Urgensi Pemilu Indonesia Bagi Masa Depan Bersama

0
5 views

Oleh Peter Holmgren

Garut News ( Kamis, 10/04 – 2014 ).

Ilustrasi. Mencoblos Pileg 2014 di Lapas Garut, Jabar, Rabu (09/04-2014). Foto : John Doddy Hidayat.
Ilustrasi. Mencoblos Pileg 2014 di Lapas Garut, Jabar, Rabu (09/04-2014). Foto : John Doddy Hidayat.

Ketika rakyat Indonesia mendatangi tempat pemungutan suara pekan ini, dan sekali lagi beberapa bulan nanti, mereka tengah membuat keputusan yang akan mempengaruhi masa depan negara bagi generasi berikutnya.

Lebih dari itu, mereka membuat keputusan yang akan mempengaruhi masa depan Asia Tenggara, dan bahkan dunia.

Mari kita tempatkan pemilihan umum Indonesia dalam konteks global.

Dalam 18 bulan ke depan, PBB tengah menyelesaikan dua proses agenda masa depan bersama.

Pada bulan Desember 2015, negara-negara bersiap mengadopsi kesepakatan iklim menyeluruh pengganti Protokol Kyoto.

Proses penyusunan agenda pembangunan pasca-2015 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) berlangsung secara paralel.

Inilah urgensi pemilu, mengingat meningkatnya peran Indonesia di panggung dunia.

Ilustrasi. TPS 13 RSU dr Slamet Garut, Jabar. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. TPS 13 RSU dr Slamet Garut, Jabar. (Foto: John Doddy Hidayat).

Negara ini dapat mengklaim beberapa keunggulan.

Indonesia adalah negara dengan penduduk terbanyak keempat.

Indonesia menempati peringkat ketiga luas area hutan hujan.

Indonesia merupakan produser minyak sawit terbesar.

Indonesia merupakan kekuatan ekonomi terbesar Asia Tenggara.

Indonesia adalah pengemisi gas rumah kaca ketiga terbesar dunia.

Indonesia juga memiliki keragaman hayati tertinggi kedua.

Dan banyak lagi.

Sementara, para pakar dunia memprediksi dalam sepuluh tahun ke depan, Indonesia akan menjadi salah satu negara ekonomi teratas di dunia.

Apakah prediksi itu benar, dan bagaimana caranya, akan dipengaruhi oleh keputusan pemerintah mendatang.

Keputusan yang dibuat negara seukuran ini mau tidak mau mempengaruhi seluruh dunia dan masa depan bersama.

Walaupun negara sebesar ini secara alamiah juga menghadapi tantangan sama besarnya.

Meningkatnya kesejahteraan berarti meningkatnya kelas menengah, berarti pula ada pergeseran aspirasi, ekspektasi dan kesadaran terhadap masalah yang lebih luas.

Masalah mendesak saat ini, seperti ketahanan pangan, keamanan bahan bakar, pemberantasan kemiskinan dan adaptasi perubahan iklim, akan terus ada dan meningkat intensitasnya.

Pemerintah Indonesia berikutnya akan bertanggung jawab membuat dan mengimplementasikan rencana nasional untuk mencapai tujuan-tujuan ini lebih jauh.

Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan arah “pertumbuhan hijau” dan mengajak negara lain melakukan hal yang sama.

Transisi Indonesia menuju ekonomi hijau merupakan bagian dari fenomena global – sebagian mengatakan hal ini akan menjadi perubahan mendasar seperti Revolusi Industri.

Bagi Indonesia, langkah ini membutuhkan ambisi, visi dan keberanian, mengingat secara tradisional perekonomiannya terikat pada ekstraksi sumber daya alam.

Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), berpusat di Bogor, telah melakukan riset ekstensif di Indonesia serta di negara berhutan tropis lain dunia.

Kami melihat peluang besar pemerintah di semua negara untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan dan mengatasi masalah mendesak dengan mengubah pendekatan terhadap pemanfaatan lahan mereka.

Semakin jelas bahwa temuan solusi berkelanjutan mengharuskan kita berhenti melihat hanya satu elemen pada lanskap – hutan, peternakan, hunian, tambang – secara terpisah.

Melangkah maju memerlukan pendekatan terintegrasi dan holistik mengingat setiap elemen berpengaruh, dan dipengaruhi, oleh yang lain.

Hal yang sama, menemukan jalan menuju masa depan berkelanjutan mengharuskan semua pemangku kepentingan dalam lanskap menjadi bagian diskusi – pejabat tinggi, pengambil kebijakan senior, kementerian pusat, LSM dan masyarakat.

Untuk alasan inilah, kami di CIFOR mengajak seluruh perwakilan kelompok, dari beragam sektor dan semua negara ASEAN, berkumpul bersama di Konferensi Tingkat Tinggi Forests Asia di Jakarta pada bulan Mei.

Dunia berubah, demikian juga Indonesia.

Kami melihat perubahan besar tentang bagaimana pendekatan pemerintah terhadap pemanfaatan lahan.

Pemimpin-pemimpin di manapun memahami bahwa kita tidak bisa terus bertindak seperti ini, oleh karena itu mereka bekerja sama menuju masa depan bersama.

Pemerintah dan Presiden Indonesia mendatang akan menjadi bagian tersebut.

Peter Holmgren adalah Direktur Jenderal Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR). Kompas.com adalah media mitra Konferensi Tingkat Tinggi Hutan Asia.

******

Kompas.com.