760 Warga Garut Terinfeksi HIV/AIDS Telan Kerugian Negara Rp912 juta

0
61 views
Pemeriksaan Gratis (Konseling & Tes HIV dan IMS) di pesisir Pantai Rancabuaya, Termasuk Kepada Populasi Kunci pada Rabu (01/02–2017) Silam.
Semarak rangkaian Peringatan Hari AIDS Sedunia di Garut, Sabtu (02/12-2017) silam.

“Didominasi LSL”

Garut News ( Rabu, 22/07 – 2020 ).

Dari 760 penduduk Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang terinsfeksi HIV/AIDS periode Januari hingga Juni 2020 maupun selama enam bulan, menelan kerugian ekonomi negara bersumber APBN sedikitnya mencapai Rp912 juta.

Kerugian ekonomi Rp912 juta tersebut, hanya untuk biaya pemenuhan kebutuhan  menjalani terapi obat ‘Antiretroviral” (ARV) terinfeksi HIV agar virus menjadi ngumpet atau tidur.

Populasi Kunci Seksama Simak Advokasi Bahaya HIV/AIDS.

“Tidak termasuk pemenuhan penanganan terinsfeksi HIV TB Paru, hepatitis C, dan AIDS kebutuhan biayanya lebih besar lagi,” ungkap Direktur Eksekutif  “Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia” (PKBI) kabupaten setempat, Ir Denden Supresiana.

Kepada Garut News di ruang kerjanya, Kamis (22/07–2020), dia katakan jika setiap provinsi di Indonesia ada 10 kabupaten/kota penduduknya terinsfeksi HIV/AIDS, maka dari 340 kabupaten/kota kerugian ekonominya bisa mencapai sedikitnya Rp1,7 triliun.

Penyajian materi Informasi Dasar HIV AIDS dan IMS, Antara Lain Diikuti Populasi Kunci di Rancabuaya Garut pada, Rabu (01/02–2017) Silam.

Dana sebesar itu sejatinya bisa digunakan membiayai sektor pembangunan lain yang lebih menyentuh kepentingan masyarakat, selain itu dipastikan ada kerugian pada bonus demografi, sebab yang terinsfeksi HIV/AIDS sebagian besar berusia produktif.

“Didominsasi LSL”

Faktor resiko paling dominan di tengah wabah Covid-19 penyebab 760 warga Kabupaten Garut terinsfeksi HIV/AIDS terdiri 325 HIV dan 435 AIDS. Lantaran ‘Laki Seks Laki’ (LSL) mencapai 213 kasus (80 AIDS, dan 133 HIV).

“Dua faktor dominan lainnya berupa 188 IDU’s/Penasun maupun jarum suntik narkoba meliputi 135 terinfeksi AIDS dan 53 HIV, serta 165 pasangan Resti perempuan (97 AIDS, dan 68 HIV),” ungkap Ir Denden Supresiana.

Dikemukakan, estimasi Kemenkes 2015 (978), total Outreach (760), meninggal (181). Sedangkan ODHA yang masih hidup, intens didampingi (579), Outreach dengan ARV (503), serta Gap/Outreach belum ARV (76).

Disusul faktor resiko HRM (Pria Resti) terinsfeksi 113 (72 AIDS dan 41 HIV), pasangan Resti laki-laki 34 (18 AIDS dan 16 HIV), waria terinsfeksi 24 (15 AIDS dan sembilan HIV), 16 Prinatal/Anak (11 AIDS dan lima HIV), tak terindentifikasi lima terinsfeksi AIDS. Serta dua Wanita Pekerja Seks (WPS) terinsfeksi AIDS.

Menurut golongan umur mulai kurang satu tahun hingga lebih 60 tahun, terdapat pula lima terinsfeksi AIDS yang tak diketahui usianya. Mereka meliputi 513 laki-laki (288 AIDS dan 225 HIV), serta 247 perempuan (147 AIDS dan 100 HIV).

Sedangkan sebarannya pada 40 wilayah kecamatan, terbanyak di wilayah Kecamatan Garut Kota mencapai 223 kasus yang terinsfeksi (147 AIDS dan 76 HIV), disusul di Kecamatan Tarogong Kidul 103 kasus (66 AIDS dan 37 HIV), serta Tarogong Kaler 52 kasus (31 AIDS dan 21 HIV).

Beragam kalangan menyatakan, sangat prihatin kabupaten ini dikepung perilaku orientasi laki seks laki, sehingga bisa menjadi tamparan sangat telak bagi banyak pihak. Lantaran daerah ini pun, selama ini pula dikenal agamis.

Namun orientasi laki seks laki cenderung menjadi gaya hidup, antara lain akibat jauh dari nilai luhur agama, pola asuh keluarga, dan juga pengaruh lingkungan.

********

Esay/Fotografer : John Doddy Hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here