Wisata Tirta Bagendit Mendesak Perlukan Sarana Keselamatan

0
16 views
Ilustrasi. Penyedot Pasir Situ Bagendit.

Fotografer : John Doddy Hidayat

Garut News ( Rabu, 10/05 – 2017 ).

Ilustrasi. Penyedot Pasir Situ Bagendit.
Ilustrasi. Penyedot Pasir Situ Bagendit.

Kalangan pelaku usaha wisata tirta di kawasan obyek wisata Situ Bagendit Banyuresmi Garut, Unit Pelaksana Teknis Bagendit pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dispurbad) kabupaten setempat, membentuk “Badan Penyelamat Wisata Tirta” (Balawista) Situ Bagendit. Guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya kecelakaan air menimpa wisatawan.

“Kini baru dua orang diikutkan pendidikan dan pelatihan Balawista. Mereka juga diberi sejumlah perlengkapan, termasuk baju pelampung. Bertahaplah. Maklum, anggarannya sangat terbatas,” kata Kepala UPT Bagendit Yendi Supyendi, Selasa (09/05-2017).

Kata dia, keberadaan Balawista atau semacam lifeguard/penyelamat pantai sangat dibutuhkan di kawasan Situ Bagendit yang aktivitas wisatanya dominan wisata tirta/air.

Apalagi areal obyek wisata terkenal berlegenda Ki Bagen dan Nyi Endit-nya itu pun sangat luas, mencapai sekitar 124 hektare. Meski sekitar 20% di antaranya tak tergenangi air lantaran sejumlah faktor.

Dikemukakan, selain jumlah petugas Balawista memadai, dengan luasnya areal mesti diawasi maka kawasan obyek wisata tersebut, juga dibutuhkan sarana prasarana pendukung bagi kelancaran Balawista pada upaya antisipasi kecelakaan maupun penyelamatan wisatawan mengalami kecelakaan air. Antara lain alat komunikasi, lampu center dengan jangkauan cukup jauh, dan perahu.

“Jika mengandalkan rakit untuk tugas Balawista, repot. Selain lambat, juga berat dikayuhnya. Apalagi kalau ada angin besar. Harus pakai perahu. Jenisnya sih perahu apa saja. Yang penting bisa lebih cepat daripada rakit,” imbuh Yendi.

Bahkan lebih bagus, katanya, mengantisipasi kemungkinan terjadi kecelakaan air di Situ Bagendit ini, ke depan dapat dibangun semacam menara pengawas supaya jarak pantau petugas lebih luas dan jauh. Dilengkapi teropong.

Dikatakan, pada beberapa titik di kawasan Situ Bagendit terbilang rawan terjadi kecelakaan. Selain sering terjadi angin besar, juga terdapat endapan lumpur tebal serta gundukan tanaman air bisa menyebabkan rakit atau kendaraan air seperti sepeda air terjebak, dan kandas.

“Yang repot itu kalau terjadi sore atau menjelang malam namun tak ada kontak dari pengunjung sendiri. Terjadi di lokasi jauh dari jarak pandang kita. Mungkin karena mereka keasyikan, dan tak menyadari posisinya jauh dari pantauan kita di darat. Kita tahu ada kejadian setelah melihat di areal parkir masih ada kendaraan pengunjung padahal jam berkunjung sudah tutup,” ujarnya.

Kepala Disparbud Budi Gan Gan menegaskan sebenarnya sudah terbentuk Balawista meski belum secara khusus ditempatkan di setiap obyek wisata.

Namun, karanya pula, setiap menghadapi kemungkinan terjadi lonjakan wisatawan ke sejumlah obyek wisata pada musim liburan panjang libur sekolah, natal, dan pergantian tahun, pihaknya menaruh perhatian khusus terhadap sejumlah obyek wisata tirta.

Terdiri kawasan obyek wisata pantai Santolo, dan sekitarnya di wilayah selatan Garut, serta kawasan obyek wisata Cipanas.

Perhatian khusus diberikan pada kawasan obyek wisata Cipanas, dan wisata pantai tersebut, sebab selain terdapat area rawan terjadi kecelakaan, juga kawasan obyek wisata itu merupakan daerah tujuan wisata favorit, katanya.

*********

(NZ, jdh).