Upaya Mengatasi Kekeringan

0
137 views

Garut News ( Jum’at, 24/10 – 2014 ).

Ilustrasi. Garut, Jawa Barat, juga Diranggas Kemarau. (Foto : John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Garut, Jawa Barat, juga Diranggas Kemarau. (Foto : John Doddy Hidayat).

Kekeringan nyaris setiap tahun melanda banyak daerah, tetapi respons pemerintah selalu bersifat ad hoc. Tak ada ikhtiar serius dan sistematis mencegah, setidaknya mengurangi, dampak buruk akibat musim kemarau panjang.

Bencana berlangsung sekitar dua bulan itu dialami penduduk di banyak wilayah. Daerah masih dekat dengan Ibu Kota, seperti Kabupaten Bogor, juga tak luput dari masalah rutin ini.

Pemerintah setempat bahkan menetapkan status siaga darurat kekeringan di 62 desa yang tersebar di 17 kecamatan, sejak 1 September lalu.

Keadaan serupa terjadi di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, hingga Nusa Tenggara Timur. Bencana ini tak patut disepelekan lantaran, di sejumlah provinsi itu, lebih dari separuh wilayahnya mengalami kekurangan air.

Jika tak segera diatasi, dampaknya bakal serius, dari merebaknya masalah kesehatan hingga kekurangan pangan.

Pemerintah pusat dan daerah seharusnya membantu meringankan penderitaan penduduk dilanda bencana.

Di Bojonegoro, Jawa Timur, misalnya, ancaman gagal panen dan kekurangan pangan mulai membayangi sebab aliran air Sungai Bengawan Solo dan debit air Waduk Pacal terus menyusut.

Dengan kondisi semacam itu, hanya sedikit lahan sawah bisa diairi. Dalam keadaan normal, Waduk Pacal mampu mengairi 12 ribu hektare area pertanian.

Di Desa Hoi, Kecamatan Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, problem kesehatan bakal muncul serius.

Di sini sedikitnya 283 keluarga terpaksa meminum air dari kubangan ternak karena tak ada air bersih.

Bencana seperti itu selalu terulang setiap tahun, namun tak pernah ada upaya mengatasi persoalan ini dengan lebih serius dan mendasar.

Apa dilakukan selama ini hanya hal-hal berikut ini: mengirim truk tangki air, membagikan jeriken, dan membangun bak penampungan air berukuran besar.

Hanya sedikit wilayah menyiapkan solusi jangka panjang. Misalnya Jawa Timur, kini merancang pemasangan pipa dan membikin sumur bor.

Namun langkah ini baru dilakukan pada periode kedua jabatan Gubernur Soekarwo.

Pembangunan sumur bor memang menjadi salah satu alternatif patut dilakukan. Juga di banyak daerah. Penggalian sumur sekurang-kurangnya sedalam 25 meter guna menjangkau air tanah dalam.

Karena posisinya terletak di antara lapisan kedap air jauh di bawah tanah, air ini tetap bisa digunakan pada musim kemarau.

Namun, untuk menjalankan solusi sederhana ini, belum banyak daerah melakukannya.

Langkah lain lebih ramah lingkungan sebenarnya pernah dirumuskan pemerintah sendiri, seperti membangun atawa memelihara jaringan irigasi, menjaga lingkungan hidup, dan merawat wilayah konservasi air.

Tetapi semua upaya itu hanya bagus di atas kertas. Pemerintah pusat dan daerah umumnya lebih suka mengantisipasi masalah kekeringan seperti halnya saat menghadapi banjir: merespons secara instan.

*******

Opini/Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here