DKM Masjid Al-Kautsar Masih Menunggu Realisasi “Janji Manis” Bupati

0
242 views

“Janji Pemimpin Membawa Berkah, Juga Bisa Mendatangkan Musibah, Berhasil Berswadaya Bangun Masjid Bernilai Rp300 Juta, Meski Masih Terbelit Utang”

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Sabtu, 02/04 – 2015 ).

Masjid Al-Kautsar.
Masjid Al-Kautsar.

Setiap seluruh jajaran keluarga besar “Dewan Kesejahteraan Masjid” (DKM) Al-Kautsar di Kampung Papandak Desa Sukamenak Kecamatan Wanaraja Kabupaten Garut, Jabar, hingga kini masih menunggu realisasi “janji manis” Bupati setempat, Rudy Gunawan.

Masih sangat ditunggunya realisasi janji manis tersebut, juga dikemukakan Ketua Yayasan Al Kautsar, Dedi Hidayat, S.Ag, M.Si meski pembangunan masjid dua lantai berluas bangunan 99 m2 berkapasitas 360 jemaah itu, tuntas dikerjakan sejak Oktober 2015 lalu dengan menelan dana Rp300 juta, di atas tanah seluas 196 m2.

Berkapasitas 360 Jemaah.
Berkapasitas 360 Jemaah.

Dikerjakan secara swadaya, namun masih terbelit utang bahan bangunan senilai berkisar Rp40 juta hingga Rp50 juta, sebagaimana dikemukakan pula Ketua DKM Masjid itu, Aceng Muhsin.

Kepada Garut News, Sabtu (02/04-2016), Dedi Hidayat beserta Aceng Muhsin katakan, sangat kuatnya motivasi kaum muslimin dan muslimat di perkampungannya “segera” bisa mewujudkan pembangunan masjid yang memadai ini, lantaran termotivasi janji bupati.

Pada Semarak Muharram dan Milad XV Pontren Al-Kautsar, Ahad (02/11-2014) atawa dua tahun lalu, Bupati Rudy Gunawan dalam rangkaian sambutannya, juga berjanji mengalokasikan dana bantuan Rp100 juta guna membangun masjid di lingkungan Pontren ini.

Bahkan ungkap Dedi Hidayat pula, Bupati Rudy Gunawan pun menjelang pulang meninggalkan pondok pesantren sempat berbisik agar mengajukan permohonan bantuan senilai Rp150 juta, yang Rp50 juta di antaranya dijanjikan bakal mencarikan dana lain, serta dari pribadi bupati.

Tetapi hingga berita ini ditulis, janji tinggal janji, Pengurus Yayasan serta Ketua DKM pun sempat beberapa kali memproses janji tersebut termasuk melengkapi proposalnya, namun masih belum juga terealisasi.

Ketua DKM Aceng Muhsin (bertopi), Bersama Ketua Yayasan Al-Kautsar, Dedi Hidayat di Pelataran Masjid.
Ketua DKM Aceng Muhsin (bertopi), Bersama Ketua Yayasan Al-Kautsar, Dedi Hidayat di Pelataran Masjid.

Padahal jika direalisasikan, selain segera memenuhi utang-piutang pembangunan sarana ibadah ini, juga sekaligus dimanfaatkan membangun pemondokan santri pada dua hingga tiga lantai, satu komplek dengan masjid dan persantrennya di atas tanah seluruhnya seluas 1.680 m2.

Janji bupati itu pun, ketika manis diucapkan selain disaksikan masyarakat setempat juga antara lain langsung didengar Pimpinan Muhammadiyah Daerah Kabupaten Garut, KH Halim Basarah.

Selama ini pun terdapat sedikitnya 400 santri, terdiri para murid RA, Madrasah Diniyah, Akmiliyah, juga Pesantren Majelis Ta’lim.

Pesantren Al-Kautsar juga antara lain memiliki bidang usaha keterampilan konveksi memproduk kaos olahraga, termasuk menyewakan meskin pencampur pasir dengan semen maupun adukan.

Sedangkan warga di Perkampungan Papandak kini terdapat sekitar 460 kepala keluarga atawa 2.300 penduduk.

“Miniatur Konstruksi ‘Julang Ngapak’.

Miniatur konstruksi atap rumah penduduk Kampung Papandak, produk kearifan lokal masyarakat bernilai “adi luhung” yang dikenal dengan sebutan “Julang Ngapak” (burung terbang), sejak dahulu pula diadopsi dalam membangun konstruksi kampus “Institut Teknologi Bandung” (ITB).

Miniatur Konstruksi Julang Ngapak pada Atap Pesantren, Diduga Kuat Diadopsi ITB.
Miniatur Konstruksi Julang Ngapak pada Atap Pesantren, Diduga Kuat Diadopsi ITB.

Sedangkan seluruh rumah penduduk di perkampungan yang terbaring bisu di atas tanah sekitar 18 hektare itu, pernah dua kali musnah rata dengan tanah.

Akibat dibakar pada jaman kolonialis Belanda, serta jaman penjajahan Jepang.

Sehingga dalam perkembangannya hingga kini, selain memusnahkan konstruksi atawa arsitektur budaya setempat.

Juga semakin langka bahkan sekarang tak adanya penduduk menerapkan arsitektur Julang Ngapak ini.

Apalagi sekarang pun, banyak penduduk membangun rumah dengan mengadopsi beragam gaya dari luar, maka tak satu pun penduduk setempat kini menggunakan gaya arsitektur leluhurnya itu.

Kondisi memprihatinkan ini, menjadikan keluarga besar Pondok Pesantren Al Kautsar bersama para pemuka masyarakat, antara lain berinisiasi membangun miniatur arsitektur Julang Ngapak pada atap bangunan utamanya pada 1998.

Komplek Pesantren Yayasan Al-Kautsar.
Komplek Pesantren Yayasan Al-Kautsar.

Pesantren ini, antara lain bervisikan meningkatkan kualitas pemahaman agama, dengan senantiasa pula kembali kepada tuntunan Al Qur’an dan Sunnah, imbuh Dedi Hidayat, menyerukan.

Sedangkan pada pentas belajar-mengajar bagi para santri, di antaranya pula dilengkapi sarana olahraga, serta beragam jenis atraksi seni budaya bernuansakan Islami.

Sedangkan kendala utamanya, sebagian penduduk berkondisi sosial ekonomi menengah ke bawah.

Dedi Hidayat berharap, produk kearifan lokal gaya arsitektur leluhurnya bisa dijadikan “trade Mark” Pemkab Garut, sebab diduga kuat ITB pun mengadopsi pada pembangunan kampusnya.

Lantaran dipastikan juga ITB mengadopsi arsitektur ini, sebab selain ITB berlokasi di Tatar Jawa Barat, juga kemungkinan besar jenis arsitektur Julang Ngapak dinilai paling ideal diterapkan di kampus ternama itu.

Ketua “Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara” (Yahintara), Ruli Oktavian, ST kepada Garut News kerap mengemukakan kemungkinan besar ITB mengadopsi arsitektur rumah penduduk Kampung Papandak di Desa Sukamenak Kecamatan Wanaraja, Garut, Jawa Barat.

******

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here