Kematian Bayi di Garut Tinggi Didominasi BBLR

0
11 views
Ilustrasi UGD.
Rawan Penularan Wabah Penyakit.

“Terpapar Pandemi Covid-19 Bertambah 11 “

Garut News ( Ahad, 26/07 – 2020 ).

Di tengah bertambahnya 11 kasus terpapar Covid-19 di Kabupaten Garut, kondisi tersebut juga diperparah kematian bayi baru lahir dan kematian ibu melahirkan di kabupaten ini masih menjadi persoalan serius.

Sehari sebelumnya, Sabtu (25/07-2020) Pukul 19:16:42 WIB, Terkonfirmasi Covid-19 juga kembali bertambah menjadi 31 kasus.

Sehingga berdasar data Gugus Tugas Percepatan Penanganan coronavirus disease 2019 kabupaten setempat, totalitas terpapar predator pandemi maut tersebut seluruhnya mencapai 5.161. Terdiri 31 Positif, 84 PDP, 2.789 ODP, serta 2.257 OTG.

Sedangkan pada, Ahad (26/07-2020) Pukul 18:31:34 WIB, total yang terpapar bertambah 11 kasus menjadi  5.172. Terdiri 31 Positif, 84 PDP, 2.790 ODP semula 2.789, serta 2.267 OTG semula sehari sebelumnya 2.257.

“Didominasi BBLR”

Kabid Kesmas Dinkes Kabupaten Garut dr Tri Cahyo Nugroho katakan, kendati jumlah kasus kematian bayi 2019 mengalami penurunan dibandingkan 2018, namun penyebab kematian akibat BBLR justru melonjak dari semula 89 menjadi 104 kasus.

Kasus kematian bayi baru lahir dan kematian ibu melahirkan tersebut, hingga kini masih menjadi persoalan serius. Lantaran dalam dua tahun terakhir tercatat kematian bayi mencapai rata-rata 43 per bulan atau 4-5 setiap pekan. Penyebabnya didominasi faktor “berat badan lahir rendah”(BBLR).

“Selain BBLR, asfiksia atau kesulitan bernapas secara spontan dan teratur menjadi penyebab dominan pula tingginya kasus kematian bayi di Garut,” kata ungkap Tri Cahyo Nugroho, Ahad (26/07-2020).

Berdasar data Dinkes Kabupaten Garut, jumlah kematian bayi di Garut pada 2018 mencapai 271 kasus berpenyebab BBLR 89 kasus, lain-lain 68 kasus, asfiksia 66 kasus, kelainan bawaan 15 kasus, tetanus neonatorum (TN) 3 kasus, diare 2 kasus, infeksi 2 kasus, pneumonia atau radang paru 2 kasus, dan kelainan saraf 1 kasus.

Sedangkan 2019 jumlah kematian bayi berkurang menjadi 248 dengan penyebab BBLR mencapai 104 kasus, asfiksia 61 kasus, lain-lain 54 kasus, kelainan bawaan 19 kasus, sepsis atau infeksi darah 4 kasus, pneumonia 3 kasus, kelainan saluran cerna 2 kasus, dan diare 1 kasus.

Berdasar tempatnya, terbanyak bayi meninggal di rumah sakit mencapai 121 disusul di rumah 76, puskesmas 38 kasus, dan bidan/polindes 13 kasus.

Jumlah kematian bayi selama 2019 itu, jika dihitung per seribu kelahiran hidup maka angka kematian bayi (AKB)-nya mencapai 14,80%.

Selain banyaknya kematian, persoalan lain tak bisa dilepaskan menyangkut kesehatan bayi dan balita, masih banyaknya balita bergizi buruk, dan stunting/kerdil.

Berdasar data bulanan laporan gizi dalam rentang Januari-Juni 2020, ada 52 balita bergizi buruk, atau 0,02% dari 215.343 balita.

Jumlah balita mengalami stunting berdasar hasil bulan penimbangan balita (BPB) Februari 2020, hasil entri ke aplikasi E=PPGM (Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) 22 Juli 2020, mencapai 14.902.

Selain itu, kasus kematian ibu melahirkan masih tinggi mencapai 45 orang pada 2019, atau sedikit menurun dibandingkan 2018 yang mencapai 55 orang.

Perdarahan dan eklamsia (komplikasi kelainan masa kehamilan, saat persalinan, setelah persalinan ditandai tekanan darah tinggi dan kejang menjadi penyebab dominan terjadinya kasus kematian ibu melahirkan di Garut tersebut. Penyebab berikutnya sakit jantung, infeksi, dan lainnya.

Kebanyakan kematian mereka terjadi saat periode nifas/paskapersalinan (23 kasus), disusul saat persalinan (18 kasus), dan masa kehamilan (4 kasus).

Seperti kematian bayi, mereka pun kebanyakan meninggal di rumah sakit (40 kasus), disusul di rumah (2 kasus), di perjalanan (2 kasus), dan di puskesmas (1 kasus).

**********

Abisyamil, JDH/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here