Jaringan Air Peninggalan Belanda Wahana Wisata Ilmiah

0
21 views
Jaringan sarana air bersih peninggalan era kolonialisme Belanda.
Jaringan sarana air bersih peninggalan era kolonialisme Belanda.

“My Darling” (Masyarakat Sadar Lingkungan)”

Garutnews ( Rabu, 14/09 – 2019 ).

Jaringan sarana air bersih peninggalan era pemerintahan Kolonialisme Belanda sejak ratusan tahun silam di kawasan perkebunan ‘teh’ Dayeuh Manggung Cilawu Garut, Jawa Barat, bisa dijadikan wahana destinasi wisata ilmiah.

Lantaran, saluran permanen sekurangnya sepanjang tujuh kilometer bersumberkan air pegunungan yang bersih hingga kini masih tetap bening itu. Selama ratusan tahun terakhir dirasakan manfaatnya oleh masyarakat perkebunan juga penduduk sekitarnya.

Sehingga fenomena ini, bisa menarik minat kalangan akademisi menyelenggarakan penelitian mengenai berfluktuatifnya debit beserta kondisi kualitas air tersebut di musim kemarau, dan penghujan.

Santriwati Kuttab Pesantren Yadul ‘Ulya pada Jaringan sarana air bersih peninggalan era kolonialisme Belanda.

Bahkan dapat menjadi situs peninggalan sejarah yang pada jamannya, sejauhmana kemajuan peradaban pembangun konstruksi jaringan pengairan sumber kehidupan, yang hingga sekarang masih mengalirkan banyak manfaat.

Kendati berkondisi nyaris menyerupai “kerakap di atas batu, hidup segan mati pun tak mau”. Sebab kuat mengindikasikan sejak kolonialisme Belanda hengkang dari Bumi Nusantara, hingga sekarang 77 tahun NKRI diproklamasikan merdeka.

Ternyata produk kaum penjajah itu bukannya bertambah berkualitas, melainkan semakin berkondisi parah.

Hingga Kini Masih Mengalirkan Sumber Kehidupan Umat Manusia.
Hingga Kini Masih Mengalirkan Sumber Kehidupan Umat Manusia.

Meski siapapun dipastikan bakal mengetahui, air merupakan salah satu sumber kehidupan. Air pun tak bisa diciptakan oleh umat manusia.

“Menelisik kondisi sarananya, barangkali bisa diibaratkan sapi perah, yang senantiasa di tuai air susunya, namun tak diberi pakan bergizi”.

Diperoleh pula informasi, perkebunan Dayeuh Manggung terhampar pada areal seluas sekitar 1.500 hektare, sejak 2014 silam dibudidayakan pula tanaman  jeruk seluas 15,85 hektare pada kawasan Afdeling Tengah.

Masing-masing di Blok Talang seluas 7,17 hektare, serta di Blok Btr Meong 8,68 hektare. Terdiri jenis Keprok Garut 3.365 pohon, Keprok Batu 55 (1.950 pohon), Keprok Madura 1.500 pohon, serta Keprok Trigas 1.800 pohon.

Selain itu juga dibudidayakan tanaman lengkeng, alfukat, serta kopi, sehingga areal perkebunan teh nya kini hanya menyisakan sekitar 130 an hektare.

Antara lain digarap 50 an pemetik teh, dengan produktivitas berkisar lima hingga 15 ton per hari. menyusul nampak pula areal bekas perkebunan teh nya yang kini berkondisi gamblung.

Masih Mengalirkan Denyut Nadi Kehidupan.
Masih Mengalirkan Denyut Nadi Kehidupan.

PT PN VIII Dayeuh Manggung, juga kini menggalakan potensi eko wisata di antaranya mewujudkan keasrian Kampoeng “My Darling” (Masyarakat Sadar Lingkungan).

Serta antara lain kemasan Kampoeng “Amsterdam” yang merupakan perumahan pegawai (dahulu dikenal dengan sebutan kuli kontrak) perkebunan peninggalan Belanda.

Ragam pembenahan kawasan berpotensi menjadi destinasi wisata sekarang gencar dilakukan itu, tertumpu harapan semakin ditingkatkannya kualitas ragam sarana-prasarana bernilai sejarah, seperti lintasan saluran air bersihnya.

Kampoeng "Amsterdam".
Kampoeng “Amsterdam”.

Kawasan Kampoeng "My Darling".
Kampoeng “My Darling”.

******
Esay/Fotografer : Abah John.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here