Sepuluh Kecamatan Rawan Kematian Ibu/Anak Bentuk FMM

0
161 views
Kadinkes Garut, Didampingi Kabid Kesmas Eman Suherman, BE, S.IP, M.Si serta Pejabat Fungsional Promosi Kesehatan Dinkes Jabar, Wini Nur, SKM, M.Si Ketika Membuka Pertemuan Dengan Tokoh Agama dan Pemuka Masyarakat Kab. Garut.

“Setiap Kasus Kematian Ibu dan Anak Baru Melahirkan, Bencana Besar Kemanusiaan”

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Kamis, 04/05 – 2017 ).

Kadinkes Garut, Didampingi Kabid Kesmas Eman Suherman, BE, S.IP, M.Si serta Pejabat Fungsional Promosi Kesehatan Dinkes Jabar, Wini Nur, SKM, M.Si Ketika Membuka Pertemuan Dengan Tokoh Agama dan Pemuka Masyarakat Kab. Garut.
Kadinkes Garut, Didampingi Kabid Kesmas Eman Suherman, BE, S.IP, M.Si serta Pejabat Fungsional Promosi Kesehatan Dinkes Jabar, Wini Nur, SKM, M.Si Ketika Membuka Pertemuan Dengan Tokoh Agama dan Pemuka Masyarakat Kab. Garut.

Kalangan tokoh agama dan pemuka masyarakat pada setiap dari sepuluh wilayah kecamatan di Kabupaten Garut, yang kini dinilai memiliki intensitas angka tertinggi maupun rawan kematian ibu dan anak baru melahirkan, berhasil membentuk “Forum Masyarakat Madani” atawa FMM.

Dipandu langsung Tim Menthor Bandung.

Sebagai wahana pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, menyusun dan menyepakati rencana, serta membangun komitmen bersama untuk penyelamatan ibu dan bayi baru lahir.

Wini Nur, SKM, M.Si.
Wini Nur, SKM, M.Si.

Lantaran sepuluh kecamatan dari 42 kecamatan di kabupaten setempat tersebut, menjadikan Kabupaten Garut bertengger pada peringkat pertama di Provinsi Jawa Barat paling tingginya angka kematian ibu dan anak baru melahirkan, sehingga mendapatkan intervensi “Reflikasi Program EMAS” (Program Kesehatan Ibu dan Anak).

“Sedangkan angka kematian ibu dan anak baru melahirkan di Provinsi Jawa Barat sepanjang 2016 lalu, juga tertinggi maupun peringkat pertama nasional,” ungkap  Pejabat Fungsional Promosi Kesehatan pada Dinas Kesehatan Provinsi Jabar, Wini Nur, SKM, M.Si.

Dihadapan puluhan tokoh agama dan pemuka masyarakat di Aula Dinkes Kabupaten Garut, Kamis (04/05-2017), Wini Nur juga mempresentasikan  rentang waktu 2015 – 2019 lebih mengutamakan upaya promotif serta preventif kesehatan daripada kuratif maupun pengobatan, sebab “mencegah lebih baik daripada mengobati,” imbuh dia pula.

Heni Juliani, SST, M.Kes
Heni Juliani, SST, M.Kes

Para tokoh agama dan pemuka masyarakat ini, menjadi peserta pertemuan fasilitasi kegiatan pemberdayaan masyarakat, dalam gerakan penyelamatan ibu dan bayi baru lahir.

Kepala Dinas Kesehatan dr H. Tenni Sewara Rifai antara lain katakan, jaman dahulu kasus kematian bayi baru melahirkan banyak dianggap aib, namun kini bisa diketahuinya angka kematian ibu dan anak baru melahirkan tersebut dinilainya bagus, karena ibarat fenomena gunung es yang mencair guna mendesak segera ditanggulangi.

Kesepuluh kecamatan membentuk FMM terdiri Kecamatan Leuwigoong, Sukahurip, Balubur Limbangan, Cabatu, Cikajang, Garut Kota, Kadungora, Pasirwangi, Tarogong, serta Kecamatan Cigedug. Termasuk pembentukan FMM di Guntur, Pasundan, Cisurupan, Cilawu, Padaawas Pasirwangi, dan di Kecamatan Cisompet.

Kematian Ibu dan Anak Baru Melahirkan di Kabupaten Garut Tertinggi di Provinsi Jawa Barat.
Kematian Ibu dan Anak Baru Melahirkan di Kabupaten Garut Tertinggi di Provinsi Jawa Barat.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi pada Dinkes kabupaten setempat, Heni Juliani, SST, M.Kes detail menjelaskan, kasus kematian ibu baru melahirkan di wilayahnya masing-masing 2011 ada 45 kasus, 2012 (28 kasus), 2013 (37 kasus), 2014 (45 kasus), 2015 (45 kasus), serta pada 2016 terdapat 74 kasus sehingga cenderung mengalami peningkatan.

Penyebab langsungnya berupa pendarahan, serta penyebab tidak langsung antara lain memiliki penyakit, dengan lokasi maupun tempat kematian masing-masing di rumah 10 kasus, Puskesmas (enam kasus), dalam perjalanan (dua kasus), serta di rumah sakit terdapat 56 kasus.

Sedangkan kematian bayi baru melahirkan di Kabupaten Garut, antara lain terdiri pada 2011 ada 397 kasus, 2012 (298 kasus), 2013 (190 kasus), 2014 (297 kasus), kemudian 2016 (333 kasus), serta hingga Maret pada 2017 ini terdapat tujuh kasus, antara lain disebabkan kondisi bayi kecil dan sangat memerlukan asupan gizi yang bagus, katanya.

Lokasi maupun tempat kematian di rumah sakit 225 kasus, di rumah (41 kasus), serta di Puskesmas ada 45 kasus.

Tim Mentor Bandung.
Tim Mentor Bandung.

Dikemukakan Heni Juliani, ragam upaya penyelamatan ibu melahirkan dan bayi baru lahir di antaranya pelaksanaan penelusuran kasus kematian ibu dan bayi di tingkat kabupaten, serta Puskesmas.

Pelaksanaan ANC (pemeriksaan kehamilan) terpadu dengan program lain di 67 Puskesmas, pelaksanaan P4K (program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi), evaluasi program kegiatan kesehatan ibu dan anak pada 67 Puskesmas, juga peningkatan kemampuan SDM kesehatan,

Kemudian PMT pemulihan ibu hami kurang energi kronis bagi 100 individu, perbaikan kualitas pencatatan dan pelaporan, pemenuhan sarana dan prasarana kesehatan ibu dan anak, serta regulasi kesehatan ibu dan anak, ujarnya antara lain.

Pada rangkaian helatan serupa, Rabu (26/04-2017) lalu, selain dipresentasikan konsepsi Forum Masyarakat Madani, dan indek masyarakat sipil, juga berhasil dibentuk Forum Peduli Masyarakat Madani Tingkat Kabupaten Garut diketuai Hj. Entin Martini, dengan Wakil Ketua John Doddy Hidayat dari Garut News, Sekretaris TB Ayi Sasmita, serta Bendahara Retno Novita.

Diagendakan segera membahas program kerja termasuk rencana aksi mencegah terjadinya kasus kematian ibu dan bayi baru melahirkan, dikemas Forum “Peduli Masyarakat Madani” (FMM) “Kami Siaga” atau Komunitas Aliansi Masyarakat Indonesia Sayang Ibu dan Anak Garut.

Dalam pada itu, 42 wilayah kecamatan dengan sekitar 442 desa/kelurahan di Kabupaten Garut kini dihuni sekitar tiga juta penduduk, bersumber daya kesehatan di antaranya 67 dokter umum, dua rumah sakit, 67 Puskesmas, 46 dokter gigi, 2.063 perawat, 1.083 bidan, 431 BDD, 26 apoteker, 52 sanitarian, 30 Poned.

PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar) merupakan pelayanan untuk menggulangi kasus-kasus kegawatdaruratan obstetric neonatal yang meliputi segi : Pelayanan obstetric : pemberian oksitosin parenteral, antibiotika perenteral dan sedative perenteral, pengeluaran plasenta manual/kuret serta pertolongan persalinan menggunakan vakum ekstraksi/forcep ekstraksi.

 

*********

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here