Kacamata Lebah

0
25 views
Lebah.

Hikmah   10 Dec 2021, 03:30 WIB

 

Agro Park Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut.

“Karakteristik itulah yang membuat kacamata lebah menjadi istimewa”

 

OLEH HASAN BASRI TANJUNG

 

Konon, sebuah kerajaan di negeri antah berantah dipimpin seorang raja yang bijaksana. Ia sangat dicintai rakyatnya yang hidup makmur dan sejahtera. Namun, keadaan tersebut tidak berlangsung lama, sebab paduka meninggal dunia.

Setelah kematiannya, putra mahkota pun naik takhta. Ia lebih mementingkan keinginan pribadi dan hidup bergelimang kemewahan. Jika ia menginginkan sesuatu, harus segera dipenuhi. Suatu hari, sang raja mengumpulkan para pembesar di istana untuk mengutarakan keinginannya mengubah semua warna menjadi biru. Para petinggi dan prajurit kerajaan pun kalang kabut dibuatnya.

Kabar tersebut terdengar oleh seorang tua yang bertapa di pegunungan. Ia tidak tega melihat rakyat menderita karena nafsu egois sang raja.

Agro Park Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut.

Lalu, menemui raja di istana dan berkata, “Menurut hamba, apa yang tuan lakukan untuk mengubah semua warna perlu waktu dan biaya yang banyak serta akan menyusahkan rakyat negeri ini. Sekiranya berkenan, paduka dapat melakukan cara sederhana, yaitu memakai kacamata biru.”

 

Sejak itu, raja selalu memakai kacamata biru, sehingga segala yang dilihatnya berwarna biru (Disarikan dari buku Pesantren Dongeng, Awang Surya, 2011).

Kisah imajinatif di atas hendak menegaskan bahwa ketika manusia menilai sesuatu sangat bergantung pada cara pandang atau kacamata yang digunakan. Seorang mukmin mestinya memakai kacamata lebah yang sesuai dengan pandangan dunia tauhid (tauhid worldview).

 

Sebab, lebah senantiasa mendapat bimbingan Ilahi, tidak memakan selain yang baik, yakni kembang bebungaan yang sedang mekar dan memberikan madu yang penuh khasiat di manapun berada. Ketika hinggap di dahan pohon atau rumah pun tidak akan patah atau rusak (QS an-Nahl [16]: 68-69). Oleh karena itulah, Nabi Muhammad SAW mengibaratkan kepribadian seorang mukmin itu seperti lebah (HR Ahmad).

 

Pakar tafsir Alquran, Prof Quraisy Shihab, menjelaskan, keajaiban lebah bukan hanya jenisnya yang jantan dan betina, tetapi juga yang bukan jantan dan bukan betina. Juga, tidak hanya terlihat pada sarang-sarangnya yang tersusun dalam bentuk lubang-lubang yang sama bersegi enam dan diselubungi oleh selaput yang sangat halus untuk menghalangi udara atau bakteri menyusup ke dalamnya.

Pun, tidak hanya pada khasiat madu yang dihasilkannya, yang menjadi makanan dan obat bagi sekian banyak penyakit. Keajaiban lebah mencakup itu semua, dan mencakup pula sistem kehidupannya yang penuh disiplin dan dedikasi di bawah pimpinan seekor “ratu”, yang karena rasa “malu” menjadikannya enggan berhubungan seksual dengan salah satu anggota masyarakatnya (Membumikan Al-Quran, 1994: 339).

 

Karakteristik itulah yang membuat kacamata lebah menjadi istimewa. Pada tumpukan sampah, ia mencari kembang yang mekar. Juga, dalam terpaan musibah, ia melihat hikmah yang terselip di dalamnya. Sementara itu, kacamata lalat akan mencari bangkai yang busuk di tengah taman yang indah. Oleh karena itulah, argumentasi apa pun untuk meyakinkan kembang itu indah dan harum akan percuma bagi orang yang memakai kacamata lalat.   

Allahu a’lam bissawab.

******

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here