Inspirasi Alquran dan Prediksi Thomas Jefferson Amerika Serikat akan Dipimpin Muslim

0
15 views
Alqur'an di Museum Madinah.
Pesantren Tahfidz, Yadul ‘Ulya Kampung Panawuan Garut.

“Tatanan modern Amerika Serikat diletakkan Thomas Jefferson terinspirasi Alquran”

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Bukan tanpa alasan dan bukan pula tanpa fakta jika dikatakan bahwa Islam berandil dalam Piagam Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat (AS). Orang yang paling berpengaruh dalam pembuatan ikrar tersebut adalah Thomas Jefferson (1743- 1826). 

Bapak bangsa sekaligus presiden ketiga Amerika Serikat itu merupakan seorang pemikir, penulis aktif, dan politisi paling diperhitungkan pada masanya.

Jefferson sesungguhnya tidak ingin tergesa-gesa melepaskan Amerika Serikat dari kekuasaan Inggris, seperti yang bergelora di kalangan tokoh-tokoh setempat saat itu.

Sebab, dia memperhitungkan banyak hal. Namun, pada akhirnya negarawan tersebut dipercaya sebagai ketua tim perumus naskah Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Mau tidak mau, dirinya harus mengerjakan tugas itu.

Pesantren Tahfidz, Yadul ‘Ulya Kampung Panawuan Garut.

Jauh sebelumnya, dia termasuk yang aktif dalam menjalin hubungan secara luas. Jangkauannya bukan hanya negeri-negeri Eropa, melainkan juga negara-negara Afrika-Muslim, semisal Tunisia dan Tripoli.

Jefferson diketahui mengagumi John Locke, seorang pemikir besar Eropa saat itu. Dari filsuf Britania Raya itu, dia mengenal pemikiran Islam. Locke sendiri mengaku mendapat kan banyak wawasan dari pemikir-pemikir Muslim pada masanya.

Di sisi lain, Jefferson juga bersahabat dan melakukan korespondensi dengan tokoh-tokoh Muslim. Ketika dia menjadi presiden, Turki Utsmaniyah masih menjadi kekhalifahan. Wajarlah jika dia banyak bersentuhan dengan dunia Islam.

Kedekatan sudah ditunjukkannya jauh sebelum ditunjuk sebagai ketua tim perumus Piagam Deklarasi Kemerdekaan. Sebagai contoh, dia memiliki sebuah mushaf Alquran yang dibelinya di sebuah toko buku saat dirinya mahasiswa di Williamsburg, Virginia.

Sejumlah sahabat atau rekan intelektualnya berasal dari kalangan Muslim. Sebut saja duta besar Tunisia dan duta besar Tripoli, Sidi Haji Abdul Rahman Adja.

Menurut seorang penulis Michael Rieger, bukanlah Barack Hussein Obama orang pertama yang dituduh sebagai Muslim saat mencalonkan diri dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat. Sekira 200 tahun sebelumnya, tuduhan itu pernah terjadi pula pada Thomas Jefferson.

Salah satu substansi Piagam Deklarasi Amerika Serikat menyinggung penghapusan perbudakan. Jefferson terinspirasi kejadian-kejadian pahit yang dialami gelombang pengungsi Muslim dari berbagai negeri Timur Tengah dan Afrika.

Tentunya pula pengalaman pilu budak-budak lokal kawasan Amerika.

Diduga keras, konsep pembebasan budak yang disuarakan Jefferson terinspirasi dari Alquran. Pada akhirnya, hal itu bermuara pada penghapusan perbudakan.

Dalam Alquran, hampir semua sanksi bagi pelaku kejahatan berupa pembebasan budak. Artinya, ada seiring setujuan antara Alquran dan pemikiran Amerika Serikat yang menghendaki pembebasan budak.

Demikian pula konsep hak asasi manusia. Itu banyak ditemukan dalam sejumlah ayat Alquran, yang selalu menjadi salah satu rujukan Jefferson.

Terdapat pula kesamaan substansi antara Piagam Madinah yang ditetapkan Nabi Muhammad SAW di Madinah pada abad ketujuh, Piagam Aeliya yang digagas Umar bin Khathab di Yerusalem, dan Piagam Deklarasi Amerika Serikat.

Dengan demikian, perkembangan Islam di Amerika Serikat bukanlah sesuatu yang baru, melainkan sudah menjadi perjalanan panjang.

Muslimin  sudah ada di sana sebelum Negeri asal Paman Sam merdeka. Mereka turut dalam perjuangan kemerdekaan.

Jefferson diketahui pernah mengatakan, tidak mustahil presiden Amerikat Serikat pada masa depan adalah Muslim (Liberta rianism, 29 Juni 2017). Itu menjadi salah satu konsekuensi Deklarasi Piagam Kemerdekaan Amerika Serikat, yang tidak melarang penganut agama apa pun untuk menjadi pemimpin.

*****

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.    

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here