Innalilahi Wainailaihi Rojiun Kang Pipit

0
17 views
Almarhum Kang Pipit, Akrab Bersama Para Santri. (Dokumentasi).
Kang Pipit (Almarhum), Bersama Wabup Garut Memulai Dibangunnya Masjid Ponpes Yadul ‘Ulya, Jum’at (01/03-2019).

“Sedekahnya Orang Miskin”

Garutnews ( Jum’at, 29/01 – 2021 ).

Innalilahi Wainailaihi Rojiun Kang Pipit,” Pimpinan Yayasan Tahfidz Qur’an Garut, M. Angga Tirta Beserta Keluarga Besar Pengelola Ponpes/Kuttab Yadul ‘Ulya Garut menyampaikan belasungkawa sangat mendalam atas wafatnya Pipit Firmansyah Pitra (Kang Pipit), Jum’at (29/01-2021), pada usia 60 tahun.

“Semoga Almarhum dibukakan pintu maaf, juga amal ibadahnya diterima Allah SWT, Amien Ya Rabbal Alamien.”

“Sedekahnya Orang Miskin”

Red: Irwan Kelana

Program Berbagi Sembako Jum’at Berkah Masjid Ponpes Yadul ‘Ulya Berlangsung di SD IT Sirotol Mustaqiim, (29/01-2021).

‘Sedekah merupakan ajaran Islam yang berdimensi sosial (keumatan)’

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh  Ihza Aulia Sururi Tanjung

Suatu hari, Baginda Rasulullah SAW  didatangi oleh sekelompok fakir dari kaum Muhajirin. Mereka mengadu dan mencurahkan kegundahan hati kepadanya. “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat dan juga berpuasa seperti kami berpuasa. Namun mereka mampu bersedekah dengan kelebihan hartanya.”

Lantas Rasulullah menghibur mereka dengan pertanyaan yang indah. “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian jalan untuk bersedekah? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap takbir ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah dan pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah dan mendatangi istrimu adalah sedekah.” (HR. Muslim).

Bersilaturahmi Dengan Ustadz. Nurwana, S.Pd. Pimpinan SD IT Sirotol Mustaqiim di Kampung Cijengkol Samarang Garut. Lembaga Pendidikan Ini Mendesak Segera Perlukan Penambahan Pembangunan Ruang Belajar.

Sedekah merupakan ajaran Islam yang berdimensi sosial (keumatan). Dalam Alquran  dan hadis bertebaran ajakan-ajakan untuk bersedekah dan keutamaannya. Allah SWT  telah menjanjikan balasan bagi yang menginfakkan hartanya minimal 700 kali lipat  (QS  2:  261).

Maka dari itu, tidak heran apabila banyak orang kaya pada zaman Nabi SAW  yang bersedekah sebagian besar atau hampir seluruh hartanya, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang kebutuhan hariannya pun belum tercukupi sebagaimana mestinya?

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz menulis dalam kitabnya Syarhul Arba’in An-Nawawiyah, bahwa sedekah bermakna, “menyampaikan kebaikan dan kemanfaatan bagi orang lain”. Hemat beliau, sedekah bukanlah sebatas pemberian harta atau material kepada orang lain. Dalam Hadis ini pun, Nabi SAW. menjelaskan kepada kita betapa luasnya makna  sedekah.

Salah satunya ialah dengan bertasbih (subahanallah), tahmid (alhamdulillah), tahlil (laa-ilaha illa Allah) dan dzikir lainnya. Dengan menyebutnya kita akan mendapatkan pahala dan ampunan dosa meski sebanyak buih di lautan (HR Ahmad, Darimi, Maliki). Itulah salah satu implementasi dari “Menyampaikan kebaikan dan manfaat”, kendati tertuju pada diri sendiri.

Allah -Jalla Wa ‘Alaa- pun bersedekah kepada hamba-Nya. Ketika itu Rasulullah ditanya oleh sahabat tentang mempersingkat shalat dalam perjalanan, beliau pun menjawab “Itu (qashar shalat) sedekah Allah kepada kalian, maka terimalah sedekah tersebut.” (HR Muslim)

Imam Ibnu Daqiq Al-‘Iid dalam karyanya Syarhul Arba’in Hadisan An-Nawawiyah menjelaskan, sesungguhnya menghadirkan niat baik pada hal-hal yang dibolehkan, seperti makan, tidur, berbisnis dan sebagainya  akan membuahkan ketaatan kepada Allah SWT. Maka perbuatan tadi pun bernilai sedekah  kepada diri sendiri.

Beranjak dari pemaparan di atas, paling tidak ada dua intisari yang dapat kita serap:

Pertama, bentuk ibadah sosial yang variatif. Artinya, sedekah tidak hanya berwujud dengan uang (material), tapi juga seluruh amal (ucapan dan perbuatan) yang menunjukkan kepada kebaikan dan melarang dari keburukan. Begitu ditegaskan oleh Syeikh Hisyam Kamil dalam kitabnya,  Tuhfatul Kiram.

Kedua, ajaran bersedekah diperuntukkan bagi semua kalangan, bukan hanya orang berada akan tetapi juga yang papa. Sesungguhnya Rasulullah tidak memberatkan orang fakir untuk jadi orang kaya, tapi mengarahkan mereka kepada jalan yang sesuai dengan kapabilitas masing-masing. Bersedekah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, baik harta, tenaga, waktu, ilmu, pengalaman dan lainnya.

Dua bulan terakhir ini negeri kita dilanda musibah beruntun. Tanah longsor di Sumedang, jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, banjir bandang di Kalsel dan gempa Sulbar. Begitu pula penularan virus corona yang semakin mengganas dengan korban jiwa yang terus meningkat. Inilah saatnya kita untuk bersedekah sesuai dengan kemampuan.

Hadis di atas mengajarkan kita bahwa bagaimanapun kondisi kita, tetap harus bersedekah. Rasulullah SAW  menyuruh orang-orang kaya dengan keluasan rezekinya mengulurkan tangan untuk menolong mereka yang membutuhkan. Lalu, Beliau pun menyemangati kaum fakir dan miskin bersedekah dengan kalimah toyyibah dan amal kebaikan lainnya seperti menyingkirkan duri dari jalan. Maka Itulah sedekahnya orang-orang miskin.

Sedangkan kemasan ‘Program Sedekah Sampah Organik Baitulmal Yadul ‘Ulya,’ guna mewujudkan ‘Keberkahan Bersama’, masyarakat pun tak hanya dapat bersedekah harta, melainkan dengan sampah organik juga bisa.

Wallahu’alam bishowab.

******

Republika.co.id/Foto : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here