Fobia

0
50 views
Ilustrasi.

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Ahad, 21/08 – 2016 ).

Ilustrasi.
Ilustrasi.

BAGIAN yang menyedihkan dalam sejarah adalah ketika tak ada lagi orang-orang tak bersalah. Jika benar seorang ulama di wilayah Queens, New York, ditembak kepalanya dari jarak dekat, hanya karena ia muslim atau berpakaian seperti orang Timur Tengah, maka ia seseorang yang dianggap terlibat dengan kejahatan, bahkan kekejaman, di tempat lain, di waktu lain, yang dilakukan atas nama Islam.

Maulama Akonjee seorang imam masjid yang halus budi, tapi orang yang menembaknya memastikan ia ikut dalam satuan politik orang-orang jahat. Label sudah dipasang. Dendam bisa dibalaskan kepadanya.

Kini orang-orang berbicara tentang “Islamofobia” yang berjangkit di Eropa dan Amerika. Kata “fobia” sebagaimana halnya dalam “komunistofobia”, “xenofobia”, dan pelbagai bentuk penolakan kolektif tak sepenuhnya tepat.

Yang berkecamuk bukan cuma gejala kejiwaan sosial. Mungkin ini lebih berupa gema sejarah konflik politik yang panjang, yang melibatkan orang ramai secara luas, ketika agama dikibarkan dalam keyakinan dan kebencian.

Tak mudah menemukan dari mana mulainya. Bisa disebut tahun 852, ketika sebuah armada “Saracen” dengan 73 kapal mendarat di pulau Ostia dan menyerbu ke darat, menuju Roma. Gereja St. Petrus dan St. Paulus dibakar.

Dengan segera, Paus yang baru, Leo IV, yang sudah membangun tembok melindungi bukit Vatikan, membentuk angkatan laut bersama penguasa kota Napoli, Amalfi, dan Gaeta. Perang pun berlangsung. Roma menang.

Tujuh abad kemudian Rafaelle mengabadikannya dalam lukisan yang menghiasi salah satu istana Vatikan: di kanvas sebelah kanan, tampak sisa-sisa armada “Saracen” yang kalah, dibelenggu dan dijambak rambutnya oleh tentara Kristen dengan pedang terhunus; di tengah, kapal-kapal yang berantakan; di kanvas sebelah kiri, tampak Paus menatap ke langit, berterima kasih kepada Tuhan yang telah mengirim taufan yang memporak-porandakan armada “Saracen”.

Tampaknya taufan yang datang hari itu dianggap pertolongan Ilahi kepada pasukan Kristen memperkuat apa yang kemudian berulang: iman sangat penting dalam peperangan.

Sebenarnya tak ada tanda bahwa orang “Saracen” menyerbu atas nama Islam; umumnya mereka perompak yang menjarah harta. Kata “Saracen” konon berasal dari Yunani, Sarakenos. Ada yang mengatakan, aslinya memang dari bahasa Arab, syarqiy, “dari Timur”, orang-orang dengan warna kulit gelap.

Dalam perkembangannya kemudian, sejak Perang Ostia, di masa Abad Pertengahan akhir, dikotomi “Timur” dan “bukan-Timur” beralih jadi “Islam” dan “Kristen”. “Saracen” juga sebutan bagi muslim di Albania dan Chechnya.

Tiga abad setelah kemenangan Paus di Ostia, sebuah konflik yang kian mengukuhkan posisi agama sebagai motif utama berkecamuk: Perang Salib. Perang yang bermula di abad ke-11 ini dikobarkan oleh Paus Urbanus II untuk merebut Yerusalem.

Tapi ada sejumlah perang yang disebut “Perang Salib”, dalam skala besar dan kecil, sampai dengan abad ke-13. Tak selamanya yang diperebutkan Tanah Suci, dan tak selamanya melawan Turki.

Tapi “Turki” tetap jadi sosok yang negatif. Tahun 1453, Sultan Muhammad II merebut Konstantinopel, mengakhiri imperium Byzantium. Tahun 1526, Sultan Sulaiman I (1520-1566) menaklukkan Hungaria.

Suasana terancam menyebabkan Martin Luther sejak 1528 berbicara. Bapak Protestantisme ini menyatakan bangsa Turki “perampok dan pembunuh”. Merasa bahwa mereka sudah di ambang pintu dunia Kristen, Luther melihatnya sebagai peringatan Tuhan tentang sudah dekatnya hari Kiamat, agar umat Kristen bertobat.

Tapi Luther juga melihat bahaya sebaliknya: Islam bisa memikat. Dalam komentarnya atas sebuah risalah tentang agama dan adat-istiadat orang Turki, yang disiarkan pada 1830, Luther melihat kelebihan “agama orang Turki dan Muhammad” dalam adat-istiadat.

Ada kesederhanaan soal “makanan, busana, tempat tinggal… juga dalam hal puasa, bersembahyang, dan berhimpun”. Seraya menyerang kaum Katolik, Luther mengatakan ia “sepenuhnya yakin, tak akan ada penganut Paus, rahib, dan padri yang mampu tetap dalam iman mereka andai mereka tinggal tiga hari saja bersama orang Turki”.

Ada selalu drama dan hiperbol dalam gambar-gambar besar sebuah konflik drama yang menutup pelbagai hal yang di luar pola umum. Pada 1687, filosof Leibniz menyebut “wabah Islam”, la peste de mahometisme, di Eropa. Seperti dikatakan Ian Almond dalam History of Islam in German Thought, Leibniz memahami Islam pada hakikatnya sebuah satuan politik.

Dalam hal itu, ia, yang menganggap Islam “wabah”, sama dengan kaum Islamis yang kini menganggap diri sebagai wakil Islam yang sah. Islam: sebuah satuan politik yang tak memungkinkan perbedaan, dalam satu label. Di sana, tiap orang terlibat. Tak ada yang tak bersalah. Tak ada yang bisa tak ikut, untuk membunuh atau dibunuh.

********
Goenawan Mohamad/Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here