Virus Popularitas

by

Dian R. Basuki, peminat masalah sains

Jakarta, Garut News ( Kamis, 14/11 ).

Ilustrasi. (ist).
Ilustrasi. (ist).

Selalu ada harga untuk popularitas.

Apa yang tampak bagus mungkin dicari-cari kelemahannya.

Ada yang siap menghadapi komentar publik, ada pula yang gamang.

Walau begitu, semakin banyak saja orang yang memburu popularitas atau ketenaran.

Dipinjam dari bahasa Latin popularis, ketenaran mempunyai makna “kebanyakan” atau “disukai”.

Dalam pengertiannya yang sekarang, bermakna “kondisi disukai oleh orang banyak”, muncul pertama kali pada 1601—empat abad yang lampau.

Begitu pentingkah konsep popularitas bagi masyarakat manusia?

Bila melihat usianya, tampaknya begitu.

Lihatlah, orang-orang gelisah bila tidak populer.

Para politikus, misalnya, mulai waswas ketika hitungan hari menjelang tahun politik 2014 semakin berkurang.

Mereka membentangkan baliho berukuran 4 x 10 meter di atas ruas jalan, bergambar wajahnya sendiri, komplet dengan jargonnya.

Takut tidak dikenali publik?

Mungkin.

“Narsis”?

Orang kebanyakan mengatakan begitu.

Ketenaran, di satu sisi, memang begitu dekat dengan narsistik, melekat pada individu meski ini fenomena sosial dan mesti dipahami dalam konteks kolektif.

Kian banyak orang mengacungkan jempol, kian populer.

Ketenaran, di era Internet, tidak lepas dari desain.

Popularitas dirancang melalui iklan cetak, berita televisi, reklame baliho dan spanduk, media sosial, web dan blog, hingga buku.

Di dalamnya terbentuk jejaring yang kompleks dan melibatkan banyak pihak: jurnalis, stasiun TV, penyedia jasa cetak baliho, staf humas, Twitter-wan/Twitter-wati, penulis bayangan, hingga lembaga survei.

Meminjam actor-network theory, popularitas dikonstruksi dengan melibatkan jejaring kompleks agar tertanam dalam benak publik.

Ketenaran juga dikonstruksi secara sosial sebagai ukuran dalam pengambilan keputusan: jika popularitas politikus ini tinggi, ia layak menjadi calon presiden, gubernur, bupati, dan lain sebagainya.

Lewat jejaring, popularitas menjalar bagai virus yang hinggap dari satu benak ke benak lain.

Persepsi dipermainkan.

Di dunia hiburan—yang tidak selalu menghibur, sebab di televisi si penghibur sibuk membersihkan timbunan bedak dari wajahnya—ketenaran juga menjadi ukuran.

Peringkat jeblok, acara dicopot.

Mutu hiburan menjadi tidak penting.

Penampilan Burger Kill rasanya lebih bernas dan pro-sosial ketimbang lempar-lemparan bedak.

Namun begitulah ketenaran dibangun.

Tatkala ketenaran jadi standar kesuksesan, menjadi tenar adalah satu-satunya pilihan.

Virus popularitas ini menjalari nyaris setiap sudut kehidupan sosial, menular dengan cepat dan meninggalkan muatannya terseok-seok di belakang.

Kepemimpinan lantas disamakan dengan popularitas.

Bayangkanlah, apa yang terjadi bila pemilihan umum direduksi menjadi kontes popularitas.

Orang senang jadi populer dengan menumpuk kekayaan, berjoget setiap hari, tertawa-tawa di kursi pesakitan, beradu kata di koran, TV, serta media sosial, atau meluncur dengan Ferrari di jalur Transjakarta dan dikawal mobil polisi.

Seorang artis jadi populer lantaran senang membikin keributan, dan publik senang membicarakannya.

Agresi menjadi jalan untuk populer.

Di titik itulah, popularitas kian cenderung antirasionalitas.

Tatkala popularitas kian jadi yang terpenting, orang semakin kehilangan nalar.

Individu maupun publik mengabaikan rasionalitas dan bersama-sama menikmati popularitas: dunia sudah ruwet, Bung, jangan ambil pusing!

Jadi, berapa peringkat kita hari ini?

Sumber : Kolom/ artikel Tempo.co