You are here
Warisan Kennedy ARTIKEL 

Warisan Kennedy

Ian Buruma, Guru Besar Demokrasi

Garut News ( Senin, 18/11 ).

Ilustrasi. (Ist).
Ilustrasi. (Ist).

Lima puluh tahun yang lalu pada bulan ini, Presiden John F. Kennedy terbunuh di Dallas, Texas.

Dipandang dari perspektif hari ini, kepresidenan Kennedy tampak seperti titik puncak prestise Amerika.

Kurang dari lima bulan sebelum terbunuhnya, Kennedy menggelorakan suatu rapat besar warga Jerman di pusat Kota Berlin, garis depan Perang Dingin pada waktu itu, dengan ucapannya yang terkenal, “Ich bin ein Berliner” (Saya orang Berlin).

Bagi berjuta-juta orang, Amerika-nya Kennedy kokoh berdiri bagi kebebasan dan membawakan harapan.

AS merupakan tempat berharap, panutan, dan kekuatan bagi kebaikan di suatu dunia yang sarat dengan kejahatan.

Citra ini segera dirusak oleh terbunuhnya Kennedy; adiknya, Bobby; dan Martin Luther King, Jr.; serta oleh perang di Vietnam.

Untuk sesaat, ketika rakyat Amerika untuk pertama kalinya memilih seorang warga kulit hitam sebagai presiden, seorang tokoh yang masih muda dan memberikan harapan, tampak seakan-akan AS memperoleh kembali prestise yang dinikmatinya pada awal 1960-an.

Seperti Kennedy, Barack Obama menyampaikan pidato-di hadapan paling tidak 200.000 orang-yang sudah mengaguminya bahkan sebelum terpilih sebagai presiden.

Janji dan harapan itu tidak pernah terpenuhi.

Sebenarnya, prestise AS telah jatuh sejak 2008.

Politik di dalam negeri Amerika telah begitu diracuni oleh sikap kepartaian yang sempit-terutama di kalangan tokoh-tokoh Partai Republik yang sejak semula membenci Obama.

Ketidaksetaraan ekonomi semakin parah dibanding pada masa kapan pun sebelumnya.

Dalam kebijakan luar negeri, AS dipandang sebagai pem-bully yang petentengan atau seorang pengecut yang tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Sekutu-sekutu paling dekat Amerika, seperti Kanselir Jerman Angela Merkel, geram karena dimata-matai AS.

Israel dan Arab Saudi kesal dengan apa yang mereka pandang sebagai kelemahan Amerika.

Bahkan, Presiden Rusia Vladimir Putin, pemimpin otokratis dari suatu negara yang sedang memudar, bisa mempertontonkan suatu pertunjukan yang menarik dibanding Presiden Amerika yang sudah tercoreng itu.

Memang mudah menyalahkan Obama, atau tokoh-tokoh Partai Republik yang sembrono, atas keadaan yang menyedihkan ini.

Tapi hal ini berarti tidak mengindahkan poin paling penting dalam peran Amerika di dunia.

Idealisme yang sama yang membuat Kennedy begitu populer juga telah memerosotkan prestise internasional Amerika.

Beberapa di antara para pengagum Kennedy yang paling bersemangat masih suka meyakini bahwa ia bisa mencegah eskalasi perang Vietnam andaikan berusia lebih panjang.

Tapi tidak ada bukti sama sekali yang memperkuat anggapan ini.

Kennedy adalah seorang hulubalang Perang Dingin yang gigih.

Dan sikap anti-komunisnya dibalut dalam bahasa idealisme Amerika.

Seperti dikatakannya dalam pidato pelantikannya: “Kita bersedia membayar harga apa pun, memikul beban apa pun, menghadapi kesulitan apa pun, mendukung teman mana pun, menentang lawan mana pun, demi menjamin kelanjutan hidup dan keberhasilan kebebasan….”

Antusiasme misi yang diperjuangkan Amerika bagi kebebasan di seluruh dunia ini dirusak oleh Amerika sendiri dalam perang berdarah di Vietnam.

Sekitar 2 juta rakyat Vietnam tewas dalam suatu perang yang tidak membebaskan mereka.

Perlu bencana lainnya lagi untuk membangkitkan kembali retorika pembebasan dengan kekuatan militer Amerika.

Alasan mengapa Presiden George W. Bush memilih jalan perang di Afganistan dan Irak itu memang kompleks.

Tapi bahasa yang digunakan kaum neo-konservatif untuk mendorong perang ini muncul langsung dari era Kennedy: menyebarkan demokrasi, memperjuangkan kebebasan, dan memajukan wewenang universal “nilai-nilai Amerika.”

Satu alasan mengapa rakyat Amerika memilih Obama pada 2008 adalah bahwa retorika idealisme AS telah sekali lagi berujung pada tewas dan tercerai-berainya jutaan orang.

Sekarang ketika para politikus AS berbicara tentang “kebebasan”, orang menyaksikan pengeboman, penyiksaan, dan ancaman serangan mematikan pesawat-pesawat nir-awak.

Masalah dengan Amerika-nya Obama ini berakar pada kontradiksi kepemimpinannya.

Obama telah menjauhkan diri dari misi membebaskan dunia dengan jalan kekerasan. Ia telah mengakhiri perang di Irak dan segera akan mengakhiri perang di Afganistan.

Ia telah melawan godaan untuk menyerang Iran atau Suriah.

Kepada mereka yang mengharapkan AS memyembuhkan semua penyakit di dunia, Obama tampak lemah dan tidak tegas.

Namun pada saat yang sama ia juga gagal menutup penjara AS yang buruk di Teluk Guant√°namo.

Sementara perang terbuka dikurangi, perang tersembunyi ditingkatkan dan menyebar.

Dan citra Amerika setiap hari terbenam semakin dalam.

Tapi masalahnya bukan Obama.

Masalahnya adalah arogansi keyakinan Amerika akan peran “khusus” mereka di dunia-keyakinan yang telah terlalu sering disalahgunakan demi mengusulkan perang yang tidak perlu.

Bukan saja idealisme Amerika telah menyebabkan mereka berharap terlalu banyak bagi diri mereka sendiri, tapi juga dunia berharap terlalu banyak dari Amerika.

Dan harapan ini berakhir dengan kekecewaan. *

Hak cipta: Project Syndicate, 2013/ Sumber Kolom/artikel Tempo.co

Related posts

Leave a Comment