Gahar Banteng Sancang Kian Raib Ditelan Bumi

0
45 views

“Plasma Nutfah Kekayaan Sangat Berharga”

Garutnews ( Selasa, 06/09 – 2022 ).

Gahar maupun sangarnya Banteng Jawa (Bos javanicus) pada habitatnya di “Leuweung” (hutan) Sancang, kian raib ditelan bumi. Lantaran kini hanya menyisakan “misteri” apakah “ikon” tersebut masih ada, atau telah lama punah  …. ?  Walahualam bi sawab.

Koordinator Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan ‘Tumbuhan dan Satwa Liar’ (TSL) pada ‘Seksi Konservasi Wilayah” (Siwil) V Bidwal III BBKSDA Jawa Barat Sepdi Hendayana pernah katakan, diperlukan inventarisasi juga penelitian mengenai masih ada, maupun punahnya jenis satwa dilindungi Undang-Undang RI tersebut.

“Kendati dipastikan pada kawasan hutan itu, hingga sekarang antara lain masih terdapat macan tutul, primata owa, ragam jenis burung termasuk burung merak, serta rusa” katanya.

Padahal puluhan tahun lalu kerap ditemukan berkumpul, dan merumput di Padang Penggembalaan Cipalawa.

Biasanya berlangsung pada sekitar pukul 07.00 WIB, kemudian sore harinya pada Pukul 16.00 dan Pukul 17.00 WIB.

Berkisar selama satu jam rombongan Banteng Sancang ini merumput, kemudian mereka membubarkan diri melintasi di bawah padang ilalang, maupun semak belukar.

Jika merasa terganggu, banteng lari mengejar yang terlebih dahulu diawali menegakkan kepala ke atas, dan mengangkat kaki depan kanan. Tetapi lintasan larinya letter “U”, kemudian kembali ke arah semula.

Sedangkan Cagar Alam Leuweung Sancang sekitar 2.313,90 hektare dengan cagar Alam Lautnya 1.150 hektare pada perbukitan berketinggian berkisar 50 mdpl hingga nol meter. Terhampar di Kecamatan Cibalong, 120 kilometer dari arah selatan pusat Kota Garut.

Selain selama ini terkenal dengan pohon kaboa (dipteroearpus gracilis), ikon tanaman hutan Sancang. Terdapat pula tanaman langka meranti merah (anisoptera) raksasa berukuran lingkaran batang pohon 300 centimeter lebih, berketinggian sekitar 27 meter.

Pohon berusia ratusan tahun ini, tercatat satu-satunya meranti merah tumbuh di pulau Jawa.

Uniknya, selain satu-satunya meranti merah tumbuh di pulau Jawa, meranti merah di Sancang tersebut, sangat sulit dibudidayakan.

Beragam cara diupayakan dikembangkan, tetapi tak pernah berhasil. Para peneliti kebingungan. Padahal jenisnya sama dengan meranti merah di Kalimantan, atau family anisoptera. Pada sekeliling pohon dipasang pagar besi pengaman.

Menariknya lagi, pada kanan kiri meranti merah berdiri pohon palahlar (dipterocarpus spee.div) juga berukuran besar. Namun tak sebesar meranti merah.

Kondisi Plasma Nuftah Leuweung Sancang seluas 2.313,90 hektare yang kian terancam hanya menyisakan ceritera legenda, maupun Mitos.

Sebelumnya pada pertengahan 1980-an, kawasan tersebut masih sangat kental bernuansakan hutan tutupan suaka margasatwa berkondisi terbilang utuh.

Namun kemudian terjadi degradasi secara pragmatis akibat penyerobotan, dan pembalakan liar pada sekitar 1998.

Sehingga “keluar – biasaan” satwa liar penghuni Sancang, di antaranya banteng kini masih misteri keberadaannya, bahkan lenyap maupun punah.

Keragaman flora dan faunanya semakin menyusut. Termasuk menjadi sulitnya ditemukan kicau ragam jenis burung langka, antara lain rangkong dan julang, serta raungan  harimau maupun macan tutul.

Demikian pula kayu werejit bergetah mengandung racun keras ikut diperkirakan kuat lenyap bersama kayu-kayu hutan tropis heterogen lain. Yang tersisa mungkin hanya legenda dan mitos, juga kian tergerus.

Padahal, plasma nutfah merupakan kekayaan alam sangat berharga bagi kemajuan ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk mendukung pembangunan nasional.

Diduga kuat, kepunahan banteng Sancang terjadi akibat aktivitas perburuan liar, kemudian maraknya penjarahan Hutan Sancang, terutama pada masa awal era reformasi.

Sempat terdapat wacana hendak didatangkan banteng sejenis dari daerah lain, guna dikembangbiakkan di kawasan Cagar Alam Sancang.

******

Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here