Ujian Nasional: Antara Filosofi dan Sistem

0
40 views

Suyitno, peneliti Filsafat Pendidikan di Sekolah Jubilee, Jakarta

Garut News ( Rabu, 08/04 – 2015 ).

Ilustrasi. Hujan Angin Rubuhkan Pohon Depan Kelas. (Foto: John Doddy Hidayat).
Ilustrasi. Hujan Angin Rubuhkan Pohon Depan Kelas. (Foto: John Doddy Hidayat).

Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan menghimbau pendidikan agar senantiasa dibuat menyenangkan. Menurut dia, Ki Hajar Dewantara memandang pendidikan sebagai taman.

Sebagai taman, sekolah seharusnya menyenangkan, tempat anak-anak datang dengan senang hati dan pulang dengan berat hati. Sampai saat ini, beberapa aspek dari sistem dan praktek pendidikan kita masih menciptakan efek paranoia pada siswa.

Mereka melihat sekolah dan seluruh elemen yang ada di dalamnya sebagai sesuatu yang menakutkan. Guru yang tidak persuasif dan monologis, mata pelajaran yang angker, jadwal sekolah yang super padat, dan ujian kenaikan kelas atau kelulusan yang berwajah “lulus dari lubang jarum”.

Di beberapa daerah di Indonesia, datangnya ujian nasional (UN) kini tidak terlalu menciptakan efek paranoia bagi para siswa seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Sebab, sudah dilakukan beberapa perubahan seputar tujuan dan fungsi UN.

Meski demikian, masih diperlukan penyempurnaan karena perubahan itu masih jauh dari kata ideal.

Memang tak mudah untuk menciptakan sebuah horizon pendidikan yang ramah terhadap siswa. Butuh sebuah proses panjang untuk menghadirkan pendidikan sebagai sesuatu yang bisa disenangi siswa, bukan malah dihindari.

Ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di negara yang sudah maju aspek pendidikannya, formulasi pendidikan, termasuk mekanisme ujian, masih menimbulkan efek paranoia bagi siswa.

Variabel yang biasanya berkontribusi menghilangkan sisi kesenangan dari pendidikan adalah orientasi pada hasil akhir, bukan pada proses. Efeknya, sistem pendidikan yang dikonstruksi menempatkan anak didik sebagai obyek pendidikan, bukan subyek.

Mereka menjadi obyek karena secara tidak langsung dijadikan instrumen untuk meraih target (hasil akhir) yang ditetapkan. Di sinilah pendidikan bergeser dari spirit pembebasan menjadi pengekangan, dari visi perpintaran menjadi pembodohan.

Problem yang ada terletak pada hasil akhir yang dikonstruksi dalam bentuk sistem.

Namun bukan berarti sistem tidak diperbolehkan dalam pendidikan. Sebab, niscaya sistem dibutuhkan sebagai instrumen untuk mengoptimalkan potensi dan talenta anak didik. Logikanya sederhana: problem terletak pada filosofi kita dalam melihat, memposisikan, dan mempraktekkan sistem dalam pendidikan.

Dalam pendidikan, sistem harus dilihat, ditempatkan, dan diterapkan sebagai instrumen pendidikan, di mana anak didik berposisi sentral sebagai subyek, bukan obyek. Jadi, sistem tidak berada “di atas” anak didik, melainkan “di bawahnya” (sebagai instrumen saja).

Kesalahan sistem pendidikan kita selama berpuluh-puluh tahun adalah kesalahan filosofis dalam melihat, memposisikan, dan mempraktekkan sistem. Akibatnya, ruh pendidikan terjebak di dalam “badannya” (sistemik) yang sempit.

Jika kita mengacu pada filosofi ilmu itu sendiri, pendidikan akan menemukan fungsi otentiknya jika hadir secara ramah sebagai sebuah kesenangan dan kebutuhan, bukan tekanan dan paksaan. Sistem pendidikan sangat diperlukan, sehingga tak boleh ditelantarkan.

Menciptakan sebuah sistem pendidikan yang selaras dengan filosofi ilmu sebagai sebuah kebutuhan dan kesenangan merupakan tantangan terberat. *

********

Kolom/Artikel Tempo.co