Al-Qur’an Penyejuk Hati dan Penghilang Kesedihan

Al-Qur’an Penyejuk Hati dan Penghilang Kesedihan

190
0
SHARE
Bersama Santri, dan Ayahanda Mereka.

“Sesudah Kesulitan itu Ada Kemudahan”

Garutnews ( Sabtu, 22/06 – 2024 ).

Dengan senantiasa membaca, memahami serta maksimal berupaya mengamalkan setiap surah dalam Al-Qur’an, selain sebagai petunjuk juga dipastikan hati menjadi tenang. 

Karena di antaranya bisa memiliki keyakinan “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Sebagaimana hadits Rasulullah SAW,

أكْثِرُوْا مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ، فَمَنْ أَكْثَرَ مِنْهُ جَعَلَ الله لَهُ مِنْ كُلِّ غَمٍّ وَهَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa memperbanyak istigfar, niscaya Allah SWT melegakan setiap kegundahan mereka, melepaskan kesempitan mereka, dan memberikan rezeki secara tidak diduga-duga,” (HR Abu Dawud).

Ust. Salman.

Demikian antara lain intisari yang dikemukakan Ust. Salman pada “Parade Salmi 5, Pembagian Hasil Belajar Ananda Santri Kuttab Yadul ‘Ulya” di Kampung Panawuan Sukajaya Tarogong Kidul Garut, Sabtu (22/07-2024).

Menyusul dalam rangkaian helatan tersebut bertemakan “Al-Qur’an Sebagai Penyejuk Hati Kami, dan Penghilang Kesedihan Kami.”

“Sumber Ketenangan”

Upaya Meraih Peradaban Berkeunggulan Kompetitif & Komperatif.

Dipastikan kita pernah bahkan kerap mengalami kegundahan, kegalauan, dan kesedihan. Lantaran banyaknya problematika hidup acap menjadikan tidak tenang. Was-was terhadap masa depan, khawatir tentang suatu keadaaan, sedih atas musibah, dan gundah gulana ketika menghadapi masalah.

Demikianlah realitas kehidupan, banyak peristiwa membuat hati tidak tenang. Ketahuilah obat dari semua ini ada dalam Al-Qur’an. Ketenangan hati dambaan setiap insan. Allah SWT menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber guna mendapat ketenangan hati.

Mengutamakan Adab Kemudian Ilmu.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.“ (QS. Yunus: 57)

Dalam ayat yang mulia ini, setidaknya Allah Ta’ala menyebutkan empat fungsi Al-Qur’an, yaitu: mau’idzah (nasihat) dari Rabb kita, syifa’ (penyembuh) bagi penyakit hati, huda (sumber petunjuk), dan rahmat bagi orang beriman.

 

Bersama Ibunda Santri.

Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Di dalam Al-Qur’an terdapat peringatan tentang amalan yang menyebabkan murka Allah dan berdampak mendapat hukuman-Nya. Di dalamnya terdapat peringatan agar kita menjauhinya disertai penjelasan dampak buruk dan kerusakan yang ditimbulkan karenanya.

Al-Qur’an merupakan penyembuh bagi penyakit hati, baik berupa penyakit syahwat yang menghalangi manusia untuk tunduk kepada syariat, maupun penyakit syubhat yang mengotori keyakinan akidah.

Meraih Hadiah Hasil Belajar.

Di dalam Al-Qur’an juga terdapat nasihat, motivasi, peringatan, janji, dan ancaman yang akan menimbulkan perasaan harap dan sekaligus takut di hati para hamba. Jika muncul dalam perasaannya motivasi untuk beramal kebaikan dan rasa takut untuk berbuat kemaksiatan, perasaan itu akan terus bisa tumbuh.

Bersujud Kepada Ayah & Bunda.

Hal ini karena orang tersebut selalu mengulang mengkaji makna Al-Qur’an, sehingga akan mendorong dirinya untuk lebih mendahulukan perintah Allah daripada keinginan nafsunya. Pada akhirnya, dia akan menjadi hamba yang lebih mencari rida Allah daripada nafsu syahwatnya sendiri.

Demikian pula berbagai penjelasan dan dalil yang ada dalam Al-Qur’an telah Allah sebutkan dengan sangat jelas dan gamblang. Hal ini akan menghilangkan setiap syubhat yang menghalangi kebenaran masuk dalam dirinya sehingga hatinya pun berada pada puncak derajat keyakinan dalam menerima kebenaran.

Santriwati Berprestasi.

Ketika hati itu sehat dan bebas dari penyakit, keadaannya akan diikuti oleh seluruh anggota badannya. Seluruh anggota badan akan jadi baik disebabkan baiknya hati dan akan menjadi rusak disebabkan rusaknya hati.

Al-Qur’an merupakan hidayah dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Yang dimaksud hidayah adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Rahmat merupakan dampak dari kebaikan dan kebajikan, dan balasan kebaikan di dunia maupun di akhirat, bagi mereka yang dibimbing olehnya.

Pendidikan Tanggungjawab Bersama.

Hidayah adalah sarana yang paling penting, dan rahmat merupakan tujuan dan keinginan yang paling lengkap. Namun, tidak akan mendapat hidayah dan mendapat rahmat, kecuali orang beriman. Jika telah mendapat hidayah dan terwujud rahmat, maka kebahagiaan dan kemakmuran, keuntungan dan kesuksesan, kegembiraan dan kesenangan akan tercapai. (Taisir Karimi Ar-Rahman)

Al-Qur’an adalah sumber ketenangan hati

Penghafal Qur’an dan Hadist.

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah, hati menjadi tenteram.“ (QS. Ar-Ra’du: 28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca Kitabullah, dan saling mengajarkan satu dan lainnya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya. (HR. Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,

تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ

Ketenangan itu datang karena Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Santri & Para Guru.

Allah Ta’ala berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.“ (QS. Al-Isra’: 82)

Berpaling dari Al-Qur’an adalah sumber kesengsaraan

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.“ (QS. Thaha: 124)

Pemberian Bingkisan.

Syekh Abu Bakar Al-Jazaairy rahimahulah menjelasakan, (Dan barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku), yaitu tidak mau beriman dengan Al-Qur’an dan mengamalkannya, maka ia akan memperoleh balasan dari Allah, baginya kehidupan yang sulit, yaitu berupa kesulitan yang menyempitkan jiwanya. Dan dia tidak merasa puas dan bahagia walaupun rezekinya luas. Di alam kubur dia akan merasakan kesempitan. Dan dia sengsara sepanjang hidup di alam barzakh. Dan dia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia tidak memiliki hujjah dan tidak memiliki penglihatan untuk menuntunnya.” (Aisaru At-Tafasiir)

Buktikan Hasil Belajar.

Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menyebutkan bahwa para ulama ahli tafsir berpendapat  bahwasanya kehidupan yang sempit (مَعِيشَةً ضَنكاً) bagi orang yang berpaling dari Al-Qur’an bersifat umum, mencakup kesempitan kehidupan dunia berupa kekhawatiran, kecemasan, dan rasa sakit yang merupakan siksaan yang dirasakan di dunia, kesempitan di alam barzakh, dan juga kesempitan di alam akhirat. (Taisir Karimi Ar-Rahman)

********

Sumber, Penulis: Adika Mianoki

Artikel: Muslim.or.id

Fotografer : Abah John.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY