Berkah tak Ternilai yang Kadang Luput Disyukuri Manusia

0
9 views
Rasa syukur itu diwujudkan dalam bentuk ibadah dan menyembah hanya kepada Allah SWT.

Ahad 17 Oct 2021 07:31 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Ani Nursalikah

Rasa syukur itu diwujudkan dalam bentuk ibadah dan menyembah hanya kepada Allah SWT.

“Nikmat Allah tidak boleh disepelekan”

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Manusia umumnya kerap kali menghitung dan mengukur sesuatu berdasarkan kekayaan, seperti emas dan perak. Padahal, kekayaan dan modal manusia yang sebenarnya adalah kemampuan yang Tuhan berikan, seperti kecerdasan, kemampuan, dan kebebasan.

Namun, ada karunia tertinggi yang kadang kala luput dari rasa syukur manusia, sesuatu yang terkadang tak diperhitungkan dan dihargai, yakni tubuh yang sehat. Kesehatan tubuh, keutuhan organ-organ tubuh, dan kesempurnaan pancaindera adalah berkah yang tak ternilai.

Sebab, seberapa kaya pun seseorang, tidak akan ada yang bersedia untuk menjual kedua matanya atau organ tubuhnya yang lain. Hal-hal yang terkesan sepele seperti meneguk air minum pun sejatinya adalah nikmat dari Allah.

Seperti kisah Ibnu Samak, seorang ulama shalih, yang menghadiri undangan Khalifah Harun Al-Rasyid di istana di Baghdad untuk meminta fatwa dan nasihatnya. Di suatu hari yang sangat terik, khalifah meminta pelayannya untuk menyajikan minuman.

Sebelum meminum, Ibnu Samak bertanya kepada Khalifah, “Tuan, jika sekiranya seteguk air minum itu sulit diperoleh dan susah mencarinya, sedangkan tuan sudah sangat kehausan, berapakah kiranya seteguk air itu mau tuan hargai?”

“Biar habis setengah kekayaanku, aku mau membelinya,” ujar Khalifah Harun Al-Rasyid.

“Minumlah tuanku air yang seteguk itu yang kadangkala harganya lebih mahal daripada setengah kekayaan tuanku!” lanjut Ibnu Samak.

Setelah Khalifah minum, Ibnu Samak pun melanjutkan fatwanya. “Jika air yang tuan minum tadi tidak mau keluar dari diri tuan (tidak bisa buang air kecil), meski sudah bersusah payah berusaha tidak juga mau keluar, berapakah kiranya tuan mau membayar agar air itu dapat keluar?” tanya Ibnu Samak lagi.

Harun Al-Rasyid menjawab, “Kalau air itu tidak mau keluar lagi (tidak bisa buang air kecil), apalah gunanya kemegahan dan kekayaan ini. Biarlah habis seluruh kekayaanku ini untuk mengobati diriku sehingga air itu bisa keluar.”

Ibnu Simak melanjutkan pengajarannya, “Maka tidakkah tuan insyaf, betapa kecil dan lemahnya kita ini. Tibalah saatnya kita tunduk dan patuh serta bersyukur kepada-Nya dan menyadari akan kelemahan diri kita.” Mendengar fatwa itu Khalifah menangis tersedu.

Demikian kisah itu mengajarkan betapa nikmat Allah itu tidak boleh disepelekan. Bahkan meminum air dan membuangnya kembali dari tubuh pun adalah karunia Allah yang patut disyukuri.

Membiasakan hidup sehat terkadang membuat manusia lupa atau meremehkan betapa nikmatnya sehat itu. Tak jarang, manusia harus mengalami krisis atau kehilangan kesehatan untuk menghargainya. Meski di mata manusia hal itu seperti sepele, tetapi di hadapan Allah semua akan diperhitungkan.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seseorang akan datang pada hari kiamat dengan amal saleh yang jika diletakkan di atas gunung, akan membebaninya; maka hanya satu Nikmat Allah yang akan datang (dan mengambil apa yang layak dari perbuatan baik hamba) dan hampir menghabiskan semuanya, jika bukan karena Rahmat yang Allah berikan.” (Al-Tabarani)

Oleh karena itu, Allah berfirman dalam Alquran surat 16 ayat 18: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sheikh Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya berjudul Renew Your Life, seperti dikutip di laman About Islam menuliskan semua kehidupan adalah hadiah yang layak disyukuri karena Allah telah menganugerahkan manusia jiwa dan rasa. Seluruh alam semesta diciptakan dengan dilengkapi segala kebutuhan manusia, dan di dalamnya terdapat tanda-tanda yang menunjuk kepada Sang Pencipta.

Allah-lah yang memberi kehidupan ketika manusia awalnya tidak memiliki kehidupan. Allah juga yang mematikan makhluk ciptaannya, kemudian menghidupkannya kembali.

Sebagaimana firman Allah dalam Alquran surat 2 ayat 28: “Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”

Pancaindera adalah alat agar manusia bisa berinteraksi dengan alam semesta ini, menjelajahinya, dan belajar darinya. Karena itu, sudah sepatutnya timbul rasa syukur dalam hati manusia atas berbagai anugerah Allah dalam kehidupan ini. Rasa syukur itu diwujudkan dalam bentuk ibadah dan menyembah hanya kepada Allah SWT.

Allah berfirman dalam Alquran surat 16 ayat 78: “Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, dan memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur (kepada Allah).” 

https://aboutislam.net/reading-islam/living-islam/the-priceless-blessings-that-we-never-count/

******

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here