Jadikan Bulan Ramadhan Tahun Ini yang Terakhir

Jadikan Bulan Ramadhan Tahun Ini yang Terakhir

122
0
SHARE
Purnama Sya’ban 1445 H.

“Para sahabat Nabi SAW menyiapkan diri bertemu Ramadhan enam bulan sebelumnya”

— Sejak baligh, sudah berapa kali kita sebagai umat Muslim menjalani puasa Ramadhan? Dari Ramadhan ke Ramadhan, sudah berbekaskah ibadah kita? Atau hanya rutinitas atau formalitas saja untuk menggugurkan kewajiban menjalani rukun Islam ketiga ini.

Kampus Peradaban Pesantren Tahfidz & Kuttab, Yadul ‘Ulya Kampung Panawuan Garut.

Agar tidak sia-sia ibadah Ramadhan kita dari tahun ke tahun, seiring dengan usia kita bertambah dan jatah hidup berkurang, ada baiknya kita muhasabah. Ujung dari muhasabah ini, setidaknya bertekad menjadikan Ramadhan tahun ini yang terakhir dalam hidup kita, agar kita bersungguh-sungguh dalam beribadah.

Para sahabat Nabi Muhammad Sholallohu’alahi wassalam (SAW), telah menyiapkan diri menghadapi bulan suci Ramadhan enam bulan sebelumnya. Artinya, setengah tahun setelah Idul Fitri, mereka para sahabat rodhiyallohuanhum (ra) sudah mempersiapkan diri akan bertemu bulan Ramadhan berikutnya.

Bagaimana dengan kita yang hidup di zaman serba canggih serba mudah dan instan ini?

Kampus Peradaban Berkeunggulan Dengan Ridho, dan Rahmat Allah SWT.

Ketika masuk bulan Ramadhan, para sahabat Nabi SAW memasuki 10 hari terakhir semakin giat dan ekstra beribadah. Selain pahala puasa ditambah beribadah Ramadhan berlipat ganda, juga terdapat satu malam yang hanya ada di Bulan Ramadhan yakni Lailatul qodar (malam seribu bulan).

Alquran Surah Al-Qadar (97): 1-5 artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada Lailatul qadar. Tahukah kamu apakah Lailatul qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan ruḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.”

Di pengujung Ramadhan, sebagian besar umat Islam bergembira karena mendekati hari raya Idul Fitri, tapi tidak dengan mereka. Para sahabat ra menangis karena Ramadhan akan berlalu, meninggalkan umat Islam.

Kilau Permata Di Kegelapan Malam Itu, “Yadul ‘Ulya”

Entah akan bertemu lagi atau tidak tahun depan. Tidak ada yang menjamin hal itu. Bukankah ada keluarga, sahabat, teman, dan kolega kita yang tidak berjumpa lagi Ramadhan tahun ini.

Betapa istimewanya Ramadhan, Allah SWT berikan bonus ganjaran pahala yang berlipat ganda. Jika saja hamba-hamba-Nya tahu ganjaran tersebut, mereka akan berharap Ramadhan sepanjang tahun.

Rasulullah SAW bersabda dari hadist diriwayatkan Abu Mas’ud Al Ghifari, “Kalaulah hamba-hamba Allah SWT mengetahui balasan dan keutamaan Ramadhan, maka umatku pasti akan berharap agar sepanjang tahun menjadi Ramadhan,” (HR. Thabrani, Ibnu Khuzaiman, dan Baihaqi).

Camping Ground & Resto D’Leuwi Panawuan.

“Kalaulah”, kata yang disematkan Nabi SAW dalam hadistnya, artinya bisa jadi kita tidak tahu ganjarannya, bisa jadi kita tidak mungkin melaksanakannya. Allah SWT rahasiakan ganjarannya yang tidak terhingga dengan balasan pahala yang unlimited.

Allah SWT tidak ingin menyusahkan hamba-Nya beribadah puasa setiap hari tanpa ada Idul Fitri.

Ramadhan menjadi momentum umat untuk kembali jiwa dan raganya kepada sang Pencipta. Sebelas bulan sebelumnya, umat diperadukkan dengan aktivitas keduniawian. Untuk shalat, shaum, berinfak, berderma, dan berbagi dengan sesama terkadang terlalaikan.

Bulan Ramadhan mengembalikan itu semua ke titik nadir, manusia sebagai ciptaan Allah.

Apa pun kondisi kita saat ini, sebagai umat Muslim, semua sudah ditakdirkan Allah SWT, tetap berhusnudzon (berbaik sangka), dan jangan sekali-sekali berpikiran su’udzon (berburuk sangka).

Semua takdir tidak ada yang buruk, semuanya baik. Baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Begitu sebaliknya, buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu,” (QS. Al-Baqoroh: 216).

Kita tidak tahu, apakah Ramadhan tahun ini menjadi yang terakhir buat kita. Allahu’alam bishawab. (Mursalin Yasland).

*********

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY