Enam Penyebab Kerusakan Alam Menurut Perspektif Alquran

0
21 views
Bersama Keluarga Menikmati Kesejukan Pesona D'Leuwi Pesantren Tahfidz Qur'an Garut di Kampung Panawuan, Ahad (13/02-2022).

Ahad 06 Feb 2022 11:28 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Nashih Nashrullah

Bersama Keluarga Menikmati Kesejukan Pesona Alami D’Leuwi Pesantren Tahfidz Qur’an Garut di Kampung Panawuan, Ahad (13/02-2022).

“Alquran menyebutkan kerusakan alam diakibatkan ulah manusia”

REPUBLIKA.CO.ID, — Perubahan iklim (climate change) telah mengakibatkan berbagai bencana alam di berbagai belahan bumi. 

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 98 persen bencana alam yang terjadi di Indonesia  karena bencana hidrometeorologi sebagai dampak perubahan iklim. 

Namun demikian masih banyak masyarakat yang tidak paham bahwa perubahan iklim adalah sebuah permasalahan kemanusiaan yang sangat serius untuk ditangani.

Para tokoh agama dunia pun telah menyerukan agar masyarakat dunia peduli dalam isu perubahan iklim. Salah satunya adalah Grand Syekh Al Azhar, Syekh Ahmad At Thayyeb yang menyerukan agar setiap orang melawan tindakan apapun yang merusak lingkungan dan meningkatkan krisis iklim.

Memperlakukan alam itu harus dengan cinta, hilang cinta membuat orang semena-mena sehingga merusak.

Pakar tafsir Alquran yang juga alumni Universitas Al Azhar Mesir sekaligus Kepala Lajnah Pentashih Mushhaf Alquran, Kementerian Agama, KH Dr Muchlis M Hanafi mengatakan para saintis telah sepakat bahwa terjadinya perubahan iklim disebabkan aktivitas manusia sehingga mengubah komposisi  dari atmosfer global dan variabilitas iklim.

Keadaan itu membuat cuaca tidak menentu atau terjadinya cuaca ekstrim yang mengakibatkan berbagai bencana alam.

Kiai Muchlis mengatakan Alquran dalam surat Ar Rum ayat 41 telah menyebutkan bahwa semua kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”  

Memperlakukan alam itu harus dengan cinta, hilang cinta membuat orang semena-mena sehingga merusak.

Lafaz dzoharol fasad pada ayat itu menurut kiai Muchlis berarti suul hal atau situasi yang buruk. Sehingga berbagai kemanfaatan di darat maupun di laut tidak bisa lagi dirasakan manusia.

Menukil keterangan Syekh Thahir Ibnu Asyur seorang mufasir dari Tunisia, Kiai Muchlis mengatakan yang dimaksud kerusakan di daratan adalah terjadinya berbagai bencana seperti paceklik ditandai kekurangan pangan, kematian dan kepunahan hewan.

Selain itu kekeringan dan wabah penyakit. Sedang kerudakan di lautan adalah hilangnya manfaat akibat ikan dan habitat laut berkurang karena tercemari. Akibatnya bumi menjadi tidak seimbang dan tidak nyaman bagi manusia.

Memperlakukan alam itu harus dengan cinta, hilang cinta membuat orang semena-mena sehingga merusak.

“Berbagai bencana kemanusiaan yang diakibatkan perubahan iklim itu terjadi karena ulah manusia yang menyimpang, dengan melakukan kemaksiatan, kerusakan akhlak, serakah dan lain sebagainya. Sehingga bumi kita kehilangan keseimbangannya, dan bumi kita tidak nyaman lagi untuk dihuni,” kata kiai Muchlis dalam kajian rutin Masjid Istiqlal dengan tema Wawasan Alquran Tentang Perubahan Iklim beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Kiai Muchlis mengatakan dalam perspektif Alquran ada beberapa hal yang membuat terjadinya kerusakan bumi.

Pertama, adalah mengubah ciptaan Allah SWT, maksudnya segala sesuatu yang telah ditetapkan fitrahnya diubah.

Semisal air yang fitrahnya adalah alat bersuci sehingga harus bersih dan suci namun tidak dapat digunakan karena tercemar oleh limbah Industri. Akibatnya menyebabkan kerusakan pada habitat alam.

Kedua, adalah perilaku zalim manusia dengan lingkungan dengan mengeksploitasi alam semaunya tanpa melakukan perbaikan.

Ketiga, yaitu menyombongkan diri. Menurut Kiai Muchlis, manusia modern kerap berlaku semena-mena, sombong akan kemajuan teknologinya  dan mengeksploitasi alam hingga menyebabkan kerusakan.

Keempat, manusia modern kerap memperturuti hawa nafsu, menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya untuk menguasai alam dan menjarah sumber dayanya.

Kelima, menyimpang dari keseimbangan alam. Padahal Allah SWT telah menciptakan alam raya berikut bumi dan isinya dengan keseimbangan.

Berbagai kenikmatan telah disediakan Allah SWT baik di darat, laut dan udara. Namun manusia merusak keseimbangan yang ada dengan melakukan kerusakan pada alam seperti pembakaran hutan dan sebagainya.

Keenam, karena kufur nikmat. Menurut Kiai Muchlis kerusakan yang terjadi di bumi disebabkan kufurnya manusia terhadap nikmat yang telah Allah SWT berikan. Sehingga Allah SWt menimpakan kegelisahan, kelaparan, bencana dan lainnya.

Menurut Kiai Muchlis semua yang ada di muka bumi adalah makhluk Allah SWT yang bertasbih dan bersujud pada-Nya.

Maka dari itu manusia tidak boleh semena-mena terhadap makhluk Allah SWT lainnya misalnya hutan, gunung, laut, hewan dan lainnya.

Manusia juga harus mampu menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi untuk menegakan keadilan, menebar kebaikan dan kemaslahatan bagi setiap makhluk Allah SWT. Selain itu, manusia juga harus memakmurkan bumi yang menjadi amanat dari Allah.

Dia menegaskan bahwa memperlakukan alam itu harus dengan cinta, hilang cinta membuat orang semena-mena sehingga merusak. Baru langkah terakhir adalah antisipatif mengurangi dampak perubahan iklim.

“Dalam Alquran dan hadits banyak yang menjelaskan tentang gerakan penghijauan, reboisasi. Kita diamanatkan menanam pohon. Tidak membuang sampah sembarangan, menjaga keseimbangan,” ujar Kiai Muchlis.

Sumber : Harian Republika.

******

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here