You are here
Wajah dan Kediktatoran ARTIKEL 

Wajah dan Kediktatoran

Jumat , 11 August 2017, 01:00 WIB

Red: Agus Yulianto

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Syukri Wahid *)

(istimewa).
Syukri Wahid.  (istimewa).

Siapa yang tak mengenal Umar bin Khattab, jawara Quraisy dari suku Makhzum yang namanya selalu tergantung di dinding Ka’bah karena penghargaan selalu menjuarai pertandingan gulat, berpedang, dan berkuda.

Perawakannya yang tinggi besar, rambut kepalanya sedikit, pandangannya tajam, dan sifatnya yang tegas membuat semua orang segan dan cenderung takut padanya.

Suatu saat, para isteri Rasulullah sedang berada di sekitar Rasulullah SAW, begitu dari kejauhan Umar bin Khattab ra datang ke arah beliau, seketika mereka berhamburan meninggalkan Rasulullah.

Melihat hal itu Rasulullah SAW tersenyum dan mengatakan kepada Umar, “Mereka takut dengan dirimu wahai Umar!”

Setan sekalipun jika bertemu dengan Umar bin Khattab lebih memilih menghindar dan mencari jalan lain.

Tapi “segarang” itukah beliau? Seperti apa kebijakannya saat menjadi khalifah? Apakah sesangar perawakannya?

Siapa yang mengira di balik wajahnya yang “sangar “ itu, pernah pingsan saat tengah malam melewati rumah rakyatnya yang sedang shalat malam dan membacakan surat Ar Rahman hingga membuat sekujur tubuh Umar gemetaran lantaran takutnya karena bacaan tersebut.

Siapa yang mengira di balik wajahnya yang “sangar” itu, beliau tiba-tiba menarik pasukan yang sudah enam bulan berada di medan jihad, lantaran suatu malam melewati rumah dan mendengar seorang wanita dari dalam rumahnya berdoa dalam rintihan munajat panjangnya terdengar sampai di luar rumah.

“Duhai yang ada di langit, sekiranya bukan karena diri Mu niscaya ranjangku ini akan bergoyang.” Umar bin Khattab terhenyak dan sadar atas ucapan itu.

Seketika, beliau buru-buru memanggil anak perempuannya Hafsah, dan bertanya, “Wahai Hafsah, mohon maaf ayahmu bertanya berapa lamakah kalian sebagai perempuan bisa bertahan untuk hal itu?”

Atas jawaban putrinya, maka beliau selalu menarik pasukan jika sudah enam bulan dan memberi kesempatan untuk memenuhi hak keluarganya.

Siapa mengira di balik wajahnya yang “sangar”, beliau pernah keluarkan “PERPU” standarisi mahar dengan batasan maksimal setara ratusan perak

Sampai-sampai membuat seorang wanita berani datangi beliau dan memprotes kebijakan khalifah. Akhirnya beliau mencabut PERPU tersebut karena mendzalimi hak wanita.

Wajah dan kebijakan dua hal yang berbeda. Sebab terkadang wajah bisa menipu, namun kebijakan tak bisa di tipu.

Di balik wajahnya yang sangar tersembunyi kelembutan dan keterbukaan dengan rakyatnya.

Saya dan mungkin juga Anda tentu tidak berharap tertipu dengan penampilan. Kadang bisa bertemu pemimpin dengan tipe “berwajah menghibur seperti Mr Bean, tapi hatinya sesangar Hitler”.

Sebab merakyat atau diktator bukan di penampilan, melainkan ada pada kebijakan.

*) Pegiat Sosial Politik

*********

Republika.co.id

Related posts

Leave a Comment