti para prajurit Muslim lainnya, sang tabiin pun tertidur.

Bersujud Kepada Allah SWT.

Melihat itu, Ja’far sempat berpikir, benarkah kebenaran informasi ihwal kekhusyukan sang alim dalam beribadah? Janganjangan, kabar itu hanyalah rumor?

Karena masih penasaran, Ja’far pun tetap berada di tempatnya. Tidak lama kemudian, ia melihat Shilah keluar dari tenda, sedangkan para prajurit nyenyak tertidur.

Shilah tampak menyiapkan diri dan lalu berwudhu. Kemudian, ulama tersebut memacu kudanya ke arah hutan yang lebat. Dengan tetap menjaga jarak, Ja’far mengikutinya dari belakang.

Di suatu tempat yang kosong, Shilah berhenti. Setelah turun dari kudanya, alim tersebut mencari arah kiblat. Kemudian, ia bertakbir untuk memulai shalat. Dari balik batu besar, Ja’far masih saja mengamati orang saleh itu dengan rasa kagum.

“Aku melihatnya dari kejauhan. Ia berwajah syahdu, berserah diri kepada Allah SWT. Seluruh anggota badan serta jiwanya tampak tenang. Seakan-akan, al-Adawi menemukan seorang sahabat dalam kesepian, menemukan cahaya dalam kegelapan,” ujar Ja’far seperti dikutip dalam At-Tarikh al-Kabir. 

Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba, Ja’far melihat seekor harimau muncul dari sisi kanan tempat ulama itu sholat. Hewan buas itu berjalan mengendapendap di belakang badan al-Adawi.

Ja’far sangat terkejut dan merasa takut. Ia cemas jikalau harimau itu sampai memangsa mereka berdua. Seketika, komandan pasukan Muslimin ini keluar dari persembunyiannya untuk memanjat pohon yang tinggi. Sebelum naik ke atas pohon, Ja’far sudah mengira bahwa Shilah akan langsung membatalkan shalatnya.

Sebab, auman harimau begitu nyaring, mustahil tidak terdengar. Ternyata dugaan itu salah. Ulama tersebut masih saja khusyuk dengan ibadahnya. Tampak dari wajahnya, Shilah sangat menikmati shalat. Tidak dihiraukannya harimau yang terus mendekatinya.

“Demi Allah, Shilah tidak menoleh kepada harimau itu. Ia tidak memedulikan harimau yang sedang ada di hadapannya,” kata Ja’far. Mungkin saja, lelaki saleh itu belum menyadari kehadiran karnivora tersebut.

Barangkali, ketika akan sujud dirinya akan langsung bergerak menjauh. Namun, dugaan itu salah.

Shilah tetap bersujud dengan tenang. Sesudah itu pun, sang ulama tetap melanjutkan rakaat berikutnya. Adapun harimau itu masih mengaum dan berjalan mengitari lelaki itu. Akhirnya, ia duduk tahiyat akhir.

Seusai melakukan dua salam, Shilah tetap tenang walaupun mengetahui harimau di dekatnya. Bahkan, dahi hewan tersebut kemudian dipegangnya; seolah-olah binatang itu adalah kucing rumahan.

“Aku melihat, al-Adawi memegang harimau itu dengan tenang, sementara bibirnya mengucapkan sesuatu yang tidak begitu jelas kudengar,” ujar Ja’far.

Dan, tiba-tiba saja harimau tersebut berpaling dari Shilah al-Adawi. Hewan itu kemudian pergi tanpa suara, kembali ke kegelapan hutan belantara. Shilah tetap di sana hingga waktu Subuh.

Seusai shalat dengan Ja’far, ulama itu mengangkat kedua tangannya dan bermunajat. “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada- Mu agar menyelamatkan aku dari neraka. Apakah seorang hamba yang berbuat salah seperti aku ini berani untuk memohon surga kepada-Mu?” 

Ja’far menyaksikan, al-Adawi berulang kali melafalkan doa tersebut hingga menangis. Sang komandan pun ikut menitikkan air mata. Keduanya lalu kembali ke basis pasukan Muslimin, seakan-akan tidak terjadi apa-apa pada malam harinya

sumber : Harian Republika.

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY