Bukan Kemiskinan yang Ditakutkan Rasulullah

0
12 views
Pesantren Tahfidz Yadul 'Ulya Manfaatkan Potensi Sumber Daya Alam Sebagai Penunjang Penguatan Kemandirian Pesantren.

Rabu 18 May 2022 17:17 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Agung Sasongko.

Mendahulukan Adab Kemudian Ilmu.

“Rasulullah SAW telah menyampaikan tentang sesuatu yang menjadi ketakutannya”

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rasulullah SAW telah menyampaikan tentang sesuatu yang menjadi ketakutannya. Ketakutan tersebut bukan ketika umat Muslim berada dalam kemiskinan.

Dalam riwayat Amr bin ‘Auf Al-Anshariy RA, Rasulullah SAW mengutus Abu Ubaidah Ibnul Jarrah RA ke negeri Bahrain untuk mengambil upeti dari penduduknya. Kemudian dia kembali dari Bahrain dengan membawa harta.

Ketika kalangan Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah, mereka bersegera menuju masjid untuk menunaikan sholat Subuh bersama Rasulullah SAW.

Setelah sholat, Rasulullah SAW berpaling (menghadap ke para sahabat). Mereka memperlihatkan keinginan atas apa yang dibawa Abu Ubaidah. Rasulullah pun tersenyum ketika melihat mereka. Lantas Rasulullah SAW bersabda, “Aku menduga kalian telah mendengar Abu Ubaidah telah tiba dan membawa sesuatu dari Bahrain.” Mereka menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.”

Beliau SAW kembali bersabda, “Berbahagialah dan berharaplah sesuatu yang akan menyenangkan kalian. Demi Allah! Miskinnya kalian bukan hal yang aku takuti. Tetapi aku khawatir dunia diberikan kepada kalian sebagaimana telah diberikan kepada orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana yang mereka lakukan, lalu dunia membuat kalian binasa sebagaimana binasanya mereka (orang-orang sebelum kalian).” (HR Bukhari dan Muslim).

Ulama Syekh Ibnu Utsaimin menyampaikan penjelasan terkait hadits tersebut. Hadits itu oleh penulisnya dimasukkan ke dalam bab tentang zuhud pada dunia dan dorongan menikmati (targhib) dunia.

Sebelumnya juga telah disampaikan mengenai ayat-ayat yang menunjukkan bahwa dunia bukan sesuatu yang disandarkan pada akhirat, tetapi merupakan jalan menuju akhirat.

“Maka jika ada seseorang yang berkata tentang zuhud dan wara’, mana di antara keduanya yang lebih tinggi, dan apa bedanya?,” kata Syekh Utsaimin.

Dia memaparkan, zuhud lebih tinggi dari wara’. Bedanya, wara’ meninggalkan sesuatu yang merugikan, sedangkan zuhud meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat.

“Jadi, wara’ adalah ketika seseorang meninggalkan sesuatu yang merugikannya di akhirat, meninggalkan yang haram. Sedangkan zuhud adalah ketika meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya di akhirat. Yang tidak bermanfaat tidak diambil, dan yang bermanfaat, diambil,” demikian penjelasan Syekh Utsaimin.

Sesuatu yang tidak bermanfaat saja tidak diambilnya, apalagi sesuatu yang merugikan. Tentu tidak diambil. Karena itu, Syekh Utsaimin mengatakan, zuhud lebih tinggi dari wara’, sehingga orang yang zuhud itu wara’, tetapi belum tentu orang yang wara’ itu zuhud.

Kembali pada hadits di atas, Syekh Utsaimin mengatakan, senyumnya Rasulullah SAW sebenarnya adalah tertawa. Namun beliau SAW tersenyum tanpa suara, karena mereka datang untuk menginginkan harta.

“Hadits tersebut memperingatkan bahwa dunia akan diberikan untuk kita, sebagaimana telah diberikan untuk orang-orang sebelum kita, sehingga kita pun akan binasa seperti mereka,” katanya.

Karena itu pula, dalam penjelasan Syekh Utsaimin atas hadits tersebut, kemiskinan bisa menjadi kebaikan bagi seseorang. Ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam hadits qudsi, “Sesungguhnya ada di antara hamba-Ku, yang jika Aku menjadikannya kaya, niscaya kekayaan itu akan merusaknya. Dan ada di antara hamba-Ku, yang jika Aku menjadikannya miskin, niscaya kemiskinan itu akan merusaknya.”

Dalam hadits itu, Rasulullah SAW bersabda bahwa bukan kemiskinan yang ditakuti beliau. Syekh Utsaimin mengemukakan, ini berarti Nabi SAW tidak takut ketika kemiskinan ditimpakan kepada umatnya. Sebab, sering kali orang miskin lebih dekat pada kebenaran dibandingkan orang kaya.

“Lihatlah para rasul, siapa yang mengingkari mereka? Orang-orang kaya, fasik, dan orang-orang terkemuka yang mengingkarinya. Dan orang-orang miskinlah yang paling banyak menjadi pengikutnya. Bahkan, pengikut Nabi Muhammad SAW lebih banyak orang miskin,” papar Syekh Utsaimin.

“Jadi bukanlah kemiskinan yang ditakuti Rasulullah SAW. Tetapi justru yang ditakuti adalah ketika dunia dipermudah bagi umatnya,” demikian penjelasan Syekh Utsaimin.

*****

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here