Upaya Meneroriskan Muhammadiyah

0
23 views
Logo Muhammadiyah di Masjid At-Taqwa, kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Jumat (27/6) malam. (Foto: Republika/Yasin Habibi).

Sabtu 02 Juni 2018 08:19 WIB
Red: Elba Damhuri

“Kiai Dahlan mengajarkan warga Muhammadiyah berpikir terbuka dan kritis”

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Arif Jamali Muis, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY

Logo Muhammadiyah di Masjid At-Taqwa, kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Jumat (27/6) malam. (Foto: Republika/Yasin Habibi).
Akhir-akhir ini berita tentang teroris yang dikaitkan dengan Muhammadiyah begitu marak di media massa, terutama media sosial. Entah disengaja atau tidak, para penganut “ideologi maut” itu dikaitkan dengan persyarikatan Muhammadiyah.

Lihatlah salah satunya pemberitaan di satu situs Islam yang mengkutip pendapat pengamatan terorisme Muhammad In’am Amin bahwa mantan napiter 99 persen memiliki background Muhammadiyah. Baik dari latar belakang alumni sekolah Muhammadiyah maupun keluarga Muhammadiyah.

Lalu ramai-ramai orang mengatakan ada yang salah dari model pendidikan Muhammadiyah. Atau ideologi Muhammadiyah memang menyumbang bagi munculnya kekerasan atas nama agama.

Narasi-narasi itu bermunculan seakan-akan memang diproduksi untuk menyatakan Muhammadiyah memerlukan program deradikalisasi dan perubahan mendasar dalam pemahaman agamanya, baik di lembaga pendidikannya maupun secara luas organisasinya.

Bagi yang pernah merasakan pendidikan Muhammadiyah tentu merasa aneh dengan kesimpulan yang mengaitkan para terorisme dengan hasil lembaga pendidikan Muhammadiyah, logika yang terlalu dipaksakan.

Kultur berpikir

Muhammadiyah mendirikan lembaga pendidikan dari PAUD hingga perguruan tinggi, adalah cara dakwah untuk mencerdaskan anak bangsa. Karakter yang selalu muncul sejak KH Ahmad Dahlan mendirikan sekolah di Kauman selain menanamkan nilai-nilai keislaman adalah mengajarkan para siswanya berpikiran kritis dan terbuka. Cara berpikir inilah yang juga menjadi ciri khas warga Muhammadiyah.

Lihatlah KH Dahlan menjawab pertanyaan santrinya apa itu agama. Jawaban KHA Dahlan dengan meminta santrinya memainkan biola. Tentu nada yang dihasilkan tidak baik karena santrinya tidak bisa memainkan biola. Lalu Kiai Dahlan memainkan biola dengan baik yang menghasilkan nada yang merdu dan nikmat. Kata Kiai Dahlan, itulah agama. Jika kita memahaminya akan menghasilkan suasana yang damai dan merdu. Tetapi jika kita tidak memahami agama akan menghasilkan suasana yang gaduh dan tidak menyenangkan.

Kiai Dahlan ingin mengajak santrinya berpikir kritis bukan hanya doktrin dan mengikuti definisi sang Kiai belaka. Kisah lain untuk menggambarkan Kiai Dahlan mengajarkan warga Muhammadiyah berpikir terbuka, pada suatu acara dia mengundang tokoh perempuan Komunis (PKI) untuk berceramah di hadapan warga Muhammadiyah.

Selesai ceramah ada warga Muhammadiyah yang protes mengapa tokoh komunis diundang di pengajian Muhammadiyah. Kiai Dahlan menjawab mereka yang dianggap salah dan tidak mengakui Tuhan saja penuh semangat dan rapi dalam memperjuangkan keyakinan meraka, kita yang berlandaskan Alquran harusnya lebih semangat lagi.

Ambil yang baiknya untuk kita contoh dan tinggalkan yang buruknya. Betapa Kiai Dahlan ingin mengajarkan kepada warga Muhammadiyah untuk berpikir terbuka, menerima kebaikan dan kebenaran dari siapa pun bahkan dari seorang komunis yang tidak mengakui Tuhan.

Budaya berpikir kritis dan terbuka tersebut sampai saat ini menjadi ciri khas warga Muhammadiyah, termasuk di lingkungan pendidikan Muhammadiyah. Ribuan sekolah dari PAUD hingga perguruan tinggi Muhammadiyah di seluruh Indonesia menanamkan cara berpikir kritis dan terbuka ini. Sehingga alumni lembaga pendidikan Muhammadiyah berbagai macam warna dan corak pemikiran.

Kita bisa menyebut seperti Budiman Sujatmiko alumnus SMA Muhammadiyah I Yogyakarta, yang mendirikan PRD, hingga saat ini aktif di PDIP dan menjadi anggota DPR RI, Ebiet G Ade seniman senior, dan sang sutradara Hanung Bramantyo. Atau kalau kita tarik jauh ke belakang ada Sukarno yang ingin jenazahnya diselimuti bendera Muhammadiyah, Panglima Besar Sudirman, hingga Soeharto yang mengaku hasil didikan sekolah Muhammadiyah.

Masih ada lagi ribuan guru, dosen, ilmuwan hasil didikan lembaga pendidikan Muhammadiyah. Cara berpikir yang kritis dan terbuka itulah yang menghadirkan diaspora alumni lembaga pendidikan Muhammadiyah dengan berbagai macam cara melihat dunia ini.

Menafikan data di atas bahwa hasil didikan lembaga pendidikan Muhammadiyah jauh lebih banyak menampilkan profil alumni yang baik dan hanya menyoroti bahwa terorisme berlatar belakang Muhammadiyah. Kita patut curiga ada unsur kesengajaan untuk menyudutkan Muhammadiyah, dengan memframing di media bahwa bibit terorisme muncul di Muhammadiyah, entah apa kepentingan melakukan framing tersebut.

Adil sejak dalam pikiran

Para peneliti, pengamat, ilmuwan, pengambil kebijakan, atau siapa pun harus adil dan jernih dalam melihat persoalan terorisme ini. Tidak hanya untuk tidak asal menuduh, tetapi juga berguna untuk mencari penyelesaian yang komprehensif.

Melihat hanya dari satu sisi dengan menafikan data di sisi lain akan mengakibatkan sesat pikir dan menjadikan suasana semakin tidak kondusif. Apalagi, kemudian itu menjadi kesimpulan yang absolut. Ada logika yang problematis dalam mengambil kesimpulan hubungan Muhammadiyah dan terorisme.

Cara berpikir bahwa latar belakang para terorisme adalah Muhammadiyah, Islam, dan Indonesia maka Muhammadiyah, Islam, dan Indonesia adalah sarang terorisme, sungguh sesat pikir yang menjerumuskan kita ini dalam tindakan yang salah juga.

Logika sesat ini sama halnya dengan mengatakan para koruptor berlatar belakang perguruan tinggi negeri maka perguruan tinggi negeri menjadi sarang dan mengajarkan bagaimana melakukan korupsi. Sekali lagi ini cara berpikir yang sangat sesat dan berbahaya untuk diframing apalagi jika dijadikan landasan bagi pengambil kebijakan di negeri ini.

Dalam menganalisis fenomena terorisme kita harus adil sejak dalam pikiran, agar menemukan hasil yang jernih dan komprehensif. Jangan ada prasangka apalagi merekayasa untuk menunjukkan sesuatu yang sudah diinginkan. Letakkan semua prasangka, hadirkan semua data, analisis yang mendalam tidak hanya sesaat dan sekarang saja tapi terobos ke dalam relung sejarahnya.

Dengan begitu, kita akan mendapatkan hasil yang dapat menjelaskan secara jernih fenomena terorisme ini, sehingga langkah – langkah pencegahan dan pemberantasannya bisa dilakukan oleh semua pihak.

Refleksi bagi Muhammadiyah

Bagi Muhammadiyah, ada pelaku terorisme yang berlatar belakang atau alumni lembaga pendidikan Muhammadiyah tentu tidak akan ditolak. Itu realitas, yang bisa dijadikan alat evaluasi. Pimpinan Muhammadiyah harus sadar bahwa ada segelintir alumninya yang menjadi teroris, tetapi itu bukan arus utama. Arus utamanya adalah dengan paham agama Islam, Muhammadiyah sudah banyak berbuat untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Para pimpinan Muhammadiyah, aktivis organisasi otonomnya perlu lebih gencar lagi menanamkan ke anggota dan warga Muhammadiyah tentang paham agama sesuai dengan Muhammadiyah memahami Islam, yaitu Islam yang berkemajuan. Dengan budaya berpikir kritis dan terbuka, dengan landasan pemahaman Islam yang berkemajuan ditopang lembaga amal usaha, baik pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi yang berkualitas, insya Allah Muhammadiyah akan menjadi leader dalam memajukan bangsa ini. Walahu’alam bi shawab.

********

Republika.co.id