Universitas

by

Garut News ( Rabu, 26/02 – 2014 ).

Ilustrasi. Rumah Susun Sewa Mahasiswa di Garut, yang Belum Maksimal Dimanfaatkan. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Rumah Susun Sewa Mahasiswa di Garut, yang Belum Maksimal Dimanfaatkan Sesuai Peruntukan. (Foto: John Doddy Hidayat).
Selama lebih dari setengah abad, mungkin tak lebih dari 50 orang yang pernah datang ke ruang di Pod vodrenskou vezi 4 di Kota Praha itu.

Sejak tahun 1958, di sana tersimpan 315 jilid kitab suci dari Tibet, bagian dari perpustakaan Pusat Studi Dunia Timur di Republik Cek itu.

Tapi sebenarnya tak jelas adakah di sana Tibetologi diminati secara luas, dan apa pula manfaatnya bagi bangsa yang jutaan kilometer terpisah dari Asia itu.

Tapi “manfaat” adalah kata yang tak selamanya pantas dipakai.

Seorang filosof Cina tiga abad sebelum Masehi pernah dikutip mengatakan, “Orang semua tahu manfaatnya hal yang bermanfaat, tapi mereka tak tahu manfaatnya hal yang tak bermanfaat.”

Simon Leys mengingatkan kita akan kearifan Zhuang Zi itu dalam kumpulan esainya yang asyik dan pintar yang ia beri judul (tentu saja) The Hall of Uselessness.

Leys berbicara tentang universitas-sebuah lembaga yang di mana saja didirikan dengan pengharapan yang muluk.

Tapi, bagi Leys, itu juga lembaga yang seharusnya bebas dari kata “manfaat”.

“Kegunaan yang tertinggi dari universitas,” tulis Leys, “terletak pada apa yang oleh dunia dianggap sebagai ketidakbergunaannya.”

Bisa kita bayangkan Menteri Pendidikan, para anggota parlemen yang mengurus anggaran sekolah tinggi, serta orang tua yang mengidamkan anaknya lulus dan punya karier yang tajir di perusahaan ternama akan terenyak merenungkan paradoks itu: universitas itu penting untuk dilihat sebagai sesuatu yang tak berguna.

Soal ini soal lama, sebab Leys bukan orang pertama yang mengemukakannya.

Lebih terkenal lagi Kardinal Newman.

Rohaniwan ini pada 1854 menjadi Rektor Catholic University of Ireland.

Empat tahun kemudian, setelah pensiun, ia menerbitkan kuliah-kuliahnya dalam The Idea of a University: sebuah karya klasik yang mempertahankan prinsip bahwa “pengetahuan mampu menjadi tujuannya sendiri”.

Dengan itu, Newman menegaskan universitas sebagai dunia keilmuan yang tak dilecut prinsip “semua-mesti-mengandung-guna”, semangat utilitarianisme yang menganggap bahwa yang “tak berguna” sama dengan “tak bernilai”.

Kita ingat 315 jilid kitab suci kuno dari Tibet yang dirawat terus di perpustakaan yang tak mencolok di Kota Praha itu: benda-benda yang tak pernah digugat buat apa, tapi selalu bisa ditelaah oleh seorang dua orang yang dalam kesendirian mereka mengerti, ada sebuah nilai lain dalam hidup.

Nilai lain itu adalah apresiasi kepada yang “baik”.

Kardinal Newman: “Meskipun yang berguna tak selalu berarti baik, yang baik selalu berguna. Baik tak sekadar baik, tapi mereproduksi kebaikan.”

Dengan pikiran seperti itulah Kardinal Newman menyatakan bahwa baginya lebih baik sebuah universitas yang tak mengajarkan apa-apa ketimbang sebuah universitas yang “menuntut para anggotanya agar kenal dengan setiap ilmu yang ada di bawah matahari”.

Artinya si mahasiswa harus bisa menggeluti pengetahuan-pengetahuan yang mencerdaskan dan membuka pikiran, tapi tak berguna.

Ia harus jadi seorang gentleman yang tak didera nafsu mendapat manfaat dari tiap geraknya.

Pendirian Newman juga tak baru.

Ia bagian dari sebuah polemik panjang yang berkecamuk di Inggris di masanya-dan berlanjut ke pelbagai penjuru dunia di masa ini.

Di sebuah ruang di University College London ada mumi yang disimpan di sebuah almari: sosok bertopi yang agak memelas dan sedikit mengerikan.

Tapi itulah jenazah Jeremy Bentham, filosof Inggris menjelang pertengahan abad ke-19, pelopor utilitarianisme.

Berdasarkan pemikirannya, The University of London didirikan sebagai perguruan tinggi yang berniat mengajarkan segala sesuatu yang berguna.

Bentham memperkenalkan asas chrestomathic.

Apa itu tak jelas, tapi umumnya ditafsirkan sebagai “cocok dan bagus untuk belajar yang berguna”.

Adapun “yang berguna” itu bisa luas sekali: dalam prospektus universitas itu dari tahun 1825, terbaca mata kuliah matematika, teknik, hukum, bahasa Hindustan, Sanskerta, ilmu ekonomi.

Mungkin ini ada hubungannya dengan kepentingan para pemegang saham yang mengongkosi universitas itu: para pejabat pemerintahan dan pengusaha yang berhubungan dengan kepentingan dagang di India.

Tapi semangat chrestomathic itu juga mencerminkan kepentingan kelas sosial yang makin agresif di Inggris-yang punya model yang berbeda dari gentleman ala Kardinal Newman.

Kelas ini tak ingin jadi priayi yang tinggal tenteram (dan merenung) di menara gading.

Zaman memang berubah. Kata-kata Flaubert, novelis Prancis pelopor realisme, menunjukkan perubahan itu: “Aku selalu mencoba hidup di sebuah menara gading, tapi gelombang tahi selalu menerpa dindingnya, mengancam akan mengguyahkannya.”

Di negeri-negeri yang lahir dari revolusi sosial dan politik, setelah kolonialisme, termasuk Indonesia, “menara gading” memang tak akan dibiarkan.

Dianggap dosa. Tapi bukan “gelombang tahi” yang mengguyahkan eksklusif itu, melainkan rasa keadilan, mendesaknya problem keterbelakangan yang harus dijawab, dan kehendak mengubah sejarah.

Tapi ada juga “gelombang tahi” yang lain, bernama komersialisasi.

Universitas bukan lagi tempat pengetahuan berproses.

Ia jadi pabrik tenaga yang mau serba praktis.

Ia jadi tempat orang berbelanja “keterampilan”.

Dalam tulisannya yang saya kutip di atas, Leys mengambil sikap.

Ketika universitas tempat ia mengajar menyebut mahasiswa sebagai “konsumen”, ia tahu itu saatnya ia harus mengundurkan diri.

Universitas memang akan guyah ketika ia jadi mall.

Goenawan Mohamad/ Tempo.co