Akhlak

0
19 views
Tadabur Alam Santri Ponpes Yadul 'Ulya Garut.

 05 Nov 2021, 03:30 WIB

Wujudkan Generasi Qur’ani.

“Menjadi manusia berakhlak di tengah perubahan zaman tidaklah mudah”

OLEH ABDUL MUID BADRUN

Secara sederhana, akhlak merupakan tingkah laku seseorang yang secara sadar melakukan segala perbuatan yang baik dan benar. Dalam ajaran Islam, akhlak yang baik adalah akhlak yang sesuai dengan tuntunan Alquran dan contoh Rasulullah SAW. 

Sehingga, untuk bisa menjadi manusia yang berakhlak tentu tidaklah mudah. Sebab, harus mampu melawan dirinya sendiri di tengah kebutuhan dan situasi kondisi masyarakat yang sedang sakit seperti saat ini.

Namun, inilah tugas mulia manusia. Memberikan contoh yang baik dan benar kepada siapa pun dan di manapun. Ini pula yang membedakan manusia dengan binatang. Sehingga, disebut dalam Alquran manusia adalah sebaik-baik ciptaan-Nya (QS at-Tin: 4).

Kalau dari ciptaannya saja sudah yang terbaik maka jika ada manusia yang melakukan tindakan laiknya binatang misalnya, sejatinya dia bukan manusia. Sekali lagi, dia bukan manusia!

Di sisi lain, kita tengok Kementerian BUMN juga menjadikan AKHLAK sebagai “core values” (nilai-nilai agung) dalam melandasi setiap kerja operasionalnya. Meliputi: amanah, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif.

Meskipun AKHLAK di sini hanya kependekan dari enam nilai-nilai agung, pesan utamanya adalah setiap insan yang bekerja di BUMN harus memiliki akhlak yang baik dan benar. Agar mampu bersaing di tingkat global dan menjadi pembeda utama dengan perusahaan-perusahaan lainnya.

Karena itulah Rasulullah Muhammad diutus di muka bumi ini memiliki misi utama menyempurnakan akhlak umat manusia. Hal ini tergambar dalam sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya aku diutus di muka bumi ini untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR Baihaqi).

Artinya, dengan bahasa lain, saat ini tugas menyempurnakan akhlak itu ada pada para ulama, para kiai, para ustaz, dan para pemuka agama Islam lainnya. Jika dalam konteks perusahaan, para komisaris, para direktur, para GM, dan para pemimpin-pemimpin departemen lainnya.

Makna menyempurnakan kemuliaan akhlak ini harus dipahami sebagai upaya untuk menegakkan kebenaran dan kebaikan di muka bumi ini. Kapan pun dan di manapun!

Nah, dari sinilah akan terlihat jelas seberapa berani kita mengemban amanah menyempurnakan akhlak manusia. Apalagi, kalau hal itu terkait dengan kepentingan pribadi dan duniawi. Jelas, di sini Rasul memberikan penekanan dan peringatan tegas, seperti dalam hadis, “Katakan yang benar, walau pahit rasanya.” (HR Ibnu Hibban).

Bagaimanapun, menjadi manusia berakhlak di tengah perubahan zaman tidaklah mudah. Banyak ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang setiap saat bisa menjerumuskan. Maka, perlu tips sederhana agar kita tetap istiqamah berakhlak mulia dengan cara: “Jangan bikin dosa,” itu saja! 

Ketika kita tahu itu dosa, jangan dilakukan. Ketika tahu ucapan kita menyakiti sesama, jangan diucapkan. Ketika tahu tindakan kita merugikan orang lain, jangan diteruskan. Takutlah berbuat dosa agar surga merindukan kita.

Wallahu a’lam.

******

Republika.co.id/Ilustrasi Fotografer : Abah John.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here